Jasmine menarik napas. Duduk di samping suaminya. “Aku pengen kamu lihat seseorang. Pasienku yang baru… dia aneh, Mas. Setiap kali aku ngobrol sama dia, aku ngerasa seperti…” Raffa mengangkat alisnya. “Seperti apa?” Jasmine menunduk, suaranya melembut. “Seperti aku lagi bicara sama anak kita. Tatapannya, caranya jawab, bahkan suaranya. Semua terasa… familiar banget.” Raffa menutup laptop perlahan. Menatap istrinya dengan lembut. “Sayang, kamu masih nyari dia, ya? Aku tahu kamu belum bisa benar-benar berhenti….” Jasmine menghela napas. “Gimana bisa berhenti, Mas? Aku masih inget jelas wajahnya waktu kecil. Dan gadis ini… entahlah, setiap aku lihat dia, hatiku berdebar. Kayak naluri seorang Ibu yang kenal anaknya sendiri.” Raffa menggenggam tangannya. “Aku ngerti. Tapi kamu yakin

