Di kamar rawat yang sunyi, Aurora menggenggam ujung selimut dengan tangan kirinya. Tangan kanannya yang masih dibalut perban tebal akibat luka tusuk berada di atas meja samping tempat tidur. Tepat di sampingnya, ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar membuat napasnya tercekat. Nenek. Panggilan masuk. Berdering lama. Hatinya langsung mencelos. Ia ingin sekali mengangkatnya. Ia ingin berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi kenyataannya tidak. Dan ia tahu… Begitu Nenek mendengar suaranya yang lemah, Nenek pasti akan langsung panik. Ia menggigit bibir. “Maaf, Nek… Jangan khawatir,” gumamnya pelan. Meski ia tahu justru ketidakjawabannya akan membuat Nenek semakin resah. Jemarinya nyaris menyentuh layar. Namun akhirnya ia menariknya kembali. Ia tidak sanggup. Ponsel it

