Berbaring di ranjang rumah sakit yang masih beraroma antiseptik. Aurora terbangun dengan napas pelan dan kepala sedikit pening. Lampu ruangan yang redup membuat bayang-bayang jatuh lembut di dinding. Sementara denyut nyeri di telapak tangannya kembali terasa perih, menusuk. Seperti mengingatkannya pada kejadian yang baru saja menimpanya. Luka bekas tusukan yang dibalut perban tebal itu tampak sedikit bergetar ketika ia menggerakkan jarinya. Ia menoleh perlahan, dan di sanalah ia melihat seseorang yang tampaknya belum berpindah sejak semalam. Seorang kakak kelas laki-laki yang sejak awal menemukannya dan menolongnya. Tubuhnya sedikit membungkuk di kursi, kepala tertunduk, napas teratur. Tertidur karena kelelahan. Masih mengenakan jaket kampus. Wajahnya terlihat letih namun lega. Seolah ia

