Raffa bangkit dari kursinya dan mendekati Dokter Jasmine. Lalu menggenggam kedua bahunya dengan lembut namun mantap. “Sayang… Hei, hei. Lihat aku dulu.” “…Ya.” “Aku tahu kamu khawatir. Tapi kamu harus tenang. Kita belum tahu apa-apa. Telepon tidak diangkat belum tentu kenapa-kenapa. Bisa saja dia masih tertidur atau baterai handphonenya habis.” Dokter Jasmine menarik napas panjang. Mencoba menstabilkan dirinya. Tubuhnya masih terasa dipenuhi gelombang kecemasan yang datang dan pergi tanpa pola. Tapi sentuhan suaminya setidaknya memberi pijakan kecil untuk berdiri kembali. “Kamu tidak bisa menarik kesimpulan dari firasat saja. Kita cari kabarnya pelan-pelan, oke?” “Aku… Aku akan mencobanya.” Dokter Jasmine menunduk, menekan ponsel di tangannya erat-erat. Kemudian melepaskan napas pan

