Aurora menarik napas panjang ketika langkahnya melewati gerbang rumah Dokter Jasmine. Malam itu sunyi, hanya suara angin pelan yang menggerakkan dedaunan. Tapi di d**a Aurora, semuanya terasa bising. Campuran gugup, lega, dan harapan yang sudah lama ia pendam. Pintu depan terbuka sebelum Aurora sempat mengetuk. “Masuk, sayang… Kamu pasti capek,” ucap Jasmine lembut. Aurora terpaku. Kata sayang itu membuat dadanya menghangat. Seakan membenarkan sesuatu yang selama ini kosong. Di ruang tamu, seorang pria berpenampilan rapi berdiri dan tersenyum. Raffa, suami Jasmine melangkah mendekat. “Hai, Aurora,” ucapnya ramah. “Mulai malam ini, anggap rumah ini rumahmu juga.” Aurora mengangguk ragu. Tapi hatinya meleleh sedikit demi sedikit. Tidak ada ancaman, tidak ada omelan. Hanya tatapan pen

