Aurora terdiam lama. Air matanya jatuh tanpa suara. Mengalir di pipinya yang pucat. Ia mencoba berbicara, tapi suaranya nyaris tidak terdengar. “Jadi… saya kehilangan beasiswa karena saya berobat, Pak?” Tidak ada yang menjawab. Sebagian Dosen menunduk. Tak sanggup menatapnya. Dosen perempuan yang tadi membelanya menatap Rektor dengan pandangan tajam penuh kecewa. Tapi tetap diam karena tahu keputusan itu sudah final. Aurora akhirnya berdiri. Memeluk tasnya erat, dan membungkuk sopan. “Terima kasih atas waktunya, Pak.” Suaranya bergetar, nyaris pecah. Aurora melangkah keluar perlahan. Meninggalkan ruangan yang masih diliputi keheningan. Di dalam, beberapa Dosen masih terlihat resah. Sementara Rektor hanya menatap meja kosong di depannya m. Wajahnya datar, tapi di matanya tersisa sedi

