Tanpa pikir panjang, Aurora melangkah maju dan memeluk Gresa erat-erat. Tangannya gemetar, suaranya pecah di antara isak yang akhirnya tak bisa ia tahan lagi. Gresa membalas pelukan itu. Menepuk punggungnya perlahan. Seolah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski kata-kata sulit diucapkan. Dalam pelukan itu, waktu terasa berhenti. Tidak ada nasihat, tidak ada solusi. Hanya kehangatan dan kehadiran yang tulus. Air mata jatuh di bahu Gresa. Tapi pelukan itu justru menenangkan. Seperti tempat paling aman di dunia bagi hati yang sedang rapuh. ”Sebenarnya apa yang sedang terjadi sama lu, Ra? Cerita sama gue. Gue siap dengerin semua cerita lu.” Aurora menjauhkan tubuhnya. Kini mereka berdua duduk di bangku taman itu. ”Jadi ceritanya...” Aurora pun menceritakan semua yang

