Tidak lama kemudian sahabat perempuan Aurora datang ke rumah dengan langkah kecil yang gugup. Membawa dua kantong besar berisi makanan. Sup hangat, roti lembut, minuman favorit Aurora, dan beberapa camilan yang selalu mereka makan bersama saat belajar. Sepanjang perjalanan, ia terus menghela napas. Berharap kedatangannya tidak terlambat untuk menebus rasa bersalah yang sejak malam itu menghantui pikirannya. Begitu pintu dibuka oleh Nenek Aurora, ia langsung tersenyum kecut dan menundukkan kepala sopan. “Maaf, Nek… Aku mau menjenguk Aurora, boleh?” ucapnya pelan. “Tentu saja boleh dong, Nak. Ayo silahkan masuk.” “Terima kasih, Nek.” Neneknya Aurora mempersilakan masuk. Ruang tamu terasa tenang. Hanya suara kipas yang berputar pelan dan aroma obat dari perban Aurora yang tercium samar.

