"Bagaimana keadaanmu?" "Saat ini aku sudah merasa jauh lebih baik berkat Mbak Jenar," kata Lyra. "Terima kasih banyak sudah membantuku dan Mbak Kinarsih." Jenar menganggukkan kepala seraya tersenyum kecil. "Kalau boleh tahu, apa benar kamu istri Tuan Dewangga?" Pertanyaan Jenar itu membuat hati Lyra berdenyut sakit. Membayangkan bahwa dirinya pernah menjadi istri Dewangga terasa memuakkan. Semua hal indah yang pernah Lyra rasakan ketika bersama dengan Dewangga kini berubah menjadi kenangan pahit yang menyakitkan. "Benar," jawab Lyra lirih dengan rasa pilu. "Mbak Kinarsih bilang, Tuan Dewangga menyiksamu hingga seperti ini?" tanya Jenar lagi menatap Lyra dengan sorot mata kasihan. "Iya. Mas Dewangga berniat untuk membunuhku," kata Lyra. "Beruntungnya aku masih bisa kabur dan selamat m

