BAB 1: Tamu di Tengah Hujan
Suara rintik hujan menghantam kaca jendela apartemen lantai 15 itu dengan irama yang monoton, seolah-olah alam sedang berusaha membisikkan sebuah peringatan yang enggan didengar oleh Arini. Di dalam ruangan, aroma lilin aromaterapi vanila bercampur dengan bau maskulin dari parfum Aris, suaminya. Semuanya tampak sempurna, atau setidaknya, Arini selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa hidupnya memang sesempurna itu.
Arini berdiri di depan cermin besar di kamar mandi, merapikan gaun tidurnya yang berbahan sutra tipis berwarna krem. Di usianya yang menginjak 28 tahun, kecantikannya sedang berada di puncaknya—matanya yang sayu namun tajam, kulit kuning langsat yang terawat, dan rambut hitam yang dibiarkan tergerai jatuh ke bahu. Malam ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Namun, Aris belum juga pulang.
"Hanya lembur sebentar, Sayang. Aku akan membawa kejutan," bisik suara Aris di telepon satu jam yang lalu.
Arini menghela napas, keluar dari kamar mandi menuju ruang tamu yang remang. Sebuah botol wine merah sudah terbuka di atas meja kayu jati, ditemani dua gelas kristal yang masih kosong. Ia baru saja hendak mendudukkan diri di sofa saat bel pintu berbunyi.
Ting-tong.
Arini tersenyum. Itu pasti Aris yang lupa membawa kartu aksesnya lagi, pikirnya. Ia melangkah ringan, membuka kunci pintu dengan perasaan berbunga-bunga.
"Selamat ulang tahun perkawinan, Say—"
Kalimatnya terhenti di tenggorokan. Sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah Aris.
Laki-laki itu tinggi, jauh lebih tinggi dari Aris. Bahunya lebar, dibalut kemeja hitam yang sedikit basah karena tempias hujan. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, dengan tatapan mata yang gelap dan intens—jenis tatapan yang seolah-olah bisa menelanjangi rahasia terdalam seseorang hanya dalam sekali lihat.
"Bimo?" suara Arini hampir berupa bisikan.
Bimo adalah sahabat terbaik Aris sejak masa kuliah.
Mereka bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda; Aris adalah sosok yang hangat, stabil, dan terprediksi, sementara Bimo adalah lambang dari keliaran, ambisi, dan pesona yang berbahaya. Arini selalu merasa tidak nyaman berada di dekat Bimo, bukan karena pria itu jahat, melainkan karena Bimo selalu menatapnya dengan cara yang membuat jantungnya berdegup tidak keruan.
"Halo, Arini. Maaf mengganggu malammu," suara Bimo berat dan serak, mengirimkan getaran aneh ke tengkuk Arini. "Aris memintaku datang. Dia... terjebak rapat darurat dengan investor dan ponselnya mati. Dia memintaku mengantarkan ini."
Bimo mengangkat sebuah kotak perhiasan beludru biru tua.
Arini merasa kekecewaan menghantam dadanya seperti godam. "Dia tidak pulang?"
"Dia akan pulang, tapi mungkin sangat larut. Dia tidak ingin kau menunggunya tanpa kepastian," Bimo melangkah selangkah maju, membuat Arini secara refleks mundur ke dalam apartemen.
"Boleh aku masuk? Di luar sangat dingin."
Arini ragu sejenak. Secara etika, tidak bijaksana membiarkan pria lain masuk saat suaminya tidak ada, terutama di malam yang seharusnya intim. Namun, ini Bimo. Sahabat Aris. Orang yang sudah mereka anggap keluarga.
"Tentu, silakan masuk. Maaf, aku sedikit kaget," ujar Arini sambil membuka pintu lebih lebar.
Bimo masuk, membawa serta aroma parfum kayu cendana dan hujan yang segar. Kehadirannya seolah langsung memenuhi ruangan yang tadinya terasa luas. Arini merasa mendadak kecil.
"Wine yang bagus," komentar Bimo saat melihat botol di meja. Ia meletakkan kotak perhiasan itu di samping gelas. "Kau tampak cantik malam ini, Arini. Terlalu cantik untuk diabaikan oleh seorang suami, bahkan untuk urusan bisnis sekalipun."
Arini tertawa hambar, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Aris sedang berjuang untuk masa depan kami, Bimo. Aku mengerti itu."
"Mengerti bukan berarti tidak merasa kesepian, bukan?" Bimo berbalik, menatap Arini tepat di matanya.
Ada keheningan yang menyesakkan di antara mereka. Arini merasa suhu di ruangan itu tiba-tiba naik. Ia bisa melihat butiran air hujan yang masih menempel di rambut hitam Bimo, jatuh perlahan ke kerah kemejanya yang terbuka dua kancing teratas.
"Aku akan mengambilkan handuk untukmu. Kau basah kuyup," kata Arini cepat-cepat, berusaha memutus kontak mata.
Ia pergi ke lemari linen, jantungnya berpacu. Kenapa Bimo harus datang sekarang? Dan kenapa Aris harus mengirimnya? Arini mengambil handuk putih bersih dan kembali ke ruang tamu. Bimo tidak lagi berdiri; ia duduk di sofa, bersandar dengan santai seolah itu adalah rumahnya sendiri.
"Ini," Arini menyodorkan handuk itu.
Saat Bimo mengambilnya, jari-jari pria itu sengaja atau tidak menyentuh jemari Arini. Sentuhan itu singkat, namun terasa seperti sengatan listrik yang menjalar hingga ke perut bawah Arini. Ia menarik tangannya dengan cepat.
Bimo tersenyum tipis, jenis senyum yang menyiratkan bahwa ia tahu persis efek yang ia berikan pada Arini. Ia mulai mengeringkan rambutnya, namun matanya tidak pernah lepas dari sosok Arini yang berdiri dengan gelisah.
"Aris pria yang beruntung," gumam Bimo sambil meletakkan handuk di bahunya.
"Sangat beruntung. Sayangnya, terkadang orang yang memiliki harta karun paling berharga justru menjadi yang paling lalai menjaganya."
"Apa maksudmu?" tanya Arini dengan nada bertahan.
Bimo berdiri, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Arini bisa mencium aroma maskulin yang memabukkan dari tubuh pria itu.
"Maksudku... jika aku adalah dia, aku tidak akan membiarkanmu sendirian di malam seperti ini. Aku tidak akan membiarkan wanita sepertimu hanya ditemani sebotol wine dan lilin yang akan padam."
Bimo mengangkat tangannya, jemarinya yang kasar namun hangat menyentuh helai rambut Arini yang jatuh di pipi, menyelipkannya ke belakang telinga. Gerakan itu begitu intim, begitu berani, hingga Arini merasa kakinya lemas.
"Bimo, jangan..." bisik Arini, namun ia tidak menjauh.
"Jangan apa, Arini? Jangan mengatakan yang sebenarnya? Atau jangan menunjukkan apa yang Aris lewatkan?"
Suara Bimo merendah menjadi bisikan godaan yang sangat dalam. Ia menunduk, wajahnya kini sejajar dengan wajah Arini. Arini bisa merasakan napas hangat Bimo di bibirnya. Dunianya seolah berputar. Ia tahu ini salah. Ini adalah sahabat suaminya. Ini adalah pengkhianatan yang bahkan belum dimulai.
Namun, di tengah kesepian malam itu, dan di bawah pengaruh tatapan Bimo yang menghanyutkan, Arini merasa pertahanannya yang selama lima tahun ini ia bangun dengan kokoh, mulai retak.
Tepat saat itu, kilat menyambar di luar, menerangi ruangan sekejap, memperlihatkan bayangan dua insan yang berdiri terlalu dekat di ambang batas yang berbahaya.
"Kau gemetar, Arini," bisik Bimo lagi, tangannya kini turun ke pinggang Arini, menariknya sedikit lebih rapat.
"Apakah kau takut padaku... atau takut pada apa yang kau inginkan sendiri?"
Arini tidak menjawab. Lidahnya kelu. Logikanya berteriak untuk mendorong Bimo pergi, namun tubuhnya—yang sudah lama merindukan perhatian yang membara—justru mengkhianatinya dengan bersandar pada d**a bidang pria itu.
Malam baru saja dimulai, dan rayuan itu mulai merayap masuk seperti racun yang terasa manis.