Menjelang pagi aku pulang dan aku melihat Anggia tertidur di sofa berselimut tebal dengan televisi masih menayangkan film kartun. Wajahnya masih pucat dan ketika ku pegang keningnya juga masih sedikit demam. “Nggi, pindah ke kamar!” Ucapku mencoba membangunkannya tapi gadis itu malah semakin meringkuk sambil merapatkan selimutnya. “Anggia! Pindah ke kamar.” Aku mencoba sekali lagi kali ini sambil menggoyangkan tubuhnya tapi gadis itu tidak bereaksi. Akhirnya aku memutuskan untuk menggendongnya dan memindahkan ke kamar. Ketika tubuhnya menempel di tubuhku bisa ku rasakan hawa panas dari tubunya. Dia masih lemah dan demam dan membayangkan tidak ada yang mempedulikannya di rumah membuatku semakin ingin menjeratnya dalam pernikahan karena perasaan iba. Lagipula mengenalnya beberapa saat ini