Langit malam tampak seperti kanvas hitam yang ditorehkan api. Dari kejauhan, suara ledakan bergema — bukan satu, tapi beruntun, memecah keheningan lembah Anggara. Api menjalar di antara pepohonan, membentuk jalur panas menuju arah kota bawah, markas tersembunyi Ouroboros. Di tengah kobaran itu, Rafael berdiri. Matanya berpendar merah keemasan. Aura di sekitarnya bergetar seperti pusaran badai, menggulung udara, melengkungkan cahaya. Jas hitamnya koyak di sisi kanan, tapi di bawahnya, urat-urat bercahaya tampak berdenyut mengikuti ritme napasnya. “Mulai malam ini,” suaranya datar, tapi bergema ke seluruh lembah, “Made Lowongan bukan lagi bayangan mereka. Aku yang akan memegang kendali atas semuanya.” Dari puncak bukit, drone-drone Ouroboros muncul serempak. Puluhan lalu ratusan. Matany

