Tujuh tahun telah berlalu sejak malam hujan yang menutup kisah keluarga Anggara dengan luka dan dusta. Rumah besar itu masih berdiri kokoh di lereng bukit, namun tak lagi seramai dulu. Banyak hal berubah—dari wajah-wajah yang menua, hingga dinding yang kini terasa dingin seperti menyimpan rahasia. Dani Anggara duduk di kursi kerjanya, menghadap jendela besar yang memperlihatkan taman yang basah oleh embun pagi. Rambutnya telah memutih sebagian, namun sorot matanya masih menyala. Di atas meja, ada sebuah foto lama—Rafael kecil dengan senyum polos, berdiri di antara dirinya dan almarhum istrinya. Jari Dani menyentuh bingkai itu pelan. “Tujuh tahun…” gumamnya lirih. “Jika kau masih hidup, Rafael, tunjukkan padaku bahwa darah Anggara tidak lahir untuk menjadi lemah.” Dan seolah menjawab do

