Mohon maaf karena bab 83 yang berantakan. Author akan segera menggantinya pada bab 84. Terima kasih. Lanjutan Bab 83 Malam itu, hujan turun tanpa jeda. Halaman rumah keluarga Anggara yang biasanya dipenuhi cahaya, kini hanya diterangi lampu taman yang berkedip lemah, seolah ikut menyaksikan kehancuran yang tak bisa dihindari. Dani Anggara berdiri di depan pintu utama dengan wajah merah padam, napasnya berat seperti orang yang baru saja berlari dari mimpi buruk. Di tangannya, selembar laporan medis Arman yang baru ia terima dari dokter keluarga, di mana itu adalah dokumen yang penuh kebohongan, tapi Dani belum tahu. “Keluar kau dari rumah ini, Rafael!” suaranya bergema keras, menembus hujan. Rafael muncul dari dalam rumah dengan wajah pucat dan mata yang tak lagi berani menatap ayahnya

