Bab 83. Kepura-puraan

991 Kata

Tujuh tahun lalu. Rumah Anggara masih berdiri megah di puncak bukit selatan kota—sebuah istana kaca dan baja yang menatap laut. Namun malam itu, seluruh lantai atas terasa sunyi seperti makam. Dani Anggara baru saja meninggalkan ruangan, membawa berkas-berkas hasil uji proyek Ouroboros generasi pertama. Dan di kamar di ujung koridor, seseorang duduk di kursi roda, tubuhnya tampak lemah, wajahnya pucat pasi. Arman Anggara. Tapi di balik semua itu—di balik selang oksigen dan napas tersengal—ada mata yang hidup, penuh hitungan dan kehendak yang dingin. Ia mendengar langkah kaki pelan mendekat. Seorang remaja laki-laki muncul di ambang pintu, menunduk sopan. “Paman Arman,” sapa Rafael dengan suara canggung. “Ayah menyuruhku membawakan obat malam Anda.” Arman menatap bocah itu lama. Waja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN