Bab 82. Bayangan dalam Kabut

1032 Kata

Hujan masih terus mengguyur kota, tapi di distrik pelabuhan timur, seseorang berdiri di atap gudang tua yang sudah lama ditinggalkan. Mantel hitamnya berkibar ditiup angin, matanya menatap tajam ke arah gedung Anggara Buildings yang menjulang tinggi di kejauhan. Gedung megah yang menjulang seperti menara raksasa yang menantang langit. Dialah ... Rafael Anggara yang sudah kembali dari masanya menjadi Maxime Leonard. Namun, Rafael yang sekarang bukan lagi Rafael yang dulu. Bukan bocah lemah yang diusir dari rumahnya tujuh tahun lalu dengan hanya satu tas dan hati yang remuk. Dia yang berdiri adalah Rafael yang sudah melewati neraka Fernandez, yang bertahan di jalanan penuh darah, yang belajar bagaimana api sejati tidak datang dari amarah, tapi dari kehampaan yang dipaksa untuk terus bernap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN