DOR! Asap tipis mengepul dari moncong pistol di dalam genggaman tangan Romi. Peluru itu melesat tepat di samping kepala Alesha, meninggalkan bekas terbakar di dinding beton di belakangnya. Gadis itu terpaku sesaat, merasakan hembusan panas dari peluru yang nyaris merenggut nyawanya. "Romi!" seru Alesha, matanya membelalak penuh amarah. Romi bergerak cepat dengan kegesitan seorang pengawal yang memang sudah terlatih. Tubuh kekarnya menopang Fernandez yang sedikit terhuyung, satu tangannya menekan luka di bahu sang tuan besar, sementara tangan lainnya masih mengacungkan pistol ke arah Alesha. "Maaf, Nona. Tapi saya tidak akan membiarkan tuan saya m a t i," sahut Romi dengan suara datar dan penuh dengan penekanan. Matanya menatap lurus dan sana sekali tidak berkedip, tatapannya begitu taj

