"Temukan Rafael, dan b u n u h dia!"
Max terdiam sesaat mendengar permintaan terakhir Nadine. Kata yang baru saja keluar dari mulut wanita itu terasa begitu dingin dan penuh kebencian. Dia menatap Nadine dengan pandangan yang tajam. Tangan kanannya mengepal di belakang tubuhnya. Namun tetap saja, Max berpura-pura jika saat ini dirinya seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu.
"Rafael ...." Max mengulangi nama itu dengan nada pelan. "Bukankah Rafael adalah Tuan Muda yang Terbuang itu? Pewaris utama Anggara yang tersisih karena tuan muda kedua?"
"Tidak ada yang menyingkirkannya. Ia pergi karena kesalahannya sendiri. Darimana kamu bisa mengatakan hal yang bodoh seperti itu?" Nadine sedikit tercengang saat Max mengatakan hal yang sesungguhnya adalah sebuah fakta.
Max hanya menyunggingkan senyum kecil di sudut bibirnya. "Itu adalah rahasia umum yang semua orang pun mengetahuinya, Nyonya Nadine."
Max menahan amarah dan kembali bersikap tenang saat melihat ekspresi panik yang ditunjukkan oleh Nadine. "Anda yakin jika dia masih hidup?"
"Entahlah," jawab Nadine dengan getir. "Yang pasti, sampai saat ini Dani masih terus mencarinya. Bahkan setelah tujuh tahun berlalu, dia tidak pernah berhenti berharap anaknya itu akan kembali."
Max mengangguk perlahan. Di dalam hatinya, ada perasaan aneh yang tidak bisa dia jelaskan ketika mendengar jika sang ayah masih mengharapkannya untuk kembali. Kenangan samar tentang kebersamaan mereka secara singkat melintas di kepalanya.
"Baiklah," kata Max akhirnya. "Aku akan mencari tahu keberadaan Rafael. Dan jika dia memang masih hidup ...." Max tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Nadine sudah mengerti maksudnya.
"Terima kasih, Max." Nadine bangkit dari kursinya. "Aku percaya padamu. Lakukan apapun yang diperlukan untuk menghancurkan Dani dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Jody."
Setelah Nadine pergi, Max duduk sendirian di ruang meeting itu. Laptop di hadapannya terbuka kembali, menampilkan berbagai dokumen dan foto yang berkaitan dengan keluarga Anggara. Jarinya bergerak di atas trackpad, membuka folder yang berlabel "RAFAEL ANGGARA - MISSING PERSON".
Foto Rafael yang berusia dua puluh delapan tahun saat itu menatapnya dari layar. Wajah yang tampan dengan mata yang jernih, senyum yang tulus. Max melihat dirinya sendiri di sana. Dirinya yang saat itu masih terlalu bersih. Begitu berbeda dengan dirinya yang penuh dengan dendam dan kebencian.
"Kamu beruntung bisa melarikan diri dari semua ini," bisik Max pada foto itu. "Teruslah menghilang, karena aku sendiri yang telah membuatmu M A T I."
Max kemudian menutup laptop dengan perlahan, matanya masih terpaku pada layar yang kini gelap. Kalimat terakhir yang baru saja dia ucapkan bergema di dalam kepalanya seperti mantra yang telah dia ulang-ulang selama bertahun-tahun.
"Aku sendiri yang telah membuatmu m a t i."
Tangannya bergetar saat mengingat transformasi yang telah dia lalui. Tujuh tahun yang lalu, dia adalah Rafael Anggara, Tuan Muda yang dicintai, pewaris utama kerajaan bisnis Anggara. Kini, dia adalah Max—musuh terbesar keluarganya sendiri.
Max bangkit dari kursi dan berjalan menuju jendela ruang meeting. Kota Jakarta terhampar di bawahnya dengan gemerlap lampu yang mulai menyala. Dari ketinggian ini, semuanya tampak begitu kecil dan tidak berarti. Sama seperti perasaannya dulu ketika masih menjadi Rafael yang naif dan percaya pada semua orang.
"Kamu tidak akan pernah bisa menemukan Rafael, wanita iblis!"* bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca jendela. "Karena Rafael sudah menjadi malaikat maut yang siap mencabut nyawamu kapan saja!"
Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari seseorang yang sudah lama tidak menghubunginya.
Fernandez: [Jika kamu sudah selesai, segera temui aku!]
Max membaca pesan itu, dan segera membalasnya cepat.
Max: [Satu jam lagi.]
--
Gudang tua di kawasan Tanjung Priok tampak semakin menakutkan di bawah sinar bulan yang redup. Max memarkir mobilnya di antara container-container berkarat dan berjalan menuju pintu samping gudang. Fernandez sudah menunggunya di dalam, berdiri di antara tumpukan kardus lama dengan sebatang cerutu besar yang selalu menempel di bibirnya.
"Kamu terlihat gelisah," kata Fernandez tanpa basa-basi. Pria berusia hampir enam puluh tahun itu menatap Max dengan mata yang tajam, mata yang telah menyaksikan transformasi lengkap Rafael menjadi sosok yang berdiri di hadapannya sekarang. "Ada apa?"
"Nadine menginginkan agar Rafael ditemukan dan dibunuh," jawab Max dengan ironi dalam suaranya. "Dia tidak tahu bahwa dia sedang berbicara langsung dengan orang yang dia ingin bunuh."
Fernandez menarik napas dalam-dalam. "Kamu juga pasti sudah tahu, jika bermain dengan identitas ganda seperti ini sangat berbahaya. Apalagi sekarang kamu sudah masuk ke dalam lingkaran mereka."
Max tersenyum pahit. "Kamu pikir aku punya pilihan lain? Tujuh tahun lalu, ketika ayah memilih untuk percaya pada kebohongan Nadine dan membuangku, saat itu juga Rafael mati. Yang lahir adalah Max, seseorang yang akan membalas dendam. Max yang sudah kamu lahirkan kembali."
"Tapi sekarang Nadine memintamu mencari dirimu sendiri," Fernandez menggelengkan kepala. "Dan ini semakin menarik."
Max berjalan mengelilingi gudang, menendang kaleng kosong yang berserakan. "Selama ini aku berpikir rencana ini sempurna. Aku bisa menghancurkan ayah dari dalam sebagai Max, sambil tetap bisa memantau situasi keluarga. Tapi sekarang ...."
"Sekarang kamu mendapatkan akses yang mudah," Fernandez menyela. "Nadine ingin membunuh Rafael, tidak tahu bahwa Rafael dan Max adalah orang yang sama. Sementara ayahmu masih mencari anaknya yang hilang, tidak tahu bahwa anaknya itu adalah orang yang akan menghancurkannya."
Max terdiam sejenak, memproses kompleksitas situasi yang dia ciptakan sendiri. "Tapi aku ... tidak akan membuat semuanya menjadi mudah, Dad."
Fernandez menatap Max dalam-dalam, dan secara samar, ia tersenyum. "Aku melahirkan kucing, tapi setelah besar, dia telah menjadi singa dengan caranya sendiri."
"Apa yang dilakukan oleh Nadine harus mendapatkan balasan yang setimpal. Membuatnya m a t i begitu saja. Itu akn terlalu mudah. Dia harus merasakan semua luka ini!"
"Lanjutkan, Max!"
Max mengepalkan tangannya lebih kuat, mata hitamnya berkilat dengan api dendam yang telah membara selama tujuh tahun. "Aku akan memberikan Nadine apa yang dia inginkan. Tapi dengan caraku sendiri."
Fernandez membuang puntung cerutunya dan bersandar pada dinding gudang. "Maksudmu?"
"Aku akan memberitahu Nadine bahwa aku telah menemukan jejak Rafael," Max mulai memaparkan rencananya dengan suara yang dingin. "Aku akan mengatakan bahwa Rafael bersembunyi di suatu tempat, dan dia sangat lemah sekarang. Hancur secara mental."
"Dan kemudian?"
Max tersenyum kejam. "Aku akan mengaturnya sedemikian rupa sehingga Nadine berpikir dia yang membunuh Rafael dengan tangannya sendiri. Dia akan merasakan kepuasan semu itu. Tapi sebenarnya, itu akan menjadi awal dari kehancurannya."
Fernandez menaikkan alis. "Kamu mau menyamar sebagai Rafael yang lemah dan terpuruk?"
"Tepat sekali," Max mengangguk. "Dengan sedikit bermain peran, aku bisa kembali terlihat seperti Rafael yang dulu. Aku akan membuatnya percaya bahwa dia berhasil membunuhku. Dan saat dia lengah dalam kemenangannya ...."
"Kamu akan muncul kembali sebagai Max dan menghancurkannya?" Fernandez menyelesaikan kalimat itu dengan senyum bangga. "Brilliant!"
Max berjalan menuju jendela kecil gudang yang kotor, menatap keluar pada malam yang gelap. "Tujuh tahun yang lalu, Nadine berhasil memisahkan aku dari ayah dengan kebohongannya. Dia membuat ayah percaya bahwa aku telah mengkhianati keluarga, bahwa aku telah merusak nama baik Anggara."
Suaranya bergetar dengan emosi yang tertahan. "Aku masih ingat bagaimana ayah menatapku dengan mata penuh kekecewaan. Bagaimana dia mengusirku dari rumah tanpa mau mendengar penjelasanku. Semua karena racun yang ditanamkan Nadine."
"Dan sekarang saatnya dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya," Fernandez berkata dengan nada mendukung.
"Aku tidak hanya akan menghancurkan Nadine," Max berbalik menghadap Fernandez dengan mata yang menyala. "Aku akan membuat dia menyaksikan bagaimana Jody juga akan membencinya ketika mengetahui siapa ibunya yang sebenarnya."
"Bagaimana dengan ayahmu?"
Max terdiam sejenak. Di suatu tempat dalam hatinya, masih ada sedikit kerinduan pada sosok ayah yang pernah sangat dia cintai. Tapi dendam telah mengubur perasaan itu terlalu dalam.
"Papa akan menjadi saksi dari semua ini. Dia akan melihat bagaimana kebodohannya tujuh tahun lalu telah menciptakan monster yang akan menghancurkan segalanya. Dan pada akhirnya, dia akan menyadari bahwa anak yang selama ini dia cari-cari, adalah orang yang telah menghancurkan hidupnya."
Fernandez menepuk bahu Max dengan penuh kebanggaan. "Maka mulailah, anakku. Tunjukkan pada dunia siapa Max yang sebenarnya."