Bab 13. Rencana Jahat

1136 Kata
Di kamar utama yang mewah dengan d******i warna cream dan gold, Nadine duduk di tepi tempat tidur king size dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya meremas ujung gaun tidur sutranya dengan kuat, buku-buku jarinya memutih karena ketegangan. Suara langkah kaki Dani yang menggebrak lantai marmer menuju ruang kerjanya masih terdengar hingga ke kamar mereka. "Sialan!" bisiknya dengan suara bergetar, frustrasi yang sudah lama ditahan akhirnya meledak. Mata indahnya yang biasanya tajam kini menyala dengan sorot penuh kekhawatiran. "Ini tidak bisa lagi ditunda. Atau aku tidak akan mendapatkan apa-apa darinya." Nadine bangkit dari tempat tidur dan mulai mondar-mandir di dalam kamar yang luas itu. Langkahnya gelisah, seperti seekor kucing yang terjebak dalam sangkar. Sesekali dia berhenti dan menatap pintu kamar yang tertutup, seolah bisa mendengar rintihan Dani dari ruang kerja di lantai bawah. "Dani sudah g i l a." Nadine bergumam dengan gigi-gigi yang saling bergemelatuk. Berkali-kali Nadine mencoba untuk mendekatkan Jody dengan Dani Anggara. Berkali-kali pula dia berusaha membuat suaminya agar melihat putranya sebagai pengganti Rafael yang sudah terbuang. Tapi berkali-kali juga dia mendapat penolakan seperti pagi tadi. Dani bahkan tidak pernah mau mengakui kehadiran Jody sebagai seorang pewaris. Selama tujuh tahun ini, Nadine bertahan dengan membuat semuanya terlihat baik-baik saja. Dia berperan sebagai istri yang sabar dan pengertian, istri yang terus menerus mendukung suaminya. Tapi di balik fasad itu, dia semakin frustrasi dengan sikap Dani yang semakin lama semakin membuatnya muak. "Tujuh tahun!" serunya dengan suara tertahan, tidak mau terdengar oleh Dani. "Tujuh tahun aku bermain peran sebagai istri yang pengertian, dan dia masih saja terpaku pada Rafael yang bahkan tidak tahu masih hidup atau sudah m a t i!" "Aku akan membuatmu hancur, Dani. Jika kamu terus seperti ini, jangan salahkan aku jika harus mengirimkanmu ke neraka bersama wanitamu itu." Nadine berjalan menuju nakas di samping tempat tidur dan mengambil ponselnya dengan tangan yang sedikit bergetar. Jarinya dengan cekatan mencari kontak tertentu. Nama "MAX" muncul di layar. Tanpa ragu-ragu lagi, dia menekan tombol call. Nada tunggu berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya panggilan itu tersambung. "Nyonya Nadine," suara Max yang dingin dan datar terdengar dari ujung telepon. "Max," balas Nadine dengan suara yang berusaha dikontrol. "Aku perlu bicara denganmu. Tentang rencana kita. Secepatnya!" Jeda sejenak di ujung sana. "Ada apa? Kamu terdengar ... terburu-buru." "Aku tidak bisa jika harus menunggu terlalu lama. Rencana untuk menghancurkan Anggara Buildings harus segera dilaksanakan." Di ujung telepon, Max diam sesaat. Dia bisa mendengar nada depresi dalam suara Nadine, sesuatu yang sama sekali belum pernah dia dengar sebelumnya. "Anda yakin? Maksudku, ini bukan permainan, Nyonya. Sekali kita mulai, tidak ada jalan untuk mundur." "Aku yakin," jawab Nadine tegas. "Aku sudah terlalu lama menunggu untuk ini.. Dan aku tidak ingin menunggu lagi. Jika Dani tidak mau memberikan apa yang seharusnya menjadi hak Jody secara baik-baik, maka aku akan mengambilnya dengan cara lain." Max sedikit terkejut mendengarnya. Dirinya sudah mengira jika ini adalah alasan utamanya. Harta dan tahta. Sebelumnya, Max mengira jika semua yang ia miliki sudah Dani berikan pada Jody sepenuhnya. Tapi rupanya dia salah. Jika Nadine masih menuntut ayahnya tentang hak dan pewaris, itu artinya Jody belum memilikinya. Max tersenyum tipis di ujung sana, meski Nadine tidak bisa melihatnya. "Baiklah. Aku setuju. Rencana kita bisa dimulai minggu depan." Nadine menghela napas lega, setidaknya ... untuk saat ini. "Terima kasih, Max. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu." Dia terdiam sejenak, kemudian melanjutkan, "Apakah aku bisa mengunjungi kantor Apex Technology untuk bertemu dan mendiskusikan rencana kita lebih lanjut? Kita perlu membicarakan detail-detailnya." Sejenak Max terdiam. Di benaknya, masih terngiang suara Fernandez yang bergema keras: "Jangan pernah percaya sepenuhnya pada Nadine. Dia punya agendanya sendiri, dan kamu tidak boleh membiarkannya terlalu dekat denganmu. Wanita itu licik dan bisa berbahaya jika dia merasa terancam." Peringatan Fernandez selalu datang setiap kali dia berurusan dengan Nadine. Meski mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu menghancurkan Anggara. Max tahu bahwa dia harus tetap waspada terhadap wanita yang pernah menjadi ibu tirinya itu. "Jika memang Anda terburu-buru," kata Max akhirnya dengan nada hati-hati, "maka temui aku di gedung Sapta Guna. Aku akan ada rapat di sana besok siang. Kita bisa bertemu setelah rapatku selesai." Tentu saja itu hanya sebuah alasan. Max tidak ingin mendatanginya di Apex. Kantor itu adalah basis operasinya, tempat di mana dia menyimpan semua rencana dan strategi untuk menghancurkan kerajaan bisnis ayahnya. Dia tidak bisa mengambil risiko membiarkan Nadine mengetahui terlalu banyak tentang operasi sebenarnya. "Oke," jawab Nadine tanpa curiga. "Jam berapa?" "Jam empat sore. Aku akan mengirimkan detail lokasi ruang meetingnya nanti." "Baik. Sampai jumpa besok, Max." "Sampai jumpa, Nyonya." Telepon terputus. Nadine meletakkan ponselnya kembali ke nakas dengan perasaan lega bercampur cemas. Akhirnya, setelah bertahun-tahun merencanakan, saatnya untuk bertindak telah tiba. Dia berjalan menuju jendela kamar yang menghadap ke taman belakang. Dari situ, dia bisa melihat sebagian ruang kerja Dani di lantai bawah. Lampu masih menyala di sana, menandakan bahwa suaminya masih berada di dalam sana. Entah apa yang Dani lakukan saat ini, Nadine tidak akan pernah peduli dengan hal itu. "Rafael sudah kau buang, tapi kau menyesal. Jika aku bertemu dengannya. Aku akan menghabisinya sendiri dengan tanganku." Nadine mengeraskan rahangnya saat menyebut nama Rafael. "Lihat saja, Dani," bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Aku juga punya anak yang harus kuperjuangkan. Dan jika kamu tidak mau memberikan masa depan untuk Jody, maka aku akan mengambilnya sendiri." -- Gedung Sapta Guna tampak megah dengan jendela-jendela kaca yang memantulkan sinar matahari sore. Nadine turun dari mobilnya dan berjalan dengan langkah percaya diri menuju lift. Jam tangannya menunjukkan tepat pukul empat sore. Dia sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk pertemuan ini, termasuk mental untuk menghadapi Max yang menurutnya ... selalu penuh perhitungan. Lantai enam terasa sunyi ketika Nadine keluar dari lift. Koridor panjang dengan karpet tebal meredam suara langkahnya. Dia menemukan ruang meeting sesuai dengan pesan Max tadi pagi. Tanpa mengetuk, Nadine membuka pintu dan masuk. Max sudah duduk di ujung meja panjang, berjas hitam yang rapi dengan laptop terbuka di depannya. Matanya yang tajam menatap Nadine dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca."Tepat waktu," kata Max sambil menutup laptopnya. "Silakan duduk, Nyonya Nadine."Nadine mengambil tempat duduk di seberang Max. Ruangan itu terasa dingin meski AC tidak terlalu kencang. Ada sesuatu dalam cara Max menatapnya yang membuat Nadine sedikit tidak nyaman. "Jadi," Nadine memulai pembicaraan, "apa yang sudah kamu siapkan untuk menghancurkan Anggara Buildings?" Max tersenyum tipis. "Aku sudah menyiapkan beberapa strategi. Dan itu tidak perlu And pertanyakan. Karena rencanaku, bukanlah rencana Anda, Nyonya." "Apa maksudmu dengan bukan rencanaku?" tanya Nadine yang terlihat keberatan. "Aku akan melakukannya sendiri, tanpa harus Anda tahu," jawab Max santai. Nadine menghela napas panjang untuk itu. "Begitukah?" "Jika Anda tidak percaya dengan apa yang akan saya lakukan, maka lakukanlah sendiri." Max hendak berdiri sebelum Nadine menghentikannya. "Apapun yang akan kamu lakukan, lakukanlah. Hancurkan dia!" Keheningan tercipta sejenak di antara keduanya, sebelum akhirnya Nadine kembali berkata. "Temukan juga Rafael, dan b u n u h dia!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN