Bab 11.Pertikaian

1510 Kata
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Anggara yang terletak di kawasan elite Menteng, suasana pagi yang biasanya tenang tiba-tiba berubah mencekam. Rumah bergaya classic European itu seolah menjadi saksi bisu dari drama keluarga yang selalu berulang. Di ruang makan yang luas dengan meja mahoni berukir indah, Dani Anggara duduk dengan tenang menikmati sarapannya. Pria berusia hampir kepala enam itu masih tampak segar dengan kemeja putih berlengan panjang yang rapi, rambutnya yang sudah sedikit beruban disisir ke belakang dengan gel, dan mata tajamnya fokus pada koran bisnis di tangannya. Seperti biasa, dia memulai hari dengan membaca perkembangan ekonomi dan berita seputar dunia properti. Nadine duduk di seberangnya, elegant dalam balutan blazer cream dan rambut pirang yang ditata sempurna. Wanita yang masih berusia empat puluh sembilan tahun itu tampak sibuk dengan tablet di tangannya, sesekali menyesap kopi sambil men-scroll media sosial. Mereka berdua terlihat seperti pasangan mapan pada umumnya, terlihat tenang, harmonis, dan terjaga privasinya. Ketenangan itu tiba-tiba terganggu ketika langkah kaki berderap turun dari tangga marmer menuju ruang makan. Jody Anggara, muncul dengan gaya yang kontras sekali dengan kedua orang tuanya. "Pagi, Ma." Jody menyapa dengan nada santai sambil menarik kursi dan duduk di samping Nadine. Dani hanya melirik singkat tanpa mengangkat mata dari korannya, sementara Nadine tersenyum tipis sambil terus fokus pada tabletnya. Jody mengambil sepotong roti panggang dan mengoleskannya dengan selai, kemudian berkata dengan nada ceria, "Oh ya, Pa, aku butuh uang untuk party malam ini." "Berapa?" Dani bertanya tanpa mengalihkan perhatian dari korannya. "Tidak banyak, kok," Jody menjawab sambil menggigit rotinya. "Cuma seratus juta." Koran di tangan Dani berhenti bergerak. Perlahan, dia menurunkan koran dan menatap Jody dengan pandangan tidak percaya. "Seratus juta? Untuk pesta?" "Ya, Pa. Aku mau sewa yacht, undang teman-teman ke villa. Papa tahu lah, image itu penting," Jody menjawab dengan enteng, seolah-olah dia sedang meminta uang jajan biasa. Dani meletakkan korannya dengan gerakan yang terkontrol, tapi mata tajamnya mulai berkilat marah. "Image untuk apa?" "Ya untuk perusahaan dong, Pa," Jody tersenyum lebar. "Aku kan sekarang udah resmi jadi direktur cabang. Harus dong maintain relationship sama klien-klien potensial." "Klien potensial?" Dani menaikkan alis. "Atau teman-teman clubbing-mu yang tidak jelas itu?" Nadine akhirnya mengangkat mata dari tabletnya, merasakan ketegangan yang mulai mengental di antara ayah dan anak. Dia memilih untuk tetap diam, tapi matanya mengamati dengan seksama. "Pa, jangan gitu dong," Jody mulai terlihat kesal. "Aku serius nih soal bisnis. Dan lagian, sekarang aku udah officially lead cabang itu. Harusnya aku punya budget sendiri untuk diriku?" "Seratus juta untuk pesta, Jody?" Dani bangkit dari kursinya, tubuhnya yang tinggi dan masih berisi membuat sosoknya terlihat mengintimidasi. "Kamu pikir uang itu daun yang bisa dipetik dari pohon?" "Pa, santai dong," Jody juga ikut berdiri, meski tingginya tidak sebanding dengan ayahnya. "Sekarang aku udah punya posisi, punya tanggung jawab. Aku berhak dong buat pesta sama temen-temen. Apalagi aku udah berhasil ningkatin profit cabang sebesar dua puluh persen bulan lalu." "Dua puluh persen?" Dani tertawa sinis. "Itu karena ada proyek besar yang sudah aku atur dari setahun lalu. Kamu hanya melanjutkan apa yang sudah aku siapkan." Dani menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Semua klien itu adalah milik Rafael." Wajah Jody memerah. "Kenapa Papa selalu nyebut-nyebut Rafael? Dia kan udah hilang! Mungkin malah udah mati!" BRAK! Dani menggebrak meja dengan keras hingga piring dan gelas bergetar. Mata tajamnya menyala dengan amarah yang selama ini dia pendam. "Jangan pernah bicara seperti itu tentang Rafael!" "Dani," Nadine akhirnya angkat bicara dengan suara tenang tapi menusuk. "Kenapa kamu masih menyinggung Rafael? Bukankah dia sudah ... kamu buang?" Ruangan tiba-tiba sunyi. Dani berbalik menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tatapan tajam antara marah, kecewa, dan sakit hati. "Rafael tidak pernah mati," Dani berkata dengan suara rendah tapi tegas. "Dia pasti masih hidup. Suatu saat dia akan kembali." Jody terkekeh sinis. "Ayolah, Pa. Sudah tujuh tahun dan Papa masih membahasnya. Kalau dia masih hidup, pasti dia pulang ke rumah. Face the reality, Dad. Rafael either dead or ...." "Atau apa?" Dani mendekat ke arah Jody dengan tatapan mengerikan. "Atau dia hidup terlunta-lunta di jalanan seperti gelandangan," Jody melanjutkan dengan nada mengejek. "Mungkin dia sekarang jadi pengamen atau pengemis. Siapa tahu." PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi kiri Jody. Suara tamparan itu bergema di ruang makan yang luas. Jody terhuyung, tangannya secara reflek langsung memegangi pipi yang memerah. "JANGAN PERNAH BICARA LANCANG TENTANG KAKAKMU!" Dani berteriak dengan amarah yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. Urat-urat di lehernya menonjol, wajahnya memerah padam. "Pa!" Jody memegangi pipinya yang masih terasa panas. "Kenapa Papa tampar aku?" "Karena mulutmu tidak tahu aturan!" Dani masih berteriak. "Apa belum cukup aku memberikan semua yang Rafael miliki padamu? Mobil sportnya, kamar mewahnya, posisi di perusahaan yang seharusnya dia terima? Kamu sudah dapat semuanya, tapi masih berani menghina dia?" "Tapi Papa sudah memberi semua itu ke aku!" Jody balik berteriak, emosinya juga sudah terpancing. "Papa sendiri yang bilang aku bisa pakai mobilnya, aku bisa tidur di kamarnya, aku yang jadi penggantinya di perusahaan! Sekarang Papa menyesal?" "Aku memberikan semua itu bukan karena kamu layak menerimanya," Dani berkata dengan suara yang mulai terkontrol tapi tetap dingin. "Aku memberikannya karena aku berharap dengan tanggung jawab itu kamu bisa jadi lelaki yang lebih baik. Tapi ternyata aku salah." Nadine yang selama ini diam akhirnya berdiri dari kursinya. Dengan gerakan anggun, dia mendekat ke arah Jody dan meletakkan tangan di bahu putranya. "Dani, cukup!" tegasnya. "Jody masih muda. Dia hanya ingin bersenang-senang." "Bersenang-senang dengan seratus juta?" Dani menatap istrinya tajam. "Nadine, kamu yang selalu memanjakan dia. Makanya dia jadi seperti ini." "Aku tidak memanjakan dia," Nadine menjawab dengan nada yang mulai naik. "Aku hanya memberikan dia apa yang dia butuhkan sebagai anak dari keluarga Anggara." "Keluarga Anggara tidak dibangun dengan berfoya-foya," Dani berkata tegas. "Keluarga ini dibangun dengan kerja keras, dedikasi, dan rasa tanggung jawab. Sesuatu yang Rafael pahami dengan sangat baik." "Rafael lagi, Rafael lagi!" Jody akhirnya meledak. "Papa obsesi banget sama dia! Dia udah hilang, Pa! Sekarang yang ada di sini aku! Aku yang ngejaga perusahaan Papa, aku yang bantuin Papa, tapi Papa malah selalu ngebandingin aku sama hantu!" Dani terdiam sejenak. Kata-kata Jody seperti menampar kesadarannya. Tapi kemudian, dengan suara yang sangat pelan tapi penuh emosi, dia berkata, "Rafael bukan hantu. Dia anakku. Dan tidak sepertimu, dia tidak pernah meminta apa-apa dariku. Dia bekerja keras untuk semua yang dia dapatkan." "Karena dia anak kesayangan Papa!" Jody berteriak frustasi. "Dari dulu Papa selalu lebih sayang sama dia daripada sama aku! Padahal aku anak kandung Papa juga!" "Kamu anak tiri," Dani berkata dingin, kata-kata yang langsung membuat ruangan terdiam total. Nadine menatap suaminya dengan pandangan shock. "Dani!" "Apa?" Dani berbalik ke arah istrinya. "Itu fakta. Jody bukan anak kandungku. Dia anak dari pernikahan pertamamu." Jody terdiam, wajahnya pucat. Meski dia tahu faktanya, mendengar Dani mengatakannya dengan terang-terangan seperti ini tetap membuatnya sakit. "Jadi karena aku bukan anak kandung Papa, makanya Papa tidak pernah sayang sama aku?" Jody bertanya dengan suara bergetar. Dani menatap anak tirinya itu sejenak. Ada kilatan penyesalan di matanya, tapi ego yang dimilikinya memang terlalu besar untuk mengakuinya. "Aku sudah memperlakukan kamu seperti anak kandung. Aku berikan kamu nama Anggara, aku berikan kamu hidup mewah, aku berikan kamu posisi di perusahaan. Tapi kamu tidak pernah bisa menghargainya." "Menghargai dengan cara apa?" Jody berteriak lagi. "Dengan terus menerus menjadi bayang-bayang Rafael? Dengan hidup di bawah standar yang Rafael buat?" "Rafael tidak pernah minta ratusan juta hanya untuk pesta," Dani menjawab tajam. "Rafael tidak pernah menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak berguna. Rafael—" "Cukup, Pa!" Jody memotong dengan keras. "Aku muak dengerin nama Rafael terus! Dia udah hilang! Probably dead! And I'm here, working my ass off untuk perusahaan Papa, tapi Papa tidak pernah melihat semua itu. Nadine yang melihat anaknya semakin emosional akhirnya ikut angkat bicara. "Dani, kamu terlalu keras sama Jody. Dia masih muda, masih butuh senang-senang." "Muda?" Dani tertawa pahit. "Rafael umur segitu udah bisa menghasilkan profit ratusan juta untuk perusahaan tanpa minta uang sepeserpun untuk pesta." "But Rafael had advantages that Jody doesn't have," Nadine berkata dengan nada yang mulai dingin. "Rafael tumbuh dengan kamu dari kecil. Dia udah diajarin bisnis dari kecil. Jody baru belajar." "Dan itu salah siapa?" Dani menatap istrinya tajam. "Selama ini kamu lebih sibuk dengan aktivitas sosial daripada mendidik anakmu sendiri." Ketegangan di ruangan itu semakin mengental. Tiga orang dari keluarga yang terlihat sempurna dari luar ini sekarang saling berhadapan dengan emosi yang meledak-ledak. "Fine," Jody akhirnya berkata dengan nada pasrah tapi sarat kekecewaan. "I get it. Aku memang tidak akan pernah menjadi baik untuk Papa. Aku akan selalu jadi pilihan kedua. Aku akan selalu kalah sama Rafael." Dia berbalik hendak meninggalkan ruang makan, tapi berhenti sejenak di pintu. "Tapi Papa harus ingat satu hal. Rafael sudah musnah. Dan yang ngejalanin perusahaan Papa sekarang adalah aku. Mau tidak mau, Papa harus menyerahkan semuanya padaku." Setelah Jody keluar dengan suara langkah yang menggebrak, ruang makan kembali sunyi. Dani dan Nadine saling bertatapan dalam keheningan yang tidak nyaman. "Kamu terlalu keras sama dia," Nadine akhirnya berkata dengan suara pelan. "Dan kamu terlalu memanjakan dia," Dani membalas dengan nada lelah. "Dia anakku, Dani." "Dan Rafael adalah anakku!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN