Sepanjang perjalanan pulang dari Café Luna, pikiran Max dipenuhi oleh tawaran Nadine yang tidak masuk akal. Mobilnya melaju pelan di tengah kemacetan Jakarta yang memang akn selalu seperti itu, tapi Max sama sekali tidak merasakan frustrasi seperti biasanya. Otaknya terlalu sibuk mencoba memahami motif di balik proposal g i l a yang baru saja dia terima.
"Menghancurkan Anggara Buildings?" Itulah suara yang ada di dalam pikirannya. Max menggelengkan kepala sambil menatap lampu merah di depannya. "Rubah betina itu benar-benar sudah g i l a."
Yang paling membuatnya bingung adalah intensitas kebencian yang dia lihat di mata Nadine tadi. Selama ini, Max selalu menganggap ibu tirinya sebagai sosok yang dingin dan kalkulatif. Selama ini juga dia berpikir jika Nadine adalah wanita manipulatif yang hanya butuh harta dan kekuasaan dari perusahaan ayahnya. Tapi sepertinya bukan itu.
"Tapi kenapa?" Max bertanya pada dirinya sendiri. "Nadine adalah istri pemilik Anggara. Dia hidup dari kekayaan Anggara Buildings. Jika perusahaan itu hancur, dia juga akan kehilangan segalanya. Tidak masuk akal."
Lampu hijau menyala, dan Max kembali menjalankan mobilnya. Dia mengingat-ingat kembali setiap detail percakapan tadi, mencoba mencari petunjuk yang mungkin terlewatkan. Ada sesuatu dalam cara Nadine mengucapkan nama "Anggara Buildings" dengan nada penuh kebencian, seolah-olah nama itu adalah kutukan.
"Saya ingin melihat mereka kehilangan segalanya, sama seperti yang pernah mereka lakukan kepada orang lain," kata-kata Nadine tadi terngiang kembali di telinganya. Siapa "orang lain" yang dimaksud? Apakah ada sejarah kelam yang belum dia ketahui?
Max menekan gas sedikit lebih kencang. Dia butuh berbicara dengan Fernandez secepat mungkin. Pria itu selalu memiliki perspektif yang berbeda dalam menganalisis situasi kompleks seperti ini.
Ketika mobil Max memasuki kompleks perumahan elite di Pondok Indah, langit Jakarta sudah mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Matahari sore yang redup terhalang oleh gedung-gedung tinggi, menciptakan bayangan panjang di antara deretan rumah mewah.
Max memarkirkan mobilnya dengan tergesa-gesa di depan rumahnya, sebuah rumah bergaya minimalis modern dengan halaman yang luas. Tanpa membuang waktu, dia melangkah cepat menuju pintu depan, kunci sudah siap di tangannya sebelum dia mencapai teras.
"Dad!" Max memanggil sambil membuka pintu, suaranya menggema di ruang tamu yang luas dengan dekorasi monokrom yang elegan. Sejak dia mengganti identitasnya sebagai Max, Fernandez memang memasukkannya ke dalam susunan keluarga, dan sejak saat itu, Max memanggil Fernandez dengan sebutan "Dad" sebagai pengalihan.
"Di sini," suara Fernandez terdengar dari arah ruang keluarga.
Max melepas jas dan melemparkannya sembarangan ke kursi terdekat, kemudian bergegas menuju ruang keluarga. Dia mendapati Fernandez sudah duduk santai di sofa kulit hitam yang besar, dengan laptop terbuka di pangkuannya dan secangkir kopi di meja samping. Pria berambut keriting itu tampak tenang, seolah-olah sudah siap mendengar apapun hasil pertemuan tadi.
"Dad," Max langsung berkata sebelum pria tua itu sempat membuka mulut, "semua di luar dugaan. Ternyata Nadine tidak mengenaliku."
Fernandez menutup laptopnya perlahan dan tersenyum kecil, ekspresi yang sudah Max kenal sebagai tanda bahwa Max sedang dalam mode analitis. "Lalu?"
Max menjatuhkan dirinya ke sofa di seberang Fernandez, tangannya meremas-remas rambut dengan frustasi. "Dia memberi tawaran padaku untuk menghancurkan Anggara. Apa itu tidak g i l a?"
Fernandez terkekeh, suara riang yang kontras dengan ketegangan yang Max rasakan. Tapi kemudian ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Terdengar g i l a, tapi begitu menyenangkan baginya. Iya, bagi Nadine ini adalah permainan yang menyenangkan."
"Menyenangkan?" Max menatap Fernandez dengan tidak percaya. "Dad, kita bicara tentang Anggara Buildings. Itu bisnis milik Papa, suaminya sendiri. Aku masih tidak habis pikir, jika nanti Anggara bangkrut, bukankah Nadine juga akan ikut hancur?"
Fernandez mengambil cangkir kopinya dan menyesap perlahan, matanya menatap Max dengan pandangan yang menyelidik. "Max, kamu terlalu fokus pada aspek finansial. Coba pikirkan dari sudut pandang psikologis."
"Maksudmu?"
"Nadine adalah tipe orang yang mengutamakan kontrol dan kekuasaan di atas segala hal, termasuk uang," Fernandez menjelaskan sambil meletakkan cangkirnya kembali. "Bagi orang seperti dia, melihat musuhnya hancur lebih memuaskan daripada mempertahankan kekayaan."
Max menggeleng. "Tapi Papa–maksudku Dani Anggara bukanlah musuhnya. Dia adalah suaminya."
"Atau mungkin justru karena itulah dia membenci Anggara," Fernandez berkata dengan nada yang lebih serius. "Max, sudah berapa lama Dani menikah dengan Nadine?"
"Hampir sepuluh tahun," Max menjawab sambil mencoba mengingat-ingat. "Mereka menikah sekitar dua tahun setelah ... setelah Mama meninggal."
"Dan selama sepuluh tahun itu, apa yang kamu ketahui tentang hubungan mereka?"
Max terdiam sejenak. Selama ini dia memang tidak pernah benar-benar memperhatikan dinamika hubungan antara ayah dan ibu tirinya. Dia terlalu sibuk dengan dunianya, bisnis-bisnis yang diberikan oleh sang ayah, dan upaya peningkatan omset perusahaan. Ia terlalu sibuk dengan hidupnya sendiri hingga tak memiliki wktu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu.
"Mereka ... tampak baik-baik saja," Max akhirnya menjawab dengan ragu. "Papa terlihat bahagia. Nadine juga terlihat puas dengan kehidupannya."
"Terlihat," Fernandez menekankan kata itu. "Tapi apa yang sebenarnya terjadi di balik layar? Max, kamu bilang tadi bahwa Nadine menunjukkan kebencian yang mendalam terhadap Anggara. Kebencian seperti itu tidak muncul begitu saja."
Max mulai merasakan ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya. "Kamu pikir ada masalah dalam pernikahan mereka?"
"Bukan hanya masalah," Fernandez berdiri dan mulai mondar-mandir di depan sofa, gerakan yang selalu dia lakukan ketika sedang berpikir keras. "Max, coba pikirkan ini dari perspektif Nadine. Dia menikah dengan pria yang sangat kaya dan berpengaruh. Tapi apa yang dia dapatkan dari pernikahan itu?"
"Kekayaan, status sosial, kehidupan mewah ...."
"Ya, tapi juga ketergantungan total," Fernandez memotong. "Semua kekayaan itu atas nama Dani Anggara. Semua kekuasaan ada di tangannya. Nadine mungkin hidup mewah, tapi dia tidak memiliki kontrol atas hidupnya sendiri."
Max mulai memahami arah pemikiran sahabatnya. "Jadi menurutmu, Nadine ingin menghancurkan Anggara untuk membebaskan diri dari Papa?"
"Atau untuk membalas dendam," Fernandez berhenti di depan jendela besar yang menghadap ke taman. "Max, kamu bilang tadi bahwa Nadine mengatakan ingin melihat Anggara kehilangan segalanya, sama seperti yang pernah mereka lakukan kepada orang lain. Siapa 'orang lain' itu?"
"Aku tidak tahu. Dia tidak menjelaskan lebih lanjut."
Fernandez berbalik menghadap Max. "Mungkin sudah waktunya kita menggali lebih dalam tentang masa lalu Nadine. Siapa dia sebelum menikah dengan Papa? Darimana dia berasal? Apa yang dia lakukan?"
Max merasakan adrenalin mulai mengalir. "Kamu pikir ada sesuatu yang disembunyikan?"
"Pasti ada," Fernandez kembali duduk di sofa, kali ini dengan ekspresi yang lebih serius. "Max, wanita yang dengan mudah menawarkan untuk menghancurkan perusahaan suaminya sendiri bukanlah wanita biasa. Ada agenda yang jauh lebih rumit di sini."
"Tapi tunggu," Max mengangkat tangan. "Ada hal lain yang membuatku bingung. Kenapa dia memilihku? Dari sekian banyak perusahaan teknologi di Jakarta, kenapa Apex Technology?"
Fernandez tersenyum tipis. "Mungkin karena dia tahu bahwa kamu adalah ancaman yang nyata bagi Anggara. Atau ...."
"Atau apa?"
"Atau mungkin dia tahu lebih banyak tentangmu daripada yang kamu kira."
Max merasakan dadanya sesak. "Maksudmu dia tahu siapa aku sebenarnya?"
"Belum tentu," Fernandez menggeleng. "Tapi mungkin dia mencurigai sesuatu. Pikirkan, Max. Kamu muncul tiba-tiba di acara kemarin malam, berinteraksi dengan orang-orang dekat Anggara, dan sekarang dia langsung menawarkan kerja sama. Itu bukan kebetulan."
Max berdiri dan mulai mondar-mandir, meniru kebiasaan Fernandez ketika sedang gelisah. "Jadi menurutmu, aku harus bagaimana? Menerima tawarannya?"
"Itu pertanyaan yang bagus," Fernandez menyandarkan punggungnya ke sofa. "Di satu sisi, ini adalah kesempatan emas untuk mempercepat rencana balas dendammu. Dengan informasi internal dari Nadine, kamu bisa menghancurkan Anggara jauh lebih cepat dari yang pernah kita bayangkan."
"Tapi?"
"Tapi di sisi lain, bekerja sama dengan Nadine berarti bermain dengan api. Wanita itu berbahaya, Max. Dia telah membunuh ibumu tanpa jejak, dan kamu yakin dia tidak akan melakukan hal yang sama terhadapmu jika diperlukan?"
"Mama," gumam Max dengan kedua tangan mengepal.
"Tapi ini juga kesempatan untuk mendekatinya," Max berkata pelan. "Selama ini aku hanya bisa mengawasi dari jauh. Sekarang dia yang datang padaku, menawarkan kerja sama. Ini bisa jadi kesempatanku untuk mencari bukti tentang kematian Mama."
"Itu juga risiko," Fernandez mengingatkan. "Semakin dekat kamu dengan Nadine, semakin besar kemungkinan identitasmu terbongkar. Dan jika itu terjadi ...."
"Aku akan mati," Max menyelesaikan kalimat itu dengan nada datar.