Pagi berikutnya, udara masih terasa basah oleh sisa embun. Max terbangun lebih cepat dari biasanya. Bukan karena Ramon membangunkannya, melainkan oleh mimpi buruk yang menghantam dadanya. Di dalam mimpinya, Max melihat sosok Romi muncul dari balik kabut, matanya gelap, senyum tipis terukir di wajahnya. Wajah yang sama dengan Romi yang pertama kali ditemuinya, orang yang menyeretnya dari jalanan basah. “Kau adalah pria yang lemah Rafael. Selamanya, kau akan selalu lemah.” Romi berkata dengan nada dingin yang selalu ditunjukkannya. "Tidak, diam kamu!" Max membalas. "Bangun! Max!" sentak Romi, yang pada akhirnya mampu membangunkan Max dari seluruh mimpi buruknya. Max terduduk, keringat membasahi pelipisnya. Di sampingnya, Alesha masih terlelap. Untuk sesaat, Max ingin menyentuh wajahnya,

