Nadine begitu ingin berteriak, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Ketakutan yang saat ini dirasakannya, menjerat kuat pada pita suaranya yang tiba-tiba saja membeku. Tubuhnya kaku, seolah dirantai oleh tatapan Fernandez yang tajam menusuk. Fernandez menunduk, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Nadine yang saat ini tampak lebam dan noda darah. Asap cerutu yang masih mengepul di udara, hingga membuat udara di sekeliling mereka semakin sesak. "Hai ... Nadine." Fernandez tersenyum dingin. "Kamu tahu, Nadine ... aku menunggumu lama sekali," katanya perlahan, tetapi terdengar penuh tekanan. "Setiap malam, aku membayangkan wajahmu. Bagaimana rasanya … menyayatmu perlahan, melihatmu berlutut, dan memohon ampun." Nadine meronta, mencoba melepaskan cengkeraman rambutnya. Namun, kedua tang

