"Apa maksudmu Nadine? Dia anakku, dia berhak kembali ke sini kapanpun dia mau!" sentak Dani, suaranya bergetar antara amarah dan kebingungan. Matanya beralih dari Rafael ke Nadine, seakan mencari pembenaran atas perkataan istrinya. Nadine tersulut. Wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. "Kamu lupa, siapa yang mengusir dan melepas dia sebagai anggota keluarga Anggara?" teriaknya keras, menunjuk Rafael dengan jari yang bergetar. "Siapa yang mengatakan bahwa dia bukan lagi bagian dari keluarga ini? Siapa yang membuangnya seperti sampah?!" Dani tersentak. Wajahnya mendadak pucat, seakan ditampar oleh kenyataan yang selama ini ia coba lupakan. "Karena racunmu lah yang membuat aku menjadi jahat kepada anakku sendiri," katanya dengan suara parau. "Sesungguhnya kamu yang busuk

