Lorong yang sempit itu pun seketika berubah menjadi liang pembantaian. Laser-laser merah berkelebatan di dinding, bergerak liar seiring langkah berat yang semakin mendekat. Suara gesekan sepatu bot, kokangan senjata, gerakan layaknya pasukan militer membuat udara terasa kian menyesakkan. Ramon dengan cepat menarik Max dan Alesha untuk mundur ke persimpangan sempit. “Mereka membawa tim eksekusi. Hati-hati!" Ia menyeringai getir, menyalakan rokok baru meski napasnya masih terengah. “Dani ... oh tidak. Lebih teparnya ayahmu benar-benar ingin memastikan tak ada naganya tetap hidup.” Asap rokok yang mengepul Ramon bertemu dengan debu dan sisa ledakan, menciptakan kabut tipis yang samar menutupi wajahnya. Matanya menyipit, menatap Max. “Dengarkan aku, Max ... atau siapa pun kamu. Dari titi

