Udara di dalam ruangan itu seperti membatu. Jam dinding terus berdetak, namun bagi Max, Alesha, dan Ramon, waktu seolah berhenti di titik kelam itu. Tubuh Fernandez terbujur kaku, sementara kain seadanya menutupi wajahnya. Alesha masih duduk di samping, matanya sembab, tangannya berlumur darah yang sudah mulai mengering. Tapi di balik duka, ada sorot tajam yang baru lahir. Sorot seorang pewaris yang dipaksa matang dalam sekejap. Ramon menyalakan sebatang rokok, tarikan napasnya berat. Asapnya memenuhi udara yang sudah sesak, lalu keluar dari bibirnya bersama kata-kata lirih. “Dia benar. Ouroboros tidak akan berhenti hanya karena satu naga memilih hengkang.” Tatapannya menoleh pada Max. “Sekarang kau dan Alesha … dua pewaris. Itu artinya mereka akan datang memburu kita.” Max menatap la

