Dentuman keras itu terdengar. Akan tetapi bukan tubuh Dani yang roboh, melainkan sebuah vas kaca tua di sudut ruangan yang pecah berkeping-keping. Pecahannya berserakan, memantulkan cahaya lampu redup hingga seolah-olah menebar kilau d a r a h beku di lantai. Max berdiri kaku, pistol masih tergenggam erat, tapi kedua matanya membelalak. Ia tahu jika dirinya tidak sanggup. Jari telunjuknya itu tidak akan pernah sanggup menarik pelatuk tepat ke arah lelaki yang berdiri sebagai ayah sekaligus musuhnya. Dani Anggara tidak bergeming. Senyum itu masih terpatri di wajahnya, seakan ia telah membaca keraguan anaknya jauh sebelum pelatuk ditarik. “Seperti yang kuduga,” katanya pelan, nadanya penuh ejekan dingin. “Kau bukan naga. Kau hanya anak kecil yang ketakutan.” “Diam!” Max berteriak, suaran

