Udara yang ada di dalam ruangan itu mendadak semakin berat, seolah oksigen tersedot keluar oleh kehadiran Dani Anggara. Lampu redup membuat bayangan wajahnya tampak lebih menyeramkan. Seorang pria yang bagi Max dulunya hanyalah sosok lemah, kini berdiri sebagai “kepala naga”. Max merasakan kepalanya berdenyut. Nama Anggara kini menggaung seperti sebuah mantra kutukan. Ia mengingat kembali potongan memorinya. Fernandez kembali berusaha berbicara, darah menetes di sudut bibirnya. Tangannya gemetar saat menunjuk ke arah Dani. “Dia … bukan keluarga biasa … Dia … pendiri awal Ouroboros …” Mata Max membelalak. “Apa?” Ramon ikut tertegun, menurunkan senjatanya sedikit. “Pendiri …?” Dani tersenyum tipis, seperti seseorang yang sudah lama menunggu momen ini terbuka. “Dia tidak sepenuhnya sal

