Lampu redup di safe house membuat suasana terasa semakin berat. Jam dinding berdetak pelan, seakan menjadi penghitung waktu yang menyeramkan. Alesha duduk di kursi lipat di samping ranjang Fernandez, sementara Max berdiri di dekat jendela, menatap kegelapan malam yang hanya diterangi oleh cahaya lampu jalan jauh di luar. “Project Ouroboros …,” gumam Ramon, menatap layar laptop. “Kalau ini benar, maka kita sudah menginjak ekor naga. Mereka pasti tahu jika flashdisk ini sudah diakses.” Max berpaling, rahangnya mengeras. “Itu berarti mereka akan datang mencari kita. Pertanyaannya bukan siapa lagi, tapi kapan.” Alesha mengusap wajahnya, kelelahan jelas tergambar. “Kita tidak bisa terus-terusan melarikan diri. Kita butuh sekutu, orang-orang yang bisa dipercaya.” “Sekutu?” Ramon menggeleng t

