Duk! Duk! Duk! Di sebuah ruangan gelap dan pengap, bunyi pukulan berulang terdengar memecah kesunyian. Max Leonard tengah fokus menghantam samsak tinju tanpa henti. Setiap pukulan mengeluarkan suara berat yang bergema di dinding beton yang lembap. Peluh membanjiri tubuhnya, membentuk garis-garis di sepanjang ototnya yang tegang. Di sudut ruangan, Romi hanya berdiri bersandar pada dinding, kedua tangan bersedekap, matanya tak lepas dari tiap gerakan tangan Max. Sorot tatapannya penuh tanya, seperti sedang mengukur sesuatu. “Apa kamu sudah selesai, Max?” tanya Romi dengan nada datar, suaranya bergema di ruang sempit itu. “Sebentar lagi, Rom,” jawab Max tanpa berhenti menghantam samsak. Pukulan-pukulannya semakin cepat, seperti sedang melepaskan sesuatu yang selama ini ia tahan. Romi men

