"Katakan!" teriak Fernandez. "Jika tidak ... Romi akan membuatmu menyesal karena terus menutup mulut. "Uhuk!" Martin terbatuk, dan d a r a h segar menetes dari sudut bibirnya. Romi mundur selangkah, mengibaskan tangannya yang mulai pegal setelah berkali-kali memukul perut dan wajah akuntan yang begitu setia itu. Fernandez masih berdiri di belakang meja, wajahnya tenang, namun matanya menyala dengan amarah yang semakin membara. "Aku akan bertanya sekali lagi, Martin," kata Fernandez dengan suara rendah dan penuh ancaman. "Siapa orang yang membantumu? Siapa dalang di balik pengkhianatan ini?" Martin mengangkat kepalanya dengan susah payah. Wajahnya sudah bengkak, mata kirinya hampir tertutup sepenuhnya. Namun tatapannya tetap keras, penuh dengan tekad yang tidak mau surut. "Saya sudah

