Sinar dari mentari pagi menyusup masuk melalui celah gorden kamar tidur utama rumah keluarga Anggara. Dani Anggara sudah bangun sejak pukul 6 pagi, seperti biasanya. Ia mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor meski pikirannya masih dipenuhi oleh kejadian semalam. Setelah berpakaian rapi dengan kemeja putih dan jas abu-abu, Dani turun ke lantai bawah untuk sarapan. Di ruang makan, ia melihat Nadine duduk dengan wajah pucat, matanya sembab seperti habis menangis. "Bagaimana keadaan Jody?" tanya Dani sambil duduk di ujung meja makan. "Masih tidur," jawab Nadine pelan. "Dr. Hartono bilang lukanya akan sembuh dalam seminggu, tapi dia perlu istirahat total." "Aku akan izinkan Jody untuk beristirahat di rumah," ucap Dani sambil melap mulutnya dengan serbet. Namun yang jadi masalahnya

