Elang POV.
Aku tahu dia akan datang. Aku melihat namanya, dalam daftar alumni yang akan datang. Hampir 10 tahun sudah berlalu, tapi aku tetap masih mengingatnya.
Sebagai salah satu panitia reuni akbar kali ini, aku mempunyai akses untuk melihat data--siapa saja yang sudah mengkonfirmasi kedatangan mereka, untuk acara hari ini. Nervous? harus kuakui … iya. Aku sedikit merasa nervous, meskipun belum tentu juga kami akan bertemu--mengingat jumlah alumni dari 6 tahun kelulusan, cukup banyak.
Bersama panita yang lain, aku datang 15 menit sebelum acara yang direncanakan mulai pukul 7 malam. Tidak sendirian tentu saja, karena aku sudah memiliki istri. Wanita yang sudah menjadi sahabatku sejak kami SMP.
Saat kami tiba di ruang tempat reuni akan digelar, sudah ada beberapa teman yang tiba lebih dulu. Aku segera bergabung dengan mereka, sedangkan Maya—istriku, mencari tempat duduk untuk menunggu acara dimulai. Dia memang tidak ikut menjadi panitia reuni. Aku, dan beberapa panitia lain mulai berbincang. Beberapa teman melaporkan kesiapan bagian mereka masing-masing. Aku hanya mendengarkan.
Tak menunggu lama, teman-teman alumni mulai berdatangan. Mataku awas melihat ke arah pintu masuk. Bermenit-menit, aku hanya berdiri mengawasi pintu masuk. Dalam hati berharap melihat seseorang yang sudah sangat lama tidak pernah lagi kulihat, bahkan kabarnya pun--tidak pernah kudengar.
Meskipun aku masih bertemu dengan beberapa sahabat gadis itu, namun tak pernah sekalipun mereka menyebut namanya. Yang begitu kurindukan, namun tak kuasa untuk kusebutkan. Terlalu banyak hati yang harus kujaga.
Kuhela nafas kecewa setelah sekian lama mencari, dan tak menemukan sosoknya. Bahkan, hingga acara dimulai—dia masih tidak terlihat. Dalam hati aku membatin, apakah terjadi sesuatu dengannya, hingga dia urung datang? karena dari daftar alumni yang sudah mengkonfirmasi untuk datang, aku jelas melihat namanya.
Kecewa, aku melangkah mencari istriku. Maya masih di tempatnya semula. Wanita yang sudah melahirkan seorang putri itu, masih duduk di kursi yang sama, yang ia tempati sejak pertama kali kami datang.
“Ayo … gabung sama teman-teman.”
Maya mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya. Kami berjalan menuju satu tempat, yang memang diperuntukkan untuk Alumni kami.
Jadi, dalam ruang luas ini di bagi 6 bagian. Masing-masing bagian diperuntukkan untuk tiap tahun kelulusan. Dari alumni tahun 2010 hingga alumni tahun 2015. Beberapa teman langsung menyambut kedatanganku bersama Maya. Kami akhirnya larut dalam perbincangan dengan teman-teman. Hingga suara pembawa acara terdengar lebih keras.
“Ya … Mbak yang baru datang. Yang pakai dress warna peach. Bisa ke atas panggung?!!”
“Mbak … Mbak dress peach!!”
Kami serentak menengok ke arah pintu masuk. Aku terhenyak. Dia ada di sana. Berdiri kebingungan. Malam ini, dia memakai dress selutut berwarna peach. Dress sederhana tanpa hiasan apapun, hanya lipitan pada bahu serta area pinggul, namun tetap membuatnya terlihat anggun.
Rambutnya tergelung ke atas. Sepertinya, sekarang dia memanjangkan rambut, tidak seperti ketika kami sekolah. Dulu, rambutnya hanya sebatas bahu. Dia masih memiliki poni yang sama. Terbelah di tengah. Bibirnya terpoleh lipstik berwarna nude. Tampilannya begitu natural, tidak menampakkan usianya yang sudah 26 tahun. Dia masih cocok memakai seragam putih abu-abu.
Sepertinya, dia masih tidak menyadari--saat semua orang sedang menatapnya. Dia terlalu sibuk dengan pencariannya sendiri. Mungkin dia mencari sahabat-sahabatnya. Yang pasti, dia tidak mungkin mencariku. Mungkin, aku adalah satu-satunya orang dalam ruangan ini--yang tidak ingin dia temui. Aku menoleh ke samping, saat merasakan tanganku tergenggam erat. Aku hampir saja melupakan keberadaan wanita yang berstatus istriku. Maya tersenyum kecut.
“Dia datang,” ucap pelan Maya.
Aku hanya diam. tidak tahu harus merespon seperti apa. Dalam hati aku membenarkan. Ya … dia datang. Sekalipun aku tidak mungkin menghampirinya. Hanya dengan melihatnya, rasa bersalah kembali muncul. Gadis ceria itu, pernah menangis karenaku.
“Dia tidak berubah … masih terlihat seperti dulu,” gumam Maya.
Aku mendengarnya, dan kembali membenarkan dalam hati. Tampilannya memang tidak berubah, tapi aku yakin hatinya sudah sangat berubah.
Dia terlihat semakin kebingungan, saat salah satu sahabatnya mendorongnya ke atas panggung. Aku masih ingat sahabat-sahabatnya. Salah satu dari mereka bahkan pernah menghajarku habis-habisan, setelah aku membuatnya menangis.
Saat itu, aku tidak melawan. Aku tahu aku salah, dan aku pantas mendapatkan hajarannya. Dia hanya sekedar melampiaskan sakit hati sahabatnya. Tanpa sadar, aku tersenyum kecil--saat mengingat kejadian itu.
Beberapa hari aku terpaksa tidak masuk sekolah, karena luka di sekujur tubuhku—terutama wajah. Namun, ketika aku masuk, semua sudah berubah. Aku tak lagi pernah bisa melihatnya. Dia seperti hilang ditelan bumi. Tak pernah lagi berjalan sembari bersendau gurau bersama para sahabatnya. Tidak ada lagi dia, di antara teman-temannya. Aku sempat bertanya-tanya, apa yang terjadi dengannya? apakah ia memutuskan pindah sekolah?
Tahun terakhirku di sekolah itu--terasa seperti berada dalam neraka. Pandangan jijik, dan menghina teman-temanku, ketika melihatku dan Maya, juga cemoohan-cemoohan yang tidak mereka tutup-tutupi, membuatku gerah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Masih beruntung pihak sekolah tidak mengeluarkan kami berdua saat itu juga. Mungkin, kalau orang tuaku tidak memohon, saat itu aku dan Maya sudah putus sekolah. Entah akan seperti apa masa depan kami--jika itu terjadi.
“Nama?” tanya pembawa acara.
Tatapan mataku tidak lagi bisa beralih dari atas panggung. Tempat seorang wanita yang begitu aku rindukan berada dalam kebingungan. Wajahnya tampak lucu, sekaligus menggemaskan. Oh … dan lihatlah. Aku menggelengkan kepala, ketika melihat sebuah bolpoin yang ia gunakan untuk menjepit gulungan rambutnya. Aku penasaran, sudah sepanjang apa rambutnya sekarang. Rambut yang terasa begitu halus, dan lembut--saat aku membelainya. Apakah dia terlihat lebih cantik, dengan rambut panjang yang kini berwarna coklat itu? Pasti. Rambut pendek, atau pun panjang, dia pasti akan selalu terlihat cantik.
“Asean Sofi.”
Suaranya terdengar merdu, ketika menyebut namanya. Ya… Asean Sofi, nama gadis itu. Gadis yang pernah membuatku merasakan indahnya masa-masa sekolah, indahnya jatuh cinta, my first real love.
Asean Sofi, gadis yang pernah kubuat menangis, hingga mungkin hatinya hancur saat itu. Saat aku memutuskan untuk memilih Maya. Berada di samping Maya, saat dia terjatuh. Saat itu juga aku kehilangan Sean untuk selama-lamanya. Meninggalkan dia yang saat itu menangis pedih, membawa rasa bersalah hingga kelak aku mati. ‘Sean’ aku hanya bisa menggumamkan namanya dalam hati. Biar bagaimanapun juga, aku harus menjaga hati Maya. Semua sudah terjadi, dan aku sudah membuat keputusan 10 tahun yang lalu.
Bagaimana caraku agar bisa melupakan kenangan masa sekolah itu? aku sungguh tidak tahu. Apalagi ketika aku mendengar denting piano. Dari awal dentingan, aku tahu lagu apa yang akan Sean nyanyikan.
Dia seharusnya sudah melupakan lagu itu. lagu favorit kami berdua. Sean sering menyanyikannya, ketika kami bersama--dengan iringan petikan gitarku. Aku masih menyimpannya. Gitar itu. Dulu, Sean suka sekali setiap mendengar petikan gitarku. Dia bilang, aku punya bakat. Dia bahkan pernah mengatakan, mungkin suatu saat nanti kami bisa berduet, dan membuat album. Sayang … hal itu tidak akan pernah terjadi. Semuanya hancur karena kesalahanku. Aku sadar, aku kejam. Menyakiti gadis yang aku cintai demi sahabatku. Namun, aku tidak bisa membiarkan masa depan Maya berakhir, jika aku memutuskan untuk tetap bersama Sean.
Que Sera Sera
Mengalun indah dari bibir wanita yang masih begitu mempesona di mataku. Melihatnya menyanyi, membangkitkan memori kami kembali. Senyumnya, canda tawanya. Gadis yang malas berolah raga, namun tetap bisa menjaga tubuhnya. Seanku … dulu. sebelum aku menghancurkan hubungan kami.
Suaranya jauh lebih matang. Terdengar sexy di telingaku. Aku bisa melihat dengan jelas—Elang dan Sean dengan seragam putih abu-abu, berada di belakang sekolah. Duduk bersandar tembok keliling yang memisahkan sekolah kami. Aku memetik gitar di sisi tembok sekolahku, dan Sean bernyanyi di sisi tembok sekolahnya. Kegiatan yang sering kami lakukan di saat jam istirahat tiba. Terkadang, kami akan makan bersama. Aku akan memanjat tembok, untuk menerima uluran tepak darinya. Sean—bisa memasak. Ingatan itu kembali meremas hatiku. Seumur hidup, aku akan terus merasa bersalah padanya.
Bibirku hanya mampu terkatup rapat. Tidak seperti dulu, saat aku akan selalu ikut bernyanyi. Jantungku berdetak cepat, saat sepasang mata itu menyapu, dan berhenti tepat ke arahku. Suaranya bergetar, ketika tatapan kami terkunci. Keterkejutan yang terlihat di wajah cantik itu, apakah dia tidak tahu aku akan datang? ah … sepertinya begitu. Mungkin, dia tidak akan datang seandainya tahu, bahwa aku juga akan muncul di tempat ini. Aku hanya bisa menatapnya pilu. Memohon maaf atas apa yang pernah kulakukan padanya.
Kuikuti pergeseran bola mata itu. Rasanya, kini tubuhku mendingin--saat aku menyadari kemana sepasang mata itu kini menatap. Maya. Tak butuh waktu lama, hingga dia akhirnya memilih berpaling. Seolah tak sudi lagi melihat ke arah kami. Nafasku tertahan, merasakan sakit di hatiku.
Sepanjang sisa penampilan Sean, aku hanya berusaha terus menatapnya. Memuaskan dahaga kerinduanku padanya. Aku tidak tahu, kapan aku akan bisa melihatnya lagi setelah ini. Atau mungkin, ia akan kembali menghilang, seperti yang ia lakukan nyaris 10 tahun lalu. Membuatku tersiksa, karena tak lagi bisa melihatnya. Tidak di dunia nyata, maupun di dunia maya. Dia benar-benar menghilang.
Pernah, aku menstalker media sosial para sahabatnya. Berharap bisa sedikit saja mendapatka clue tentang keberadaannya. Atau, kalau aku beruntung, aku akan bisa melihat wajahnya. Namun nihil. Tak satupun petunjuk, apalagi photonya yang bisa kudapati dari media sosial sahabat-sahatnya.
Jantungku berdetak semakin tak beraturan, saat pemandu acara menanyakan status Sean. Sepertinya, ada yang terpesona olehnya. Tentu saja. Lelaki mana yang tidak akan terpesoana oleh gadis secantik, dan semenarik Sean. Dari pertama melihat saja, orang akan tahu semenarik apa kepribadian gadis itu.
Kupasang telinga lebar-lebar, untuk mendengar jawabannya, saat suara-suara riuh terdengar menyoraki gadis itu. Banyak desah kecewa terdengar, ketika Sean membuka mulut—menjawab pertanyaan yang terlontar untuknya.
Tanpa sadar, aku menghela nafas lega, saat Sean lebih memilih tidak menjawab pertanyaan tersebut. Menjadikan itu privasi untuknya. Apakah dia sudah memiliki kekasih? atau kah mungkin sudah bertunangan? tidak mungkin kan, gadis seperti Sean masih sendirian? Hatiku nyeri memikirkan kemungkinan itu.
Hatiku semakin teremas saat melihat para sahabat pria gadis itu dengan mudahnya memeluk tubuh gadis yang kucintai. Rasanya, amarah sudah berada di ujung kepalaku. Melihat bagaimana Sean tertawa bersama mereka, bolehkah aku menghajar mereka semua?