SEAN-
Aku tidak bisa mengartikan tatapan Pipin, setelah dia melerai pelukan kami. Ada rasa prihatin, kesal, marah, berbagai ekspresi yang terpancar. Kuhela nafas panjang.
“He was my past,” ucapku. Laki-laki itu memang hanya masa lalu bagiku. Sudah tidak ada artinya lagi. Kulirik teman-temanku yang sedang menatap ke arahku. Apa mereka mendengar bisikan Pipin di telingaku?
Melihat cara mereka menatapku--sepertinya tebakanku benar. Mereka mendengar. Kuputar bola mata jengah, mendapati tatapan prihatin mereka.
“Ayolah gengs … gue datang ke sini bukan untuk mengingat lagi orang yang sudah tidak layak gue ingat.”
Rasanya kesal ditatap seperti itu. Aku tahu mereka ikut merasakan apa yang aku rasakan saat itu. Tapi tetap saja, aku tidak suka ketika seseorang menatapku--kasihan.
“Benar … kita ke sini buat reuni geng kita. Lo sih, Pin … suka banget ngerusak suasana,” omel Dian, sembari memelototi Pipin. Sementara Ruri sudah menoyor baru pria itu—yang kemudian menunjukkan cengirannya.
“Ya … gue masih kesel aja sama dia. Rasanya, pengin nonjok wajah sok tampannya itu. Apalagi ngeliat istrinya … ugghhh … langsung mules gue.”
Aku tertawa melihat ekspresi wajah Pipin saat bercerita.
“Ngomong gitu di depan Sean. Siapa kemarin yang teken kontrak sama dia?” sindir Cungkring, yang langsung kena kaplok kepalanya.
“Apaan teken kontrak. Nggak ada, Cung. Dia cuma reservasi tempat buat teman-temannya di pemancingan gue. Ya masa gue harus nolak rezeki. Gue kan harus mikirin kesejahteraan karyawan gue,” sanggah Pipin, dengan wajah kesal. Aku hanya bisa tersenyum--menatap dua sahabatku yang sedang berdebat.
“Tetap aja itu namanya lo nggak setia kawan. Harusnya lo tolak mentah-mentah tuh duit orang songong.”
“Sudah … sudah … Pipin benar. Nggak boleh kita nolak rezeki. Banyak orang yang mohon-mohon tiap malam, supaya Tuhan kasih mereka rezeki. Lagian, gue nggak apa-apa kok, Cung. Lihat aja … gue tetep hidup, dan tetep cantik, kan?”
Kuangkat kedua alis, sembari mengukir senyum lebar. Sekalipun dalam hati menjerit-jerit. Aku masih saja merasa sakit hati. Tapi aku tidak boleh egois, dengan membenarkan pendapat Cungkring. Semua sudah berlalu. Life must go on.
Akhirnya, teman-teman mulai tertawa, lalu kami dengan sendirinya membuat posisi memutar, kemudian saling berangkulan. Seperti yang sering kami lakukan dulu.
Kami tertawa lebar, kembali merasakan kehangatan persahabatan kami. Aku berdoa dalam hati, semoga persahabatan kami tak lekang oleh waktu. Sekalipun kelak kami semua sudah mempunyai keluarga masing-masing. Mereka tidak hanya sahabat bagiku. Lebih dari itu—mereka saudara-saudaraku. Sekalipun tidak ada ikatan darah di antara kami.
“Gue kangen kita yang begini,” ucap Ruri, disela tawa kami. Kami mengangguk setuju—dengan senyum yang masih tersungging.
“Tapi, bisa nggak kita tetep begini--kalau nanti kita semua sudah punya keluarga sendiri-sendiri?” tanya Dian. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. Sama seperti yang kupikirkan.
“Emang kenapa nggak bisa? malah lebih asik, kan? kita bisa ajak pasangan kita, sekalian anak-anak. Kita jadi keluarga besar,” sahut si Robot. Senyumku semakin lebar. Kuanggukkan kepala dengan penuh semangat.
“Bener sih … kayaknya asik. Asal jangan ada yang ngilang-ngilang lagi.”
Kuputar bola mataku saat lirikan mereka mengarah padaku. Senyum lebarku sudah langsung pudar.
“Berapa kali gue mesti bilang, kalau dulu tuh, gue nggak ngilang. Gue cuma lagi belajar ngebolang,” candaku, yang membuat teman-temanku akhirnya tertawa.
Aku senang melihat binar di mata mereka. Senyum mereka lah yang dulu bisa menguatkanku. Dan sekarang pun, aku masih merasakannya. Dukungan yang mereka sampaikan--tanpa harus banyak bicara.
“Sekarang udah puas kan, ngebolangnya?” tanya Pipin. Kuangkat kedua bahuku.
“Seperti yang lo lihat. Gue udah di sini sekarang.”
“Ah … gue sayang kalian semua!!” pekik Ruri.
Kami kembali tertawa bersama. Momen yang paling kurindukan, tentang masa lalu. Mereka, bukan hanya sekedar sahabat untukku. They’re my family. Selamanya, aku akan menyayangi mereka, seperti aku menyayangi saudara-saudaraku sendiri. Hatiku sungguh merasa lega.
“Gue udah lapar nih, gengs. Boleh nggak sih, makan dulu?”
Aku melirik meja-meja yang sudah terisi penuh dengan makanan. Aku tidak sedang berbohong. Aku melewatkan makan siangku. Dan sekarang, perutku benar-benar sudah memprotes pemiliknya untuk segera memberinya makan.
“Emang siapa yang berani melarang Pak tentara?” Robot tersenyum miring dengan satu alis tebalnya terangkat tinggi. Aku tersenyum lebar. Kami melepaskan rangkulan tangan kami. Aku segera menghampiri Robot, lalu meraih lengan kokohnya.
“Ada yang cemburu nggak, kalau gue gandeng lo gini, Rob??” tanyaku sembari nyengir, mendongak agar bisa melihat wajah jahil sahabatku.
“Kalau pacar lo cemburu lihat kedekatan kita, itu berarti dia nggak cocok buat lo.”
Bukan aku yang ngomong, tapi Dian yang sudah berdiri di sampingku. Sahabatku itu tersenyum. Lalu menggandeng sebelah tanganku, mengajak kami berjalan menuju tempat di mana makanan-makanan nikmat itu terhidang.
“Ayo gengs … kita serbu makanannya. Biar aja yang lain masih main tebak-tebakan. Yang penting kita temani Bu Dokter yang sedang kelaparan ini. Biar punya tenaga buat bedah tubuh pasiennya.”
Dian membuatku terkikik. Memang benar, pembawa acara dan beberapa wajah yang aku kenali yang sedang berada di atas panggung--sedang mengadakan tanya jawab dengan hadiah sebagai iming-iming. Aku menggeleng takjub, saat samar-samar mendengar pertanyaan yang terlontar dari atas panggung.
“Siapa yang masih ingat rumus mencari kecepatan??!!”
***
Kami tidak mempedulikan lirikan-lirikan beberapa petugas hotel--ketika kami, dengan tanpa rasa sungkan, mengambil piring, dan mulai mengisinya dengan makanan yang kami inginkan. Setelah itu, kami mencari tempat duduk--untuk menikmati makanan kami, sembari mengamati acara yang sedang berlangsung.
“Lo lihat tuh si Nadine,” bisik Ruri. “Arah jam 10, Sean.”
Aku segera menggulir bola mata samar ke arah jam 10, seperti petunjuk yang Ruri berikan. Aku hanya bisa berdecak.
“Ini yang gue nggak suka dari acara reuni. Saat mereka yang merasa sudah lebih berhasil dari yang lain, sok memamerkan kemewahan,” balasku, tak suka melihat bagaimana penampilan salah satu teman seangkatan kami.
Tas hermes, pakaian dengan merk LV yang tercetak pada printingannya, lalu perhiasan yang nampak seperti berlian asli. Entahlah … aku belum pernah punya berlian, jadi tidak tahu jika itu palsu sekali pun.
“Kan dari dulu dia emang suka pamer. Kayaknya, kata ‘pamer’ itu berasal dari DNA nya, jadi ya, gitu deh,” komentar Dian.
Kami, para cewek memang duduk bersama, sementara para cowok duduk tak jauh dari kami. Sebenarnya, bukan hanya Nadine yang tampil dengan kemewahannya. Banyak peserta reuni melakukan hal sama. Untunglah, kami bukan termasuk orang-orang yang suka menjadi perhatian--karena penampilan semata.
Sahabat-sahabatku tampil sederhana. Tidak berlebihan. Termasuk Pipin, yang paling kaya di antara kami semua. Sahabatku itu, tampil tidak berlebihan. Meskipun aku tahu, pakaian yang melekat pada tubuhnya, serta sepatu yang membungkus kedua kakinya itu--sudah pasti bernilai jutaan rupiah.
“Woahhh … “ gumam Ruri yang membuatku, dan Dian menoleh ke arahnya. Ruri membuka lebar mulutnya.
“Ternyata dia ketua panitianya. Ckckck ….“
Keningku mengernyit bingung. Kuikuti arah pandangan mata Ruri. Panggung, adalah fokus kedua mata sahabatku saat ini. Aku mengerjap. Dia ada di sana dengan mikrofon di tangan.
“Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktu--untuk bisa kembali berkumpul, sekaligus mengenang masa sekolah kita. Ada suka, juga ada duka. Tapi, yang pasti, kenangan masa SMA adalah kenangan terindah, yang tidak akan bisa saya pribadi lupakan. Mungkin, teman-teman ada yang merasakan hal yang sama seperti saya.”
Aku hanya bisa terpaku mendengar ucapannya. Memaki dalam hati … karena memang benar, kenangan masa itu masih melekat kuat dalam memoriku. Sekalipun aku ingin sekali bisa melupakannya.
Dia tertawa renyah. Tentu saja. Mungkin baginya, masa SMA memberinya kenangan paling indah, tentang persahabatan, dan hubungan kasihnya dengan wanita yang sudah menjadi istrinya. Berbanding terbalik denganku, karena masa itu adalah masa aku merasa benar-benar terpuruk.
Rasa sakit, kembali dengan cepat menggerogoti hatiku.
Entah dia menyadari tatapan tajamku, ketika tiba-tiba kepala itu menoleh tepat ke arahku. Seperti ketika kami pertama bertemu tatap, aku masih bisa melihat keterkejutannya. Sepasang mata itu mengerjap, tanpa mengalihkan arah sorot mata yang tiba-tiba meredup.
Kutatap dia penuh kebencian. Kurasa emosiku benar-benar meluap sekarang. Melihatnya tertawa, menertawai masa lalu kami. Mungkin, dalam hatinya, apa yang terjadi pada kami--hanya guyonan yang sering ia perbincangkan dengan istri tercintanya. Mungkin baginya, rasa sakit yang ia torehkan di hatiku, hanya gurauan semata.
Entah sejak kapan, gigi-gigiku sudah mulai bergemeletuk--menahan amarah yang mengaliri sekujur tubuhku. Ingin sekali kulempar piring di tanganku ke wajahnya. Wajah yang sialnya semakin tampan, dengan bertambahnya kedewasaan pria itu. Ia terdiam beberapa saat--hingga senggolan pada lengannya, membuat pria itu tersadar, lalu mengalihkan tatapan matanya.
“Br*ngsek …,“ gumamku lirih. Kurasakan usapan di punggung tangan, juga punggungku. Kedua sahabatku pasti menyadari apa yang baru saja terjadi--tanpa aku perlu bercerita.
“Gue benaran pengin bunuh orang sekarang. Boleh nggak, sih?” Aku menggeram tanpa sadar.
Dia bisa tertawa di atas penderitaan yang ia torehkan di hatiku. Kurasa, tidak ada pria yang lebih b******k dari dia. Pria yang sayangnya juga pernah membuatku merasakan bahagia karena dicintai. Ternyata, itu semua hanya omong kosong. Harus kuacungkan dua jempol ke arahnya. Luar biasa akting pria itu, hingga mampu membuatku percaya--jika dia tulus mencintaiku.
Lalu, hari itu datang … dan … boom!! Semuanya hancur seketika. Tidak ada lagi cinta. Semuanya hanya permainannya saja. Semuanya semu. Kebohongan yang dengan begitu mulus dia lakoni, tanpa aku sadari.
Aku beranjak dengan kesal. Tidak tahan berada lama-lama di tempat yang sama dengan pembohong sepertinya.
“Sean … mau kemana?” Ruri, dan Dian serentak ikut berdiri, lalu mengikutiku. Rasa laparku sudah hilang, padahal makanan dalam piringku masih setengah. Sayang sekali, aku harus membuang makanan begitu saja. Aku berjalan cepat. Tak kuhiraukan panggilan teman-temanku yang terdengar panik.
“Aww!!“
Kuhentikan langkahku, saat tak sengaja aku menabrak bahu seseorang.
“Sorry….“ Kuputar tubuhku, untuk meminta maaf. Rasanya, malam ini kesialan selalu berada di sekelilingku. Tubuhku rasanya lemas seketika.
“Se-Sean??”