SEAN-
Aku menahan bola mataku, agar tidak membesar--ketika melihat siapa yang tak sengaja kutabrak. Nafasku terasa tertahan di tenggorokan. Dengan susah payah, kucoba untuk bisa kembali bernafas dengan normal. Hampir saja aku kehilangan kendali emosi, hanya karena kata-kata pria itu.
Aku hampir melupakan usaha kerasku selama 9 tahun terakhir. Dalam hati, aku menasehati diriku sendiri … jangan lemah, Asean. Jangan kalah.
Perlahan, kuhembuskan nafas. Kupasang ekspresi sumringah, seolah baru saja bertemu dengan sahabat lama--setelah sekian lama. Kutepis semua rasa benci, dan marah, yang menggerogoti hatiku. Mengingat kembali bagaimana penyakit hati bisa menjadi penyebab berbagai macam penyakit yang menyerang tubuh kita.
“Eh … Mbak Maya. Sorry nggak sengaja. Mbak nggak apa-apa, kan?”
Aku bisa melihat wajah terkejut wanita itu. Kuberi dia senyum lebar. Kedua bola mata itu, mengerjap lambat. Mungkin, dia sedang mencoba memahami apa yang terjadi. Jangan harap kamu akan mendapati Asean yang masih bersedih, dan sakit hati--setelah apa yang kalian lakukan padaku … gumanku dalam hati.
Sekalipun aku harus menangis dalam senyumku, aku tidak akan pernah membiarkan mereka merasa menang. Yang perlu mereka lihat, hanyalah Asean yang kuat. Asean yang tetap baik-baik saja, sekalipun sudah pernah mereka hancurkan--hingga berkeping-keping. Kulirik Ruri, juga Dian yang entah sudah berapa lama berdiri di sampingku.
“Kalian masih ingat sama Mbak Maya, kan? itu lho … istrinya Mas Elang.”
Lidahku rasanya begitu kelu, ketika kupakai untuk menyebut namanya. Selama ini, aku selalu berusaha menghindari menyebut nama itu. Nama yang akan selalu mengingatkanku, akan bagaimana rasanya jatuh cinta, dan patah hati. Rasanya tak bisa kuceritakan. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan bagaimana rasanya berada di posisiku waktu itu. Saat cinta sedang membumbung tinggi, lalu dalam sekejap mata, dihempas begitu kuat. Dijatuhkan oleh pria yang sama.
“Umm … ya … hai, Mbak.” Kurasa, Ruri tak tahu harus merespon bagaimana.
Aku terkekeh, merasakan perih yang menusuk-nusuk di dalam dadaku.
“Apa kabar, Mbak?” Dian, yang sebelumnya hanya diam dengan wajah cengo--akhirnya bisa mengeluarkan pertanyaan.
Yah … meski pertanyaan standar, karena aku rasa--dia juga pasti bingung harus berkata apa. Wanita bernama Maya itu bergerak tidak nyaman. Dalam hati, aku bersorak. Satu sama … batinku.
“Oh iya … udah punya dedek berapa sekarang?” tanyaku, dengan senyum yang kubuat semanis mungkin, meskipun lagi-lagi aku merasakan hujaman rasa sakit menghantam dadaku.
Kurasa, aku masih belum ingin berhenti menyakiti diriku sendiri. Berharap hingga akhirnya aku akan merasa kebas. Tak lagi bisa merasakan rasa sakit itu. Bukankah itu baik untukku? aku melihat wajah wanita itu memerah.
Tak terasa, keningku sudah mengernyit dalam. Entah wanita itu marah, atau malu. Tapi, kenapa dia harus marah, ataupun malu--untuk menjawab pertanyaanku? Bukankah, orang yang sudah menikah paling suka membicarakan tentang anak-anak mereka? aku mendengus samar. Tidak ingin wanita itu menyadarinya.
“Eh … Sean … lo mau kemana?” kedua bahuku langsung melorot, begitu mendengar suara di belakangku. Para pria ikut menyusulku. Kuputar bola mata, sebelum berbalik.
“Gue mau ke toilet. Kalian semua mau ikut??” kutunjuk semua sahabat-sahabat cowok ku, yang langsung mengeluarkan cengiran mereka.
“Kirain lo mau kabur karena lihat si El—” ucapan Cungkring terhenti, ketika mulutnya dibekap Demit. Sepertinya, cowok itu belum menyadari siapa yang sedang berada bersamaku, Ruri, dan Dian.
Tak terasa, tubuhku menegang kaku. Jantungku berdetak kencang. Syukurlah … Cungkring tak lagi melanjutkan kalimatnya. Kedua mata cowok itu melebar, ketika sudah menyadari seseorang yang sedang bersama kami. Ia kemudian tersenyum kikuk.
“Eh … ada Mbak Maya cantik. Apa kabar, Mbak?” Dengan salah tingkah, Cungkring menyapa.
Maya tersenyum kaku. Wajahnya merah padam. Aku sendiri bingung, dengan reaksi istri pria itu. Merasa aneh.
“Sa-saya … baik. Maaf, saya harus ke sana.” Buru-buru wanita itu pamit, lalu berjalan tergesa meninggalkan kami. Aku masih menatapnya bingung. Ada apa dengan wanita itu?
“Aneh …,“ gumam Ruri di sampingku. Aku hanya meliriknya, masih lebih tertarik mengamati ke mana wanita itu pergi. Menyusul suaminya, kah?
“Iya, ik … aneh ….“ Dian menyahuti.
“Gue juga nggak paham.” Akhirnya aku juga mengomentari.
Wanita itu tidak menyusul suaminya yang masih betah di atas panggung. Kuhela nafas panjang. Rencanaku untuk kabur gagal. Sekarang, aku justru harus benar-benar ke toilet, untuk memuluskan alibiku. Supaya sahabat-sahabatku tidak tahu--jika tadi, aku hanya berbohong. Hanya menggunakan toilet sebagai alasan.
Aku sudah berbalik, dan akan melangkah kemana saja untuk mencari keberadaan toilet. Mungkin aku bisa membasuh muka, atau mengguyur kepala sekalian. Mendinginkan kepala yang terasa begitu panas. Namun, langkahku lagi-lagi harus tertahan, ketika mendengar namaku dipanggil.
“Mbak Asean …!! Mana ya tadi Mbak Asean Que sera sera …!!”
Aku menoleh bingung--mendengar namaku dipanggil dengan pengeras suara. Aku bertatapan dengan Dian, juga Ruri--yang terlihat sama bingungnya denganku. Kualihkan pandangan ke arah suara berasal. Panggung!! Gila … tubuhku rasanya langsung lemas, ketika lagi dan lagi, pembawa acara itu memanggil namaku.
“Mbak Asean yang saat nyanyi damage nya naik 1000 kali, ayo … sini ke atas panggung!”
Aku mengerjap, sementara sorak sorai para peserta reuni kembali terdengar. Apalagi sih … batinku. Apa aku membuat kesalahan lagi, sehingga harus dihukum? Aku mengerang dalam hati. Come on … ini acara reuni, bukan sekolah yang sedikit-sedikit kena hukuman. Apa karena aku sudah mengambil makanan terlebih dahulu, sebelum dipersilahkan? arrggghh … kesel. Kuhentak kakiku kesal, sebelum melangkah menuju panggung sekali lagi.
“Eh … sini, tas aku bawain.” Dian menyusul langkahku. Kuserahkan tas cangklong, dan goody bag yang aku tenteng sedari tadi.
“Gila … ngapain lagi gue disuruh ke panggung,” gumamku tidak habis pikir.
“Suruh joget kali,” sahut Dian, yang langsung kupelototi.
Dian tertawa. Memutar tubuhku, lalu menepuk pelan punggungku. “Udah sana … siapa tahu dapat doorprize,” lanjutnya.
Kugelengkan kepala, sembari tertawa kecil. Ah … ada yang lupa. Bolpoin yang masih bertengger di kepalaku. Kucabut, lalu kulemparkan ke Dian yang dengan sigap menangkapnya. Dengan jari, kurapikan sedikit rambut, yang sudah menyentuh pinggang saat kugerai.
Aku masih mendengar tawa Dian, dan teman-teman di belakangku. Bodo amat … aku akan buktikan pada pria yang sedang menghunuskan tatapannya itu--bahwa aku baik-baik saja. Siapa dia? gak kenal!! … aku terus berbisik dalam hati. Menyemanggati diriku sendiri, agar tidak terlihat menyedihkan di depan dua orang yang sudah menghancurkanku.
Mereka salah, jika berpikir sudah membuatku benar-benar hancur. Sebaliknya, mereka membuatku menjadi Asean yang jauh lebih kuat. Mereka akan menyesali perbuatan mereka. Untung saja malam ini aku memakai heels yang lumayan tinggi. 12 centi, heels yang hanya menjadi pajangan di rak sepatuku selama ini.
Aku lebih suka memakai flat shoes, atau sneakers saat ke rumah sakit. Sesekali pakai wedges. Sebenarnya, aku punya beberapa ukuran heels di rumah, yang paling tinggi 12 centi yang sekarang aku kenakan. Kata Ibu, cewek akan terlihat lebih feminim ketika memakai heels.
Senyum lebar pembawa acara menyambut kehadiranku … kembali ke atas panggung. Beberapa orang yang aku tahu pasti para panitia acara ini--tersenyum. Tentu saja, kecuali satu orang itu.
“Wah … ternyata damagenya bukan lagi naik 1000 kali, gaes. Tapi 10000 kali … benar nggak? Ayo cowok-cowok yang masih single, bisa antri buat kenalan. Tapi nanti ya … setelah acara selesai.”
Aku hanya bisa menggelengkan kepala, melihat antusiasme pada cowok yang langsung membuat ricuh suasana.
“Begini Mbak Asean. Tadi kan Mbak Asean—”
“Sean. Panggil Sean aja,” potongku.
“Ah … oke. Tadi kan Mbak Sean sudah berbaik hati menghibur kami semua, jadi dari pihak panitia ingin memberikan sesuatu untuk Mbak Sean. Buat kenang-kenangan gitu. Betul kan, ya?” Pria itu menoleh ke arah beberapa orang yang sedang berdiri berjajar tak jauh dari tempat kami.
Seorang cewek mengangguk. Dari gerak bibirnya, aku bisa membaca “Ya … benar.”
Aku bernafas lega. Kirain aku akan diminta untuk menghibur lagi. Aku tersenyum senang menanggapi.
“Aduh … jangan senyum gitu, Mbak. Lemah nih iman saya.”
Kugelengkan kepala, mendengar gombalan Mas pembawa acara. Sepertinya, bayaran orang ini mahal--karena pandai sekali mengidupkan suasana. Dengar saja riuhnya teman-teman alumni--menanggapi gombalannya. Pria itu terkekeh, lalu kembali menoleh ke samping.
“Silahkan … siapa yang akan mewakili panita, untuk memberikan kenang-kenangan pada Mbak Sean.”
Kulihat kelompok panitia yang terlihat sedang berembuk. Entah apa yang mereka diskusikan. Padahal, hanya persoalan memberikan bingkisan. Masalah gitu aja harus diskusi lebih dulu. Gimana kalau mereka menghadapi pasien kecelakaan yang berdarah-darah.
Menunggu mereka berdiskusi, sudah keburu lewat pasien itu … gumamku dalam hati. Kulihat pria itu menoleh ke arahku. Rasanya jantungku berhenti berdetak untuk sesaat. Segera kunormalkan ekspresi wajah, yang sesaat terkejut. Kuangkat kedua alisku. Kutantang dia.
Melihatnya, dan bertemu tatap dari dekat, bukan hal mudah untukku. Sekalipun aku sudah berusaha keras membuang wajah itu dari ingatan—nyatanya, begitu melihatnya—semua usahaku terasa sia-sia.
Aku harus memunculkan memori terakhir kami bertemu. Di parkiran sekolah. Saat dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, tanpa alasan yang jelas. Alasan yang baru kuketahui selang beberapa hari setelah kami berakhir, ketika aku mendengar berita yang menggemparkan sekolah kami. Ternyata benar, Elang, dan Maya—mereka tidak hanya bersahabat. Hubungan mereka lebih dari itu. Mungkin, waktu itu, Elang memang hanya ingin mempermainkanku.
Hanya dengan terus mengingat kejadian pahit itu, aku bisa menguatkan hatiku—untuk tidak kembali terjatuh.
“Jangan kalah … jangan kalah ….“ Kusugesti diriku sendiri. Aku tidak boleh terlihat lemah di depannya. Tidak … tidak sekarang. Nafasku semakin tercekat, saat aku melihat pria itu menerima bingkisan dari salah satu temannya, lalu mulai berjalan ke arahku.
“Jangan kalah … jangan kalah ….“ Terus kubisikkan kata-kata itu dalam hati.
Kuremas telapak tanganku. Kutahan getar yang tetap saja keluar. Kutarik nafas panjang, lalu kulebarkan senyum di wajahku, saat ia sudah tinggal beberapa langkah dariku. Kedua mata itu menyorotku.
Bau parfum wangi maskulin yang menenangkan--segera saja tertangkap indera penciumanku. Tak sadar, kuhirup dalam-dalam. Sekalipun dalam hati merutuki kebodohanku, tetap saja hidungku gatal untuk tidak menghirup sebanyak yang aku bisa, untuk kusimpan dalam memoriku. Kotak terbungkus sampul gold itu terulur ke depanku. Bibirnya mulai bergerak.
“Terima kasih … sudah datang.”