Bab 7. Berhadapan Dengannya

1412 Kata
Akhirnya, aku benar-benar bisa bertemu dengannya—setelah sekian lama. Berdiri di hadapannya. Menatap wajah cantiknya, yang semakin terlihat dewasa. Dia benar-benar terlihat sangat cantik dengan rambut panjang yang tergerai. Satu perbedaan dari Sean dengan seragam putih abu. Dia tersenyum lebar. Terlihat begitu bahagia. Benarkah dia sebahagia ini?? Karena bertemu denganku??? Ah … sepertinya, aku hanya besar kepala. Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa dia bahagia bertemu dengan seseorang yang sudah menorehkan luka begitu dalam. Kumaki diriku sendiri dalam hati. Dia menerima uluran bingkisan dari tanganku. Kepalanya menunduk—menatap sejenak bungkusan yang sudah berada dalam tangannya tersebut, sebelum kembali mendongak untuk menatapku. Kuulurkan tangan kananku. Dia terlihat ragu, sebelum akhirnya meraih tanganku. Dingin. Tangan kami sama-sama terasa dingin, saat aku merasakan telapak tangannya. Inginku menyalurkan kehangatan untuk telapak tangannya yang dingin, namun—aliran darah dalam tubuhku seolah berhenti. “Terima kasih,” ujarnya, sembari kembali menatapku dengan senyum lebar. Suaranya terdengar begitu merdu di telingaku. Runguku bahkan sudah tidak bisa mendengar apa-apa, selain hanya suaranya, yang ingin terus kudengar. Aku ingin dia kembali berbicara, agar aku bisa merekam, dan menyimpan suaranya dalam ingatanku. Aku mendesah kecewa, saat kurasakan—telapak tangan dalam genggamanku—bergerak. Melepaskan diri dari telapak tanganku yang masih haus akan kulit lembutnya. “Apa kabar??” tanyaku lirih. Kulihat sepasang bola matanya berlari ke arah lain. Inginku ... Dia hanya menatapku. Seperti dulu. Satu sisi batinku—menertawakan keinginanku. Memangnya siapa aku? Benar-benar lucu. Aku adalah pria yang sudah beristri, dengan satu putri. Aku merasa malu sendiri, ketika mengingat statusku. Tidak selayaknya aku bersikap seperti ini. “Masih hidup. Masih berdiri … sekalipun pernah kamu patahkan.” Suaranya terdengar begitu sinis, sekalipun wajahnya menampakkan senyum. Aku kehilangan kata-kata, saat mendengar jawaban yang seketika langsung menghujam tepat ke jantungku. Rasanya begitu sulit untuk bisa bernafas dengan normal kembali. “Sudah kan, Mas?? Saya boleh turun?” Refleks, kuikuti pergerakan kepala Sean. Wanita yang masih berdiri di depanku ini, sedang berbicara dengan pemandu acara. Ya … Sean lebih memilih berbicara dengan orang itu—di banding aku, yang jelas ada di depan matanya. “Oh … trus gimana ini yang pada mau daftar, Mbak Sean?? Boleh??” Pemandu acara itu berjalan mendekat. “Maaf Mas, saya sedang tidak buka lowongan.” Sean menjawab dengan wajah datar. Sepasang mata gadis itu bergerak turun naik—memperlihatkan bulu-bulu mata lentiknya. Tanpa sadar, aku bahkan tidak ingin berkedip. Inginku menikmati pemandangan yang dengan leluasa kudapat saat ini—seterusnya. “Wah … sudah keisi ternyata tempatnya, gaes ….” Pembawa acara itu tertawa girang. Lalu terdengar desah kecewa dari beberapa orang yang aku yakin—adalah para pria yang ingin memiliki kesempatan berkenalah dengan Sean. “Oh iya, salam buat istri, dan anak kamu.” Kuputar kembali kepalaku ke depan. Dua detik kami saling bertatapan, sebelum Sean memilih memutar tubuh. Lalu menghela langkahnya turun dari panggung. Tanpa merasa perlu menunggu respon dariku. Lagi-lagi tanpa perintah dari otak, mataku mengikuti pergerakan wanita itu—hingga berada di bawah panggung, lalu suara pembawa acara—membuatku kembali mengalihkan pandangan. Sudah waktunya—kami, para panitia turun dari panggung, untuk menikmati makanan yang sudah disajikan oleh pihak hotel. Tiba di bawah panggung, beberapa teman mengajakku untuk bersama mengambil makanan. Kuedarkan mata, mencari keberadaan istriku. “Silahkan duluan. Aku cari istriku dulu.” Kupersilahkan teman-temanku untuk pergi terlebih dahulu, sementara aku melanjutkan langkah—mencari keberadaan Maya. Mungkin dia masih menungguku di kursi yang sama, ketika aku meninggalkannya. Kuhembuskan nafas lega, saat sepasang mataku—menangkap keberadaan Maya. Seperti tebakannya, wanita yang sudah melahirkan seorang anak itu—masih ada di tempat yang sama. Segera kuhela langkah menghampiri. “Sudah makan??” Maya tersentak, sebelum kemudian memutar kepala, lalu tersenyum. “Nunggu kamu.” Kuanggukkan kepala. “Ayo,” ajakku, yang kemudian membuat wanita iti beranjak dari kursi. Kami berdua berjalan bersisihan menuju meja-meja yang sudah dipenuhi dengan kerumunan. Tanpa kusadari, bola mataku bahkan bergulir dengan sendirinya. Mencari. Namun, tak jua menemukan. “Tadi aku ketemu dia.” Aku mengernyit. Kuputar kepala ke samping. Menatap Maya dengan sorot bertanya. Wanita itu mendesah, sebelum kembali membuka mulut, untuk menjawab tanya tak terucapku. “Mantan kamu!” ketusnya. Terlihat begitu kesal, saat mengatakannya. Mataku memicing. Tidak suka dengan caranya berbicara. Mantanku punya nama. “Namanya Sean,” sahutku, sama ketusnya. Dia melirikku tidak suka. Kuhembuskan nafas panjang. Aku tidak ingin memulai pertengkaran. Lagi. “Kapan kamu bisa membuang nama itu???” Refleks, kuhentikan langkah kakiku. Kuputar tubuh, untuk bisa menghadap ke arah Maya. “Apa yang kulakukan selama ini masih kurang??” Kutatap sepasang mata wanita yang sudah 9 tahun menjadi istriku. Aku sudah berusaha menjadi seorang ayah yang baik. Mungkin … aku memang bukan suami yang baik—saat pada kenyataannya, masih banyak tuntutan Maya yang belum bisa kukabulkan. “Kamu tahu apa yang kuinginkan.” Dia tidak menjawab tanyaku. Kuambil oksigen sebanyak mungkin. Dia selalu saja dengan mudah memancing emosiku. Aku tidak ingin bertengkar di tempat umum. Kuputar kembali tubuhku, lalu kulanjutkan hela kedua kakiku. Aku tahu dia mengikutiku di belakang. Apa yang dia inginkan setelah semua yang kukorbankan?? Apa dia masih belum puas membuatku membuang jauh-jauh bahagia yang pernah kurajut bersama gadis yang kucintai?? Kenapa dia masih saja merasa kurang? Membuang nama Sean?? Aku pun mau—seandainya bisa. Sayangnya, nama itu sudah mengakar dengan kuat di dalam otak, dan hatiku. Bahkan di bawah alam sadarku—aku yakin akan selalu mengingat nama itu. “Biar aku ambilkan.” Kuturunkan kembali tanganku yang sudah terangkat untuk mengambil piring. Dengan cepat, Maya mengambilkan beberapa menu—yang dia tahu aku pasti suka. Maya istri yang baik. Dia juga pandai memasak. Memanjakan perutku, dan perut putri kami, dengan olahan tangannya yang lihai. Segera kuterima uluran piring yang sudah terisi. Kutunggu dia mengambil porsi untuknya, sebelum kemudian kami berjalan mencari tempat untuk duduk. Tidak ada perbincangan sepanjang kami mencari kursi yang kosong. Suara derai tawa yang terdengar cukup keras—dari beberapa orang, membuat kami berdua menoleh. Kakiku berhenti dengan sendirinya. Dia ada di sana. Sedang tertawa dengan sahabat-sahabatnya. Kutolehkan kepala, saat mendengar suara decakan. “Mata kamu tidak bisa beralih, kalau sudah lihat dia.” Lagi … Maya memancing emosiku. Aku hanya refleks melihat—saat runguku terganggu dengan suara tawa yang cukup keras. Kalimatnya seakan menunjukkan jika aku sering melakukan tindakan yang dituduhkannya tersebut. Melihatnya?? Hari ini bahkan pertama kali setelah sekian lama—aku bisa melihatnya. “Aku pria normal,” sahutku dengan kesal. Biarkan saja dia mau berpikir seperti apa. Sekalipun kujelaskan, otaknya yang sudah terlanjur berburuk sangka, tidak akan pernah mau menerima. Dia hanya akan terus bertahan dengan pendapatnya sendiri. Jadi … percuma. Kulanjutkan langkah, menuju beberapa kursi yang terlihat kosong. Duduk, aku segera menikmati isi dalam piringku. Membiarkan sunyi yang menemani kami berdua. Ah… tentu saja bukan suasana sunyi yang sebenarnya, karena ada suara denting sendok beradu dengan piring, dan juga ada suara teman-teman yang sedang bercakap—yang mengisi ruang di antara kami. Hanya… tidak ada percakapan antara aku dengan Maya. Bahkan … hingga isi dalam piringku kosong. Aku membungkuk—meletakkan piring kosong di bawah kursi—agar tidak terinjak. Kulirik istriku, yang terlihat enggan mengunyah. Tatapan matanya terlihat tidak bersemangat. “Kamu tidak ingin berkumpul dengan teman-teman kita??” tanyaku memecah kesunyian. Maya hanya melirikku, lalu menggeleng. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, jika memang dia tidak menginginkannya. “Buat apa??” Tiba-tiba Maya bersuara, dengan nada tanya. Membuatku menoleh, dengan dahi berkerut. Menatap tidak paham wanita yang sudah hidup bertahun-tahun denganku—nyaris satu dekade. Maya perlahan melepaskan sendok yang sebelumnya masih ia pegang. Kepala wanita itu menoleh, hingga kami bisa benar-benar bertatapan. “Sudah sekian lama, dan mereka masih menatapku jijik,” sahutnya—dengan air muka yang sudah berubah keruh. Aku mengerjap. Kupikir, teman-teman sudah melupakan kejadian itu. Selama aku berinteraksi dengan beberapa teman pria kami—aku merasa semua sudah normal. perbincangan kami nyaman. Tidak ada pembahasan mengenai masa lalu memalukan itu. Apakah teman-teman wanita kami masih belum bisa melupakan kejadian di masa lalu tersebut? Aku mendesah. “Tidak perlu didengarkan. Kalau dulu kamu bisa, harusnya sekarang sudah lebih bisa.” “Aku benci mereka menanyakan anak itu.” Tanpa sadar, gerahamku mulai saling menekan kuat. Tidak ada yang salah dengan putri kami. Yang salah adalah orang tuanya. Aku mencintainya—seperti apapun dia. Bagiku, dia adalah alasan aku tetap bertahan dengan kehidupanku saat ini. Bagiku … dia tetap adalah matahari yang menyinari setiap hariku. Lowry Adifa Dirgantara. Putri kesayanganku, yang kini sudah berusia delapan tahun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN