SEAN-
Berkutat dengan pekerjaan, dan tugas residence yang sedang kujalani, membuatku cukup tak punya waktu untuk sekedar berselancar di dunia maya. Apalagi untuk hangout bersama sahabat-sahabatku. Terutama, dua sahabat cewekku, yang cerewetnya minta ampun. Heboh tak terkira kalau sudah ngumpul, dan ngobrol. Bahan obrolan tak jauh dari yang namanya makhluk berjakun. Maklumlah, di usia yang sudah 26 tahun, kami bertiga masih jomblo. Jomblo menaun, kalau kata Ruri.
Kuhempaskan tubuh lelahku, ke kursi di ruang istirahat Dokter. Kuhela nafas panjang. Hari ini benar-benar melelahkan. Pasien yang masuk UGD tak henti mengalir. Satu selesai, dua lagi sudah mengantri. Begitu terus, hingga rasanya tubuhku kini tak lagi bertenaga. Sudah terkuras habis, melayani para pasien. Lalu, tumpukan tugas di atas meja--membuatku mengerang frustasi.
Laporan harus segera kuselesaikan, dan kukumpulkan besok. Kuangkat kedua tangan untuk memijit kepalaku. Rasanya sudah mau pecah saja, membayangkan entah harus bergadang sampai jam berapa malam ini--untuk bisa menyelesaikan tugas dari Dokter senior pembimbingku.
Denting ponsel membuatku menegakkan tubuh. Dengan malas, kuraih ponsel yang berkedip di atas meja. Membuka password, lalu melihat notifikasi yang baru masuk.
Suara berisik tang, ting, tang, ting, membuatku kesal. Belum juga aku melihat notikasi pertama, notifikasi yang lain sudah masuk seperti hujan yang mengucur deras. Segera kugulir notifikasi yang menyatakan adanya pesan tautan dari media sosial Ruri.
Rasanya mataku hampir saja copot, melihat apa yang terpampang pada layar ponselku. Caption yang ditulis Ruri hanya ‘memori‘ Tapi, photo yang diunggah membuatku terkejut. Photoku saat menjabat tangan pria itu di atas panggung. Setelah aku menerima bingkisan dari panitia reuni. Mataku semakin melotot, ketika denting ponsel terus berbunyi. Segera kumatikan notifikasi supaya tidak menggangguku. Kugelengkan kepala, saat mulai membaca komen yang langsung menyerbu media sosial milikku. Media sosial yang baru kuaktifkan kembali, beberapa waktu lalu.
“Ketemu mantan di acara reuni. Gimana rasanya?”
“Wow … masih ada getaran nggak tuh tangannya?”
“Aww … mantan pasangan tempo doeloe.”
“Wah … bisa ya, baik-baik saja jabatan sama mantan.”
“Lindungilah Sean ku dari godaan Elang terkutuk.”
Aku tidak bisa menahan tawa, ketika membaca komentar yang dikirim Cungkring. Disertai emoticon tangan menengadah, layaknya orang sedang berdoa. Tanganku terus mengulir ke bawah. Membaca komentar teman-teman masa SMA. Aku mendengkus.
Hubunganku dengannya memang sudah jadi rahasia umum waktu itu. Bagaimana tidak, saat aku yang biasa-biasa saja, berpacaran dengan dia yang dielu-elukan banyak cewek. Selain karena berasal dari keluarga terpandang, dia juga terkenal karena kepiawaiannya bermain gitar.
Dalam olah raga, dia juga dipercaya menjadi kapten tim basket sekolah kami. Prestasi akedemik juga tidak terlalu mengecewakan. Paling tidak, dia selalu masuk 10 besar—yang aku tahu setelah kami berada dalam satu sekolah yang sama.
Kalau ditanya apa prestasiku … aku sendiri bingung harus jawab apa. Tidak seperti harapan Ibu ketika memberiku nama Asean. Aku tidak suka oleh raga. Hobiku tidur, makan, nonton drama Korea ataupun Jepang.
Kalau aku ngendon di perpustakan, bahkan hingga 1 jam--ketika kelas tidak ada guru, itu karena aku membaca novel. Bukan membaca buku-buku sekolah. Prestasi akademik mungkin bisa sedikit kubanggakan, karena paling tidak--aku bisa bertahan di 5 besar, hingga aku lulus.
Prestasi tertinggiku saat ujian nasional. Nilaiku tidak ada yang dibawah 9, hingga para guru tercengang. Kalau kupikir-pikir, seharusnya aku bersyukur, ketika dia memutuskan untuk meninggalkanku demi cewek lain. Karena saat aku merasa benar-benar terpuruk, saat itulah aku mengubur diri dengan tumpukan buku-buku sekolah, mengerjakan berbagai latihan soal ujian nasional. Karena hanya dengan cara itu, aku bisa sedikit melupakan sakit hatiku. Melupakan dia.
Kuletakkan kembali ponsel ke atas meja. Kutatap tumpukan data yang harus segera kuolah menjadi sebuah laporan. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, ketika kulirik jam dinding yang menggantung. Kuhembuskan nafas kasar. Saatnya kembali bekerja Sean … batinku.
***
Kubuka mata dengan susah payah, ketika kurasakan goyangan di bahuku. Kukerjapkan mata untuk mendapatkan kembali fokus pandanganku.
“Oh … hai Dok.” Kusapa sosok yang berdiri membungkuk di depanku.
Aduh … rasanya tubuhku pegal semua. Aku meringis saat mencoba menegakkan tubuh. Leherku terasa sakit. Sepertinya, karena posisi tidur yang pastinya salah. Aku sendiri tidak sadar, jam berapa aku jatuh tertidur. Seingatku, aku masih mengerjakan laporan yang harus segera kukumpulkan. Kedua mataku langsung terbuka lebar, saat mengingat laporanku. Kularikan bola mata ke arah jam yang menggantung di salah satu sisi dinding. Kali ini, aku tidak tahu sudah sebesar apa kedua mata ku terbuka.
Kutatap mejaku. Sumpah … aku panik! Tumpukan kertas-kertas yang sudah berserakan. Laptop yang sudah kehabisan dayanya.
“Oh … my God. Laporan gue!” Rasanya, aku ingin menangis saja.
Segera kubuka laci meja, mencari charger laptop. Aku beranjak. Benar-benar panik. Tidak seharusnya aku tertidur. Laporan yang harus kukumpulkan, lebih penting dari jatah tidurku. Segera kutancapkan charger, lalu kuhidupkan laptop. Aku menggeleng putus asa. Tubuhku terasa lemas seketika. Kutatap layar laptop yang masih enggan menyala.
“Ini … minum dulu, biar bisa konsentrasi.”
Aku menoleh. Baru saja aku melupakan kehadiran Dokter Riva karena panik. Aku menatapnya putus asa.
“Laporan saya, Dok. Bisa gagal rencana saya lulus tahun ini.”
Kugelengkan kepala frustasi. Aku benar-benar berakhir. Selamat tinggal gelar Dokter anak, yang seharusnya bisa kudapatkan tahun ini. Padahal, aku sudah berusaha keras selama ini. Bekerja, dan belajar mati-matian. Dan karena keteledoranku satu malam, semuanya hancur.
“Jangan putus aja. Masih ada waktu, kan?” Dokter Riva mengangkat lengan kiri, menyibak ujung snelli yang ia pakai. “Sekarang minum, lalu mulai kerjakan laporanmu.”
“Tapi … saya ada jaga pagi ini, Dok ….“ Aku sudah tidak tahu seperti apa tampangku sekarang.
Rasanya benar-benar ingin menangis. Ingin berteriak kencang, menuruki keteledoranku. Ya … hari sudah berganti tanpa kusadari. Waktu yang seharusnya kugunakan untuk menyelesaikan laporan, justru kugunakan untuk menyambangi alam mimpi.
Argghhh … aku benar-benar ingin mengumpat saat ini. Mengumpat diriku sendiri yang begitu ceroboh. Seharusnya, aku minum kopi, atau apa pun itu, untuk bisa menjaga kedua kelopak mataku—terbuka.
“It's okay. Saya bisa gantiin kamu pagi ini.”
Kedua mataku mengerjap. Dokter Riva baru selesai jaga malam--setahuku. Bagaimana mungkin dia menggantikan jagaku pagi ini?
“Tapi Dok ….“
Dia mengibaskan tangannya.
“Ganti dengan makan siang bareng. Besok,” kata Dokter Riva, sebelum berbalik, lalu pergi meninggalkanku yang masih terbengong tidak percaya.
Kupukul keningku sendiri saat kembali sadar apa yang harus kulakukan. Tidak masalah mentraktir dokter Riva makan siang. Bantuan yang dia berikan, jauh lebih berharga dibanding satu piring makan siang.
Kuucap syukur dalam hati berkali-kali, karena Tuhan mengirim Dokter baik hati itu, untuk membantuku. Kutarik nafas panjang, untuk kembali fokus pada layar laptop, dan lembaran-lembaran data di tanganku.
***
Aku berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Semalaman aku tidak pulang, dan tidak sempat memberi kabar kepada orang tuaku. Aku ketiduran, dan ternyata tidak hanya baterai laptop yang habis, ponsel juga mengalami nasib yang sama.
Dan sialnya lagi, aku bahkan tidak sempat mengecek ponsel setelah membuka mata. Terlalu panik dengan laporan yang masih berantakan, padahal harus segera kukumpulkan. Aku baru sadar akan keberadaan ponsel yang senyap, setelah menyelesaikan laporanku.
Dan waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Mataku langsung terbelalak, ketika melihat layar ponsel yang tak lagi ber daya. Aku langsung bergidik, membayangkan wajah kalut orang tuaku ketika ponsel sudah bisa kembali menyala, dan mendapati 50x misscall dari mereka. Lalu adikku yang mengirim chat hingga 100--yang kebanyakan adalah bombardir dengan satu kata PING.
Suara tangis Ibu lah yang pertama kali kudengar--begitu aku menghubungi rumah. Tepatnya, ke nomor ponsel Bapak. Tadinya, aku memang sengaja untuk tidak menghubungi Ibu terlebih dahulu, karena tahu--wanita cantik yang sudah melahirkanku itu, pasti akan menangis. Karena itu, pilihanku jatuh pada Papa yang lebih cool, tenang.
Tapi ternyata justru suara Ibu yang langsung menyambutku, begitu panggilanku terangkat. Lengkap dengan isak tangisnya. Aku hanya bisa meringis, merasa begitu bersalah. Beberapa menit aku menunggu, dan hanya suara isak Ibu, serta beberapa kali namaku yang Ibu sebut di antara isak tangisnya.
“Maafin Sean, Bu. Ponsel kehabisan daya—” Kucoba menjelaskan, tapi belum selesai Ibu sudah langsung memutus.
“Pulang sekarang … Ibu mau lihat Sean.”
Akhirnya, secepat kilat aku membereskan meja yang berantakan, lalu mengumpulkan laporan yang sudah membuatku gusar setengah mati, sebelum mengendarai motorku seperti seorang pembalap. Salip kanan, salip kiri. Tak lagi kuhiraukan umpatan-umpatan pengendara lain, ketika mungkin mereka kaget sewaktu kusalip. Aku hanya menggumam maaf yang pastinya tidak bisa mereka dengar. Dipikiranku hanya ingin segera sampai di rumah, lalu memeluk wanita yang pasti sedang mengkhawatirkanku setengah mati.
“Oh shitttt!! Aku mengumpat, saat harus menekan rem cukup dalam--ketika sebuah mobil yang sudah akan aku dahului, justru menambah kecepatannya. Sementara dari arah berlawanan, sebuah bus melaju kencang. Aku bisa merasakan motorku yang bergoyang. Aku sudah pasrah, kalau saja aku tidak bisa menjaga keseimbangan motor, dan akhirnya harus terjatuh.
Kuhembuskan nafas lega, ketika kakiku bisa menjejak aspal dengan motor yang masih berdiri tegak. Aku menoleh, saat beberapa pengendara melewatiku dan berteriak, “Makanya jangan ngebut-ngebut, Mbak!!!”
Mungkin, mereka adalah orang-orang yang tadi sempat kudahului, dan mengumpatku karena kaget. Untung saja aku memakai masker, dan juga helm fullface, jadi paling tidak--mereka tidak melihat wajahku. Jangan sampai wajahku terpampang di beranda i********: dengan caption ‘ Viral … Mbak Mbak pengendara motor ngebut kena karma ‘ kugelengkan kepala.
Kubaca doa sebelum kembali melanjutkan perjalananku. Jarak dari rumah sakit yang berada di kota, dan rumah orang tuaku yang berada di pinggiran kota--cukup memakan waktu. Paling cepat 1 jam baru bisa sampai. Tadinya, aku berharap bisa sampai rumah kurang dari 1 jam, tapi ternyata aku justru tidak hanya membahayakan nyawaku sendiri, tapi juga orang lain. Jadi, kali ini aku tidak lagi mengendarai motor dengan ugal-ugalan. Cukup tadi aku deg-deg an. Nyaris saja!
***
“Asean!!anak Ibu!” teriak Ibu, sembari berjalan cepat—menyambutku dari dalam rumah. Aku baru saja beberapa langkah melewati ambang pintu yang sudah terbuka.
“Jangan bikin Ibu takut, Sean.” Ibu menyongsong langkahku dengan wajah cemas. "Jangan diulang lagi," tambah ibu. Aku paham kenapa wajah ibu secemas ini.
"Aku minta maaf, Bu. Sean tidak akan mengulangnya lagi."