Kalau ada yang bertanya, kenapa aku tidak memilih ngekos di dekat rumah sakit--mengingat jarak rumah, dan rumah sakit yang cukup jauh, maka jawabannya adalah karena aku masih kangen sama keluargaku. Cukup lama aku pergi untuk kuliah. Eh bukan … lebih tepatnya, pergi menjauh dari orang-orang yang sudah menyakitiku.
Kalau tetap kuliah di kotaku, pilihannya adalah UNDIP, dan besar kemungkinan aku akan melihat peredaran kedua orang itu. Aku tidak mau. Masih sakit hati? ya … pasti. Aku manusia biasa, yang jujur saja tidak punya hati seluas samudra. Yang ketika disakiti tidak marah, dan tidak punya dendam.
Tapi, aku berusaha untuk tidak menambah luka di hatiku sendiri. Satu-satunya jalan adalah menjauh. Dan Kota Yogyakarta menjadi pilihanku. Menjalani 4.5 tahun masa kuliah kedokteran di UGM, 1 tahun menjalani internship, lalu 4 tahun pendidikan profesi untuk mewujudkan keinginanku menjadi Dokter spesialis anak.
Baru 4 bulan lalu aku kembali ke kotaku, dan bekerja di sebuah rumah sakit milik pemerintah--sembari menyelesaikan tugas akhir jenjang profesi. Aku selalu merasa bangga ketika memakai baju kebesaranku. Jas berwarna putih yang menjadi identitasku. Apalagi saat aku selesai merawat pasien yang kembali bisa pulang ke rumah, setelah kesehatannya membaik. Rasanya begitu senang.
Kesenangan yang tidak bisa aku dapatkan begitu saja. Namun dengan kerja keras. Mempelajari banyak buku kesahatan, jurnal-jurnal kesehatan, bimbingan dari para senior, juga praktek yang awalnya, jujur saja bikin deg-deg an. Takut melakukan kesalahan. Namun, seiring berjalannya waktu, dan banyaknya pengalaman--akhirnya aku bisa lebih rileks, ketika menangani pasien.
Hal lain yang tak kalah kusuka, adalah kunjungan ke sekolah-sekolah seperti yang sedang kulakukan sekarang dengan beberapa tim dokter. Rumah sakit memang bekerja sama dengan beberapa sekolah dari PAUD hingga SMA, untuk mengadakan kunjungan, dan memberikan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kesehatan. Kadang juga diadakan pemeriksaan gigi yang tentu saja gratis. Bagian ini, aku tidak bisa ikut, karena jenjang profesiku bukan dokter gigi, melainkan dokter anak. Sekarang, gelarku adalah Dr. Asean Sofi Sp.A
Saat ini, aku bersama beberapa orang dokter sedang berada di sekolah dasar luar biasa. Tempat para anak yang memiliki keistimewaan--bersekolah. Aku tidak suka saat orang-orang menyebut anak-anak ini keterbelakangan mental. Bagiku, mereka anak-anak istimewa yang Tuhan titipkan pada orang tua yang pastinya juga istimewa. Aku tersenyum, melihat bagaimana mereka tertawa senang menyambut kedatangan kami.
“Nah … anak-anak, ini Pak Dokter, dan Bu Dokter datang untuk mengajari kita semua bagaimana cara yang benar mencuci tangan, supaya tidak ada lagi kuman, dan bakteri yang menempel di tangan kita. Nanti, juga akan dijelaskan bagaimana cara mandi yang benar. Hayo … di kelas ini siapa yang mandi masih dimandiin angkat tangan ...!”
Suara keras wali kelas, terdengar di antara riuhnya suara anak-anak yang bersahutan. Harus kuacungkan dua ibu jariku, pada seorang wanita muda berhijab yang tampak begitu sabar mengurus … mungkin sekitar 15 orang anak-anak istimewa ini. Aku, dan dokter Ana satu tim di kelas ini. Ada dua dokter yang dibagi ditiap kelas.
“Loli … Bunda!!”
Lalu, riuh suara anak-anak menyebut nama seorang anak perempuan menggema. Sang guru yang dipanggil bunda itu, tertawa--hingga kedua matanya menyipit. Aku tersenyum menatap antusiasme anak-anak. Sementara seorang anak yang kemungkinan bernama Loli itu--hanya menatap bingung dengan wajah lucunya.
“Benar … Loli masih dimandiin, kalau mandi?” tanya sang guru.
Anak yang disebut namanya itu menyengir. Seperti memberi jawaban iya. Membenarkan omongan teman-teman satu kelasnya.
“Oke … tenang anak-anak … tenang dulu!”
Sang guru mengangkat tangan meminta perhatian para muridnya. Meski belum semua anak tenang, tapi suara riuh sudah berkurang.
“Nanti, setelah diberitahu bagaimana cara mandi yang baik, Loli bisa belajar mandi sendiri, ya, nak?” Lembut, sang guru berucap. Anak yang dipanggil Loli itu, lagi-lagi hanya memperlihatkan cengirannya.
“Sekarang, Bunda kenalkan. Ini namanya Doker Ana.”
“Halo anak-anak ….“ Dokter Ana tersenyum lebar, sembari melambaikan tangannya.
“Yang rambutnya panjang ini, namanya Dokter Asean.” Aku tersenyum lebar.
“Selamat pagi semuanya ….“ Kusapa mereka yang kini kembali riuh.
Jadi guru memang harus sabar, itu benar adanya. Bayangkan saja, menghadapi berbagai macam tingkah anak. Apalagi menghadapi mereka yang semuanya istimewa. Namun, jangan membayangkan para anak-anak istimewa ini berpenampilan lusuh, tak terawat. Tidak sama sekali. Mereka berpenampilan bersih, serta rapi. Mereka yang bersekolah di sini, berasal dari keluarga mampu, bahkan banyak yang merupakan anak dari para pengusaha di kota ini. Itu yang Dokter Ana jelaskan padaku, sebelum kami tiba di sekolah ini.
“Mari silahkan, Dok … waktu dan tempat saya persilahkan,” ucap sang guru, sebelum berjalan ke tepi, lalu duduk di sana. Mengamati para anak didiknya, dengan senyum yang tak surut.
Aku benar-benar kagum pada perempuan yang kutaksir belum berusia 30 tahun. Atau, malah mungkin kami seumuran.
Akhirnya, aku dan Dokter Ana mulai berinteraksi dengan anak-anak. Ini pertama kali aku ikut kegiatan seperti ini. Dokter Ana yang sudah lebih sering melakukannya--terlihat luwes, sedang aku masih belajar. Aku bersyukur, karena teman satu profesiku begitu membantuku--hingga aku tidak terlihat kaku.
Aku menoleh ke bawah, ketika merasakan seseorang menarik jas dokter yang kupakai. Aku segera berjongkok, begitu mendapati seorang anak yang tersenyum lebar--sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya.
“Hei … Loli, kan?”
Anak itu tersenyum semakin lebar, sebelum kepalanya mengangguk.
“Ada yang bisa Kakak bantu?”
Aku bingung harus menyebutkan diriku apa. Tante? kok kesannya tua banget ya. Anak itu menatapku sebentar, bibirnya bergerak-gerak.
“Lo-lo-li ma … ma-ma-u ma-n-di sen-di-ri,” ucap anak itu terbata, sambil tersenyum malu. Aku tertawa. Karena gemas, kucubit pelan pipinya yang bulat.
“Mau Kakak ajari cara mandi yang baik?” tanyaku, yang langsung ia angguki.
Akhirnya, kubawa dia ke sisi lain kelas yang sudah ada peralatan mandi di sana. Tentu saja hanya untuk demo. Tidak benar-benar mandi. Kuajari dia step by step. Kuingatkan lagi diriku, bahwa dia anak istimewa, jadi aku harus menjelaskannya dengan cara istimewa juga.
Aku senang, ketika anak itu bisa menyerap penjelasanku. Kami tertawa bersama. Ah … beruntung sekali orang tuanya, memiliki anak seistimewa ini.
Seorang anak mendatangi kami. Ia ikut melihat demo mandi yang sedang kami lakukan, dengan wajah penasaran.
“Ayo sini ….“ Kuminta anak laki-laki itu lebih mendekat.
“Namanya siapa?” tanyaku sembari tersenyum. Kuamati wajahnya yang bulat, dengan kulit putih, serta mata yang tidak selebar milik Loli.
“Albert,” jawabnya dengan senyum malu-malu. Kedua tangannya terjalin di depan tubuh. Aku tersenyum. Ah … dia lucu sekali.
“Albert ingin ikut belajar mandi juga?” tanyaku lagi.
Anak itu langsung tersenyum lebar, dengan berjingkrak jingkrak. Terlihat begitu gembira. Rasanya, hatiku menghangat. Bahagia itu sederhana. Lihat saja, bagaimana Albert terlihat sebahagia ini hanya karena hal yang sangat sederhana.
Akhirnya, aku ulangi lagi demo mandi kami dari awal. Aku sungguh bahagia melihat kedua anak yang bersamaku ini tertawa gembira.
***
“Gimana … senang kan, melihat mereka tertawa bahagia?” tanya Dokter Ana.
Aku menoleh, lalu mengangguk.
“Banget, Dok. Thank’s udah ngajakin saya.”
Dokter Ana menepuk bahuku dua kali.
“Besok ikut lagi, nggak?” tanyanya, sembari tertawa kecil, melihat dua anak yang masih tertawa sembari memegang gayung.
“Ikut lah, Dok …,“ kataku menjawab pertanyaan Dokter Ana. Dokter itu mengangguk, lalu melihat jam yang melingkar di lengan kirinya.
“Sudah cukup sepertinya. Kita tutup acara ini, yuk.”
Selesai berpamitan dengan anak-anak, sang guru meminta kami berphoto bersama terlebih dulu sebagai kenang-kenangan. Guru itu mengatakan senang atas kedatangan kami, dan mengharapkan kunjungan serupa di lain waktu. Tentu saja kami mengiyakan. Kami juga senang, bisa berbagi pengetahuan dengan anak-anak ini.
Anak-anak berdiri berjajar, sementara aku, Dokter Ana, dan sang guru berlutut di belakang mereka. Loli, dan Albert tiba-tiba bergerak, dan bergeser ke belakang. Meminta berdiri di samping kanan, dan kiriku. Sepertinya, aku punya dua teman baru sekarang.
Kudekap pinggang kecil mereka. Kami semua tersenyum lebar ke arah kamera. Aku akan selalu mengingat pengalaman ini. Pengalaman yang ingin kuulang lagi, dan lagi. Berbagi pengetahuan dengan anak-anak lugu ini. Anak-anak calon penghuni surga.