Bab 10. Belum Move On

1478 Kata
SEAN- “Puas?” Aku segera menoleh ke samping. Dokter Ana yang bertanya setelah kami keluar dari sekolah para anak istimewa itu. tentu saja aku merasa puas. Senyumku mengembang begitu saja saat mengingat wajah-wajah polos penuh semangat mereka. “Puas banget, Dok. Lihat mereka senang, sudah jadi kepuasan batin buat saya.” Dokter Ana mengangguk dengan senyum cantiknya. Kami berjalan menuju parkiran. Beberapa Dokter sudah berkumpul di sana. Beberapa melambaikan tangan ke arah kami. Aku, dan Dokter Ana segera bergegas menghampiri mereka. Kami harus kembali ke rumah sakit lagi. Masih ada tanggung jawab yang harus kami selesaikan, sebelum bisa kembali ke rumah untuk beristirahat. *** Pulang dari Rumah Sakit .... “Asen Sofi!!” Aku memutar bola mata malas, saat mendengar nama lengkapku disebut dengan lantang, hingga membuat beberapa pasang mata menoleh ke arahku. Sementara itu, biang kerok yang membuatku menjadi pusat perhatian para pengunjung kafe, justru tertawa cengengesan. Dengan kesal, aku tetap melangkah masuk, menghampiri dua sahabatku yang sudah terlebih dahulu sampai. Meja yang mereka tempati, bahkan sudah penuh dengan gelas berisi minuman, juga beberapa makanan. Sepertinya, mereka sudah cukup lama menungguku. Ruri meringis, saat mendapatiku menghampiri meja dengan wajah cemberut. Sementara itu, Dian menepuk kursi di sebelahnya. “Mulut lo tuh, Rur, kayak nggak pernah disekolahin,” sungutku sembari menjatuhkan tubuh di kursi sebelah Dian. Ruri memeperlihatkan deretan gigi yang untungnya saja putih. Coba kalau deretan giginya itu berwarna … ough … yang ada akan membuat orang yang melihat mual seketika. “Kayak lo baru kenal dia aja, Sean.” Dian menyahuti kata-kataku. Aku hanya membalasnya dengan dengkusan. Malas mengakui kalau apa yang Dian katakan benar. Dian mengeser satu gelas jus jeruk ke hadapanku. Mereka terlalu hapal dengan apa yang aku sukai. Setiap kali kami kumpul seperti ini, yang kupesan pasti jus jeruk, dan air mineral. Satu jam sebelum jatah jagaku selesai, Ruri menghubungiku, mengajakku ketemuan bertiga bersama Dian. Maka disinilah aku sekarang, bukannya langsung pulang ke rumah—seperti rencana awal. “Ada apaan ngajakin ketemuan mendadak gini?” tanyaku pada Ruri. Sahabatku itu menghela nafas panjang, membuatku dan Dian saling tatap. “Ada masalah?” tanyaku lagi, melihat wajah Ruri yang sudah berubah mendung. Ruri itu tipe yang cablak, ngomong apa aja yang ada di kepala tanpa berpikir lebih dulu. Bagi kami sahabatnya yang sudah paham sifatnya, tidak pernah mempermasalahkan apa yang keluar dari mulut gadis itu. Lebih tepatnya, apa pun yang keluar dari mulut Ruri, tidak pernah kami masukkan ke dalam hati--jika itu menyakitkan. Tapi, bagi orang lain yang belum mengenal karakter gadis ini, tentu saja akan sakit hati. Dia juga bukan tipe yang suka menyimpan masalah sendiri. Dia bilang, dia bisa jadi gila kalau menyimpan masalah sendiri. Dia butuh mengeluarkannya untuk menjaga kewarasannya. Dan melihat wajah sahabatku ini sekarang, sudah pasti dia sedang punya masalah. “Ngomong aja kenapa sih, Rur. Nggak usah pakai lama-lama,” tambah Dian, yang membuat Ruri memelototinya. “Ini juga gue baru mau ngomong, Dodol …,” kesal Ruri. Lalu sahabatku itu mengamatiku, dan Ruri bergantian. “Gue malu ngomongnya.” “Tumben lo punya malu.” Sahutan Dian, Ruri hadiahi dengan lemparan gulungan tisu. Aku hanya tertawa--mengamati interaksi kedua sahabatku itu. “Gue ngomong apa adanya. Emang sejak kapan elo punya rasa malu? dulu aja suka sama Pak Harun, langsung lo omongin ke orangnya,” tambah Dian mengompori kekesalan Ruri. Pak Harun itu guru olah raga magang jaman SMA dulu. Emang ganteng sih, orangnya. Dan benar apa yang Dian katakan, waktu itu Ruri dengan keberaniannya menyatakan perasaannya pada pria itu. Yah … meskipun hasilnya ditolak, karena ternyata Pak Harun sudah memiliki tunangan. Apa dia malu setelah penolakan itu? sama sekali tidak. Ruri tetap bisa bersikap biasa, seperti sebelum dia menyatakan perasaannya. “Yang ini beda, Di … ah, pokoknya yang ini amat sangat tidak terjangkau,” seloroh Ruri. “Lo jatuh cinta lagi?” tanyaku tidak sabar. Dari kalimat yang Ruri ucapkan, aku bisa menarik kesimpulan tersebut. Dan tebakanku benar, ketika aku melihat kepala sahabatku itu mengangguk, sekalipun bibirnya cemberut. “Ya udah, bilang aja kalau lo suka sama dia. Apa sudahnya, sih?” kataku yang tidak habis pikir kenapa Ruri terlihat bingung. Tidak biasanya. “Nggak bisa Sean … gue nggak berani.” Mulutku terbuka, namun langsung tertutup kembali, ketika Ruri melanjutkan omongannya. “Dia, Bos gue … gimana dong. Kalua gue nekat ngomong gue suka dia, trus dianya illfeel, bisa-bisa gue dilempar jadi OG, atau lebih parahnya langsung dipecat. TANPA PESANGON!!” Kuhela nafas dalam-dalam. Cinta selalu saja rumit. “Tapi, akan ada kemungkinan sebaliknya juga, kan? Bagaimana kalau ternyata dia juga punya rasa sama elo? Nggak mau ambil resiko itu?” tanya Dian, yang dijawab gelengan kepala oleh Ruri. “Lo kan bisa lihat dari gelagat doi, Rur. Kalau cowok ada rasa sama kita, pasti kelihatan. Dia pasti kasih perhatian lebih ke kita. Coba aja perhatikan.” Memang seperti itu yang aku tahu. Sekalipun hanya perhatian-perhatian kecil, tapi pasti kelihatan. Aku pernah mengalaminya, jadi aku bisa tahu hal itu. Dia akan sering curi-curi pandang ke kita, ngajakin ngobrol, nanyain hal absurb seperti udah makan? Lagi ngapain? Gitu-gitu deh. Kulihat wajah Ruri yang cemberut. “Kagak ada yang begituan. Adanya juga gue yang sering curi pandang ke doi, pas kita lagi meeting. Orangnya cuek banget, sih,” kata Ruri dengan wajah kesal. “Ya udah lah … kita cari yang pasti-pasti aja. Cowok nggak cuma satu. Yang harus kita lakukan adalah memperluas jaringan—“ “Kayak sinyal aja yang butuh jaringan bagus,” sahutku memotong kalimat Dian. “Elo juga, Sean.” Dian sudah melotot ke arahku. “Sudah berapa tahun lo belum juga move on. Lupain mantan br*ngsek elo itu. Mantan itu tempatnya bukan di hati, tapi di tempat sampah.” Dian bicara dengan wajah yang tidak santai sama sekali. Terlihat jelas kemarahan di raut wajah ayu sahabatku itu. Aku hanya mengangkat kedua bahu. “Ini serius, Sean. Dia aja sudah menikmati hidup bersama istri, dan anak mereka. Gue nggak terima kalau elo masih juga belum bisa buang tuh cowok tukang kibul.” Ruri yang awalnya sedih, kini justru mengangguk kuat. Terlihat sama bersemangatnya seperti Dian saat menceramahiku. “Gue setuju. Elo harus segera cari pacar. Elo harus lebih hepi dari cowok muna itu.” Lah … si Ruri sudah lupa dengan patah hatinya. “Kenapa kalian malah bahas gue, sih .…” Kesal saja saat mereka berdua putar haluan untuk membahas percintaanku yang kandas bertahun lalu. Kalau saja mereka tahu bagaimana aku sudah berjuang keras untuk membenci, dan juga mengenyahkan sosok itu. Aku juga benci pada hatiku sendiri. Kenapa begitu sulit membuangnya yang sudah begitu dalam menyakitiku. Bahkan, saat reuni beberapa waktu lalu, caranya melihatku masih begitu besar mempengaruhi hatiku. Debaran itu masih ada, sekeras apa pun aku sudah mencoba meredamnya. Apa aku harus selamanya pergi menjauh? Sementara keluargaku merengek memintaku tetap tinggal bersama mereka. Meskipun aku tahu, berada satu kota dengan pria itu tentu bukan awal yang baik untuk bisa mengobati hatiku. “Pasti lagi ngelamunin dia.” Aku tergagap, menoleh ke arah Dian yang sudah berdecak kesal. Dan tebakannya memang benar. “Ckck … lo beneran sudah tak tertolong, Sean.” Aku mendesah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut cablak Ruri. Kepala sahabatku itu menggeleng, dengan tatapan mata putus asa. “Apa perlu kita santet saja itu cowok biar cere sama istrinya?” “Hushhh .…” cepat-cepat aku tolak ide gila itu. Ruri dengan mulutnya yang tidak pernah mau menunggu otaknya untuk berpikir lebih dulu itu, membuatku melotot. “Kayaknya justru Sean yang perlu kita rukyah, Rur.” Dian mencebik, sembari melirikku. Sementara kepala gadis itu terarah lurus ke depan, tempat Ruri duduk di seberangnya. “Gue males kalo kalian sudah ngebahas masa lalu gue. Gue udah baik-baik saja. Kalian lihat kan, gimana gue ketemu dia di acara reuni kemarin. Bahkan gue salaman sama dia. Kalau gue belum bisa move on, apa kalian pikir gue bisa melakukan itu?” tanyaku panjang lebar. Sekalipun berat, tapi toh aku bisa berdiri dengan senyum lebar, ketika harus berada di satu tempat, bahkan membalas uluran tangannya. “Yang mau lo bohongin itu siapa, Sean?” Kedua mataku mengerjap, melihat wajah malas Ruri saat mengatakan hal itu. Aku sudah berusaha sebaik mungkin. Menutup rapat perasaanku sebisa mungkin. Namun ternyata, itu masih belum bisa mengelabuhi Ruri, juga Dian yang kini sudah mengangkat kedua alis. Jelas-jelas menantang aku untuk menyangkal. Aku benci ekspresi mereka berdua sekarang ini, soalah aku ini seperti buku yang sudah terbuka. Mudah sekali untuk dibaca. “Tapi, gue rasa elo nggak sendirian, Sean.” Aku menoleh ke samping, lalu mengernyit bingung mendapati Dian yang sedang menatapku lekat. “Entah gue yang salah lihat atau gimana, cara dia menatap Sean juga berbeda, maksudku … seperti cowok yang natap cewek yang sudah lama dia taksir.” “Omong kosong.” Dengan cepat Ruri menyahut perkataan Dian. Sahabatku itu mengibaskan tangan kanannya “Kalau dia cinta sama Sean, nggak mungkin ngehamilin cewek lain.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN