Bab 11. Awal Pertemuan-Putih Abu

1389 Kata
AUTHOR POV 2012 Asean Sofi, gadis dengan seragam putih-biru tua, dengan rambut yang diikat menjadi lima bagian menggunakan pita warna warni, namanya jelas tertulis pada gantungan kertas karton yang menggantung di lehernya. Kedua tangan gadis itu mendekap dus seukuran dus mie instan yang sudah dilapisi koran di bagian luarnya. Sepasang kakinya terhela cepat. Wajahnya tanpak panik. Sesekali gadis itu memutar sedikit lengan kiri, hanya untuk melihat waktu. Hari pertama masa orientasi sekolah, dan dia sudah dipastikan akan terlambat saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh tepat, sementara letak sekolahnya masih tiga ratus meter lagi. Lokasi sekolah yang tidak berada di tepi jalan raya, menambah kesialannya hari itu. Bukan Sean telat bangun, hingga ia terlambat tiba di sekolah. Masalahnya, bus yang ia tumpangi mogok di tengah jalan. Jam sibuk, saat semua orang keluar rumah untuk menjalani aktivitas mereka—entah bekerja, sekolah, pun kuliah, membuat Sean harus bersabar menunggu di tepi jalan—bersama beberapa orang yang juga memutuskan keluar dari bus yang mogok untuk mencari bus pengganti, hingga akhirnya ia bisa mendapat bus yang bisa menampungnya. Semakin panik, Sean berlari. Lupakan ikatan rambutnya yang mungkin akan berantakan saat nanti ia sampai di sekolah. Yang penting, Sean berharap masih bisa diperbolehkan masuk, dan mengikuti acara MOS. Dengan keringat yang membuat lengket tubuh, juga nafas yang ngos-ngos an, Sean akhirnya tiba di depan sekolah barunya. SMU 01. Sayangnya, gerbang sudah tertutup rapat. Sean mendesah kalah. Berpikir apakah ia harus pulang, atau menunggu di depan gerbang sampai ada yang datang membukanya. Sinar matahari mulai terasa hangat di kulitnya. Ah … lebih dari sekedar hangat. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 7.10. Tidak bisa Sean bayangkan, jika harus menunggu berjam-jam dengan terik matahari yang akan semakin menyengat. Gadis itu bergerak tidak tenang. Melongokkan kepala untuk mencari siapa pun yang terlihat di dalam area sekolah. Nihil. Sean bisa mendengar suara teriakan dari dalam area sekolah. Tentu saja acara MOS sudah dimulai. Mendesah, Sean mencoba mencari jalan masuk lainnya. Memutari pagar sekolah, hingga sampai di pagar belakang. Langkah kaki gadis itu sempat terhenti, saat mendapati satu sosok dengan seragam putih abu sedang bersiap memanjat pagar sekolah. Pagar yang Sean perkirakan setinggi kurang dari 2 meter. Dengan tinggi badan yang terlihat cukup menjulang, Sean tahu cowok itu tidak akan mendapati kesulitan untuk memanjatnya. Sean meringis. Tingginya tidak lebih dari 155 cm, dan juga rok sepanjang betis yang dikenakannya—akan mempersulit Sean untuk memanjat. Cowok yang sudah siap mengangkat tubuh—dengan kedua tangan yang sudah meraih pegangan pada puncak tembok itu—menoleh, ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Kening yang tertutup rambut yang sudah sepanjang alis itu mengernyit. Bola matanya memindai penampilan seorang gadis yang sedang meringis ke arahnya. Elang Dirgantara, siswa kelas 11, SMU 03. Sekolah tersebut kebetulan berdampingan dengan SMU 01, hingga kedua sekolah tersebut berbagi tembok keliling. Sean merapatkan tubuh ke dinding. Sejenak ia binggung, saat kedua tangannya masih memegang kardus berisi beberapa buku, dan peralatan tulis. Siswa yang mengikuti MOS, memang tidak diperbolehkan membawa tas. Dus yang mereka bawa, difungsikan sebagai pengganti tas. Mendesah putus asa, Sean menoleh ke samping. Bertemu tatap dengan sepasang mata yang sedang menatapnya. Kedua tangan cowok itu sudah turun dari tepi atas tembok. Dan tubuhnya kini bersandar pada tembok. “Kenapa … telat??” Sean mengerjap, saat mendapati pertanyaan dari seorang cowok yang bisa Sean pastikan bukan siswa baru. Melihat dari seragam SMU yang sudah dikenakannya. Sementara siswa baru pasti masih memakai seragam SMP, seperti dirinya. Sean menganggukkan kepala. Kedua tangan gadis itu masih mendekap erat kardus. “Lo … mau lompat??” tanya cowok itu lagi. Sean kembali menganggukkan kepala, menjawab tanya dari sosok yang masih dengan santai menyandarkan punggung ke tembok. Elang kembali memperhatikan penampilan gadis yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Kepalanya menggeleng perlahan. Gadis itu akan kesulitan memanjat dengan rok panjangnya. “Yakin … lo bakal bisa manjat, dengan rok panjang seperti itu??” tanya Elang dengan sepasang alis terangkat tinggi—yang tentunya tidak terlihat, karena tertutup poninya yang sudah cukup panjang. “Enggak .…” Akhirnya Sean mengeluarkan suara. Jujur, dia tidak yakin akan bisa memanjat. Jika yakin, sudah dari pertama tiba tadi--dia akan langsung memanjat. “Hari ini gue MOS.” “Salah siapa telat. Sudah tahu MOS, harusnya lo datang lebih pagi, bukan malah telat,” ketus Elang, yang membuat Sean mendengus kesal. Belum tahu saja cowok itu apa yang sudah dialaminya untuk bisa sampai di sekolah. Membuang pandangan karena kesal, Sean tak lagi memperhatikan cowok itu. Gadis itu menunduk. Mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk panjatan. Mungkin dia bisa melemparkan kardusnya ke balik tembok terlebih dulu, baru setelah itu ia akan berusaha memanjat. Elang masih memperhatikan apa yang gadis itu lakukan. Masih belum berniat untuk mengubah posisinya, dengan kedua tangan yang sudah masuk ke dalam saku celana. Sean menggeser sebuah batu yang cukup besar dengan susah payah. Menghembuskan keras nafasnya, Sean kemudian mulai memanjat batu tersebut. Kedua tangannya mencoba mengulurkan kardus ke atas tembok. Gadis itu tersenyum senang, begitu berhasil meletakkan kardus yang ia bawa ke atas tembok. Kembali menghembuskan keras nafasnya melalui mulut, Sean menepuk kedua telapak tangannya. Memberi semangat pada dirinya sendiri, untuk segera mulai memanjat tembok. Elang mengulum sepasang bibirnya kuat-kuat. Geli, juga salut melihat bagaimana gadis itu berusaha keras. Kepalanya menggeleng. Ia yakin gadis itu tidak akan berhasil. Mengeluarkan tangan kiri dari saku celana, Elang melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya. Ia mendesah. Nyaris 30 menit ia terlambat. Berderap, Elang membawa langkahnya mendekati Sean yang sedang berusaha menarik tubuhnya ke atas. “Lo bukan spider women. Nggak akan berhasil dengan kemampuan lo yang seperti itu.” Sean langsung memutar kepala. Sumpah serapah sudah terkumpul di ujung lidah—sudah siap Sean tumpahkan--karena ocehan cowok yang belum ia ketahui namanya tersebut, sebelum sepasang matanya mengerjap perlahan. Cowok itu sudah meletakkan tas slempangnya ke tanah, lalu berjongkok menghadap ke dinding. Kedua tangannya menyentuh tembok, kepala cowok itu menoleh ke arah Sean. “Cepetan naik, gue bantu lo lompat pagar. Besok lagi jangan telat. Besok gue nggak bakalan ada di sini.” Sean kembali mengerjap. Masih tidak bisa mempercayai cowok ketus itu, kini menawarkan bantuan padanya. Tak tanggung-tanggung, ia meminta Sean memanjat punggungnya. Sean berdehem. Tidak ada pilihan, karena ia tahu ia tidak mungkin memanjat tembok tersebut sendiri. Ia sudah mencoba. Menggeser pelan kakinya ke samping—tempat Elang sudah berjongkok, gadis dengan rambut diikat menjadi lima bagian yang bentuknya sudah berantakan itu—mendelik. “Lo nunduk. Jangan berani ngintip. Awas lo!!” Elang berdecih, lalu memutar kepala ke depan. “Emang lo nggak pakai celana??” “Ya pakai lah,” sahut cepat Sean. “Ya udah … ngapain takut diintip. Paling juga yang kelihatan cuma celana aja.” Elang terkekeh. Sementara Sean sudah mencebik ke arah punggung yang sudah siap ia panjat. Menarik sedikit ke atas ujung roknya, kaki kanan Sean terangkat—hanya untuk menggantung beberapa detik, sebelum akhirnya Sean turunkan lagi. Elang mengernyit, saat masih belum merasakan gadis itu menaiki punggungnya. Kepalanya memutar ke samping. Terdiam, ketika yang ia tunggu untuk segera naik ke punggungnya, sedang sibuk melepas sepatu. Sean yang masih membungkuk saat melepas sepatunya, mengangkat wajah. “Gue hargai bantuan elo. Terima kasih. Gue nggak mau bikin baju lo kotor.” Lalu Sean memperlihatkan cengirannya, sembari mengangkat sepasang sepatunya dengan satu tangan. Memperlihatkan sepatu berwarna hitam itu pada Elang. Elang hanya menggelengkan kepala, lalu kembali menghadap ke tembok. Merasakan satu kaki mulai menapaki punggungnya, disusul dengan satu kaki yang lain. Sean yang sudah berdiri di atas punggung Elang, berpegangan pada tembok. Sepatu terlebih dulu ia lempar--melewati tumbukan batu bata yang disusun rapi dengan perekat pasir serta semen. Juga dilapisi dengan adukan semen pada bagian luarnya. Sedikit goyah saat Elang perlahan berdiri. “Naik aja ke bahu gue,” perintah Elang. Meski ragu, Sean tetap melakukannya. Meletakkan satu kaki ke bahu kanan, dan satu kaki lagi ke bahu kiri Elang. Gadis itu tersenyum lebar begitu berhasil berdiri dan bisa melihat halaman sekolahnya. Dengan menumpu kedua tangan ke bagian atas tembok, Sean membawa kaki kanannya ke tepi atas tembok. Menumpu tubuhnya dengan kedua telapak tangan lebih kuat, kaki kiri sean mengikuti naik ke atas tembok. Elang mengangkat kepala saat sudah tidak merasakan beban di tubuhnya. Sean sudah duduk di tepi atas tembok, siap untuk melompat ke bawah. “Kenapa cewek suka dengan warna pink?” Sean langsung memutar kepala ke belakang, hanya untuk memelototi cowok yang kini sudah tertawa keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN