Bab 18. Bertemu Mantan di Pemancingan

1802 Kata
ELANG- Aku tidak tahu bagaimana takdir lagi-lagi membuatku bertemu dengan sosoknya. Sabtu, saat bermain tenis, teman-temanku tiba-tiba saja mengutarakan keinginan mereka untuk pergi memancing. Katanya, mereka butuh refresing untuk mengusir penat. Dan karena aku tahu tempat pemancingan yang tidak lain adalah milik salah satu sahabat Sean—aku menyarankan mereka untuk pergi ke sana. Awalnya aku memang tidak berencana ikut, karena hari minggu adalah hariku di rumah bersama Lowry. Setelah kesibukan selama bekerja, minggu adalah waktu yang kugunakan untuk dekat dengan putriku. Siapa sangka, jika Lowry dan Maya pergi menginap di rumah orang tua Maya. Dari pada tidak memiliki kesibukan di hari minggu, aku putuskan untuk ikut teman-temanku pergi ke pemancingan. Dan ternyata … justru aku menemukannya di tempat ini. Sean ada di pemancingan, bersama teman-temannya. Jujur, rasanya aku ingin tersenyum lebar—jika tidak mengingat posisiku. Melihat wajahnya yang terkejut saat melihatku, membuatku kesulitan menahan tawa. “Kayaknya seru kalau kita gabung saja di sini. Lebih banyak orang, lebih rame.”Aku menoleh ke samping. Nyaris lupa jika ada Tantra, dan juga Restu bersamaku. “Boleh gabung, kan?? gue Tantra.” Tantra memperkenalkan diri. Kulirik teman-teman Sean yang seketika saling pandang, sebelum serentak menatap sosok gadis yang beberapa saat lalu sempat tersedak—karenaku. Apakah dia akan tersiksa, jika ada aku di dekatnya?? Tapi, aku sungguh ingin melihatnya. Menyapa, dan juga bercakap. Tidak bolehkah? Beberapa saat terlewat, tanpa ada yang menjawab pertanyaan Tantra. Kulirik Tantra yang sudah mengernyitkan kening. Mungkin, dia mulai merasa ada yang janggal. Kedua teman bisnisku ini, memang tidak tahu menahu tentang masa laluku. Mereka hanya tahu, aku yang sudah menikah dengan Maya, dan memiliki seorang putri. Aku tidak pernah menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tentang sosok yang masih memiliki hatiku seutuhnya. Sepasang bola mata yang masih menjadi favoritku itu--mengedip pelan. Dia menghela nafas panjang. Aku masih menunggu—berharap. Sampai akhirnya, aku benar-benar tidak sanggup menahan kedua sudut bibirku untuk melengkung ke atas, ketika sepasang bibir itu terbuka dan berucap, “Gue nggak masalah.” Meski terdengar berat, tapi kali ini aku ingin egois. ‘Maaf Sean,’ batinku berbisik. Kutahan bola mataku agar tidak bergulir ke arahnya. Aku tahu, dia pasti sedang menahan kesal. “Gue Restu.” Kulirik Restu yang sudah mengumbar senyum lebar. “Kayaknya perlu tambah satu meja lagi,” gumam Pipin, yang masih cukup jelas terdengar. Pria itu kemudian beranjak turun dari gazebo. Menepuk sepasang telapak tangannya, sembari memanggil nama seseorang. Tak lama … seorang pria muda berlari ke arah gazebo yang kami tempati. Pipin memintanya membawa satu meja kosong ke gazebo kami. Aku, dan kedua sahabatku masih duduk di tepi gazebo, ketika dua orang karyawan Pipin datang dengan membawa satu meja kayu. Kami bertiga beranjak, memberi ruang untuk mereka menata meja. Setelah dua orang pegawai pemancingan pergi, barulah kami bertiga naik ke gazebo, lalu ikut duduk mengelilingi meja. Sean duduk satu lajur dengan kedua sahabat wanitanya. Pipin duduk di sisi pendek meja. Lalu dua orang sabahat sean lainnya duduk berhadapan dengan Sean. Sengaja, aku memdahului dua orang temanku, duduk di sisi panjang meja. Tantra mengikutiku, lalu Restu yang mendapat jatah duduk di sisi pendek meja lainnya. Dengan begini, aku bisa puas memandang Sean, yang masih belum bersedia menatap ke arahku. “Anjirr … lama banget masaknya. Kasihan Sean gue sudah kelaparan.” Aku refleks menoleh. Mengernyit, menatap salah satu teman Sean yang baru saja mengakui Sean sebagai miliknya. Kulirik Sean yang sudah mendelik ke arah sahabatnya yang kemudian terkekeh. “Yaelah sayang … nggak perlu malu ngakuin hubungan kita.” Jantungku berdebar kencang. Apa benar?? Bagaimana bisa?? Jadi, Sean berpacaran dengan sahabatnya sendiri?? Sejak kapan? Aku sungguh tidak bisa mempercayainya. Hubungan pertemanan mereka memang sangat dekat. Tapi, setahuku—dulu, tidak ada percikan asmara di antara mereka. Apakah aku yang terlalu percaya diri, bahwa Sean hanya akan menatap ke arahku?? Maksudku … bukan ingin sombong, tapi … aku jauh lebih baik dari pria yang duduk di sebelahku ini. Hermit. Yang biasa mereka panggil demit. Aku masih mengingatnya. “Eh lo … jangan seenaknya matiin pasaran Sean. Lo nggak tahu kalau dia lagi dekat sama Dokter bedah??” Apalagi ini?? Aku memutar kepala ke depan. Mendapati sahabat Sean yang sudah bersungut-sungut ke arah Hermit. Kuarahkan tatapan mataku ke samping. Tepat ke arah sosok cantik yang kali ini hanya menggelengkan kepala. Aku sungguh penasaran. Inginku mendengar dari Sean … mana yang benar?? “Nama lo Sean??? Bagus .…” Tantra tersenyum ke arah Sean. “Kita belum kenalan.” “Lang ….“ Aku menoleh, saat Tantra memanggilku. “Lo belum kenalin teman-teman lo ini.” Tantra mengedik ke arah Sean, dan teman-temannya. “Ah … sorry. Ini Hermit. Sebelahnya—” Aku lupa siapa nama teman Sean yang pernah menghajarku dulu. Aku hanya ingat mereka memanggilnya, Ding. “Gue Rahmat. Mantannya Sean.” Gelegak tawa langsung terdengar, ketika Hermit menoyor kepala Rahmat. “Ngaku-ngaku saja!! Ingat istri di rumah.” “Ye … siapa yang ngaku-ngaku. Gue memang mantannya Sean. Mantan teman SMA,” sahut Ding dengan cengirannya. “Dasar gendeng!” sahut sahabat Sean yang aku inggat sekali namanya Ruri. “Gue Pipin. Baru mau coba minta Sean jadi pacar gue.” Lalu Pipin menoleh ke arah Sean. “Kemarin lo sudah sempat merasakan nafkah dari gue, kan?? entar … kalo kita sudah nikah, nafkahnya nggak cuma seratus ribu, entar nol nya gue tambahin.” Sontak kami semua menatap ke arah Sean yang sedang mencebik ke arah Pipin. “Astaga, Pin … bilang aja kalo lo nggak ikhlas kasih gue 100 ribu. Gue balikin entar kalau sudah urus ATM yang baru.” “Emangnya apa yang terjadi?? Kok kalian nggak cerita??” Dian menatap bertanya ke arah sahabatnya. Sean mendesah. “Gue kecopetan kemarin lusa. Dompet, sama ponsel gue hilang. Masih untung gue bisa dapatin nomor ponsel yang sama. Yah … mesti harus bayar lima ratus ribu,” cerita Sean. “Jangan tanya, kenapa bisa?? Gue juga nggak tahu jawabannya. Kayaknya, waktu itu gue terlalu terpesona sama mas-mas ganteng yang kasih gue tempat duduk.” Ough … rasanya aku tidak suka mendengar kalimat terakhir Sean. Apa dia benar-benar sudah melupakanku?? Bagaimana bisa? Sedang aku bahkan belum bisa mengalihkan hatiku sedikit pun. Tanpa sadar, tanganku sudah mengepal. Kutatap tajam wanita itu, yang terlihat tidak menghiraukan keberadaanku sama sekali. Dia masih terus bercerita, yang membuat gelak tawa teman-temannya terdengar. Bahkan Restu, dan Tantra pun ikut tertawa mendengar cerita Sean yang kecopetan. Jadi … waktu aku sempat melihat Sean yang kebingungan—waktu itu ternyata dia sedang tertimpa musibah. Sayangnya, aku terlambat menghampirinya. Seandainya waktu itu aku bisa lebih dulu datang padanya—mungkin, dia akan memandangku berbeda. Bukankah aku yang akan menjadi pahlwannya saat itu?? Bukannya Pipin! “Tumben lo dari tadi diam, Lang. Udah kangen bini sama anak lo??” “Yaelah Lang … baru juga ditinggal semalam.” Aku ingin membungkam mulut kedua sahabatku. Suasana yang tadinya masih riuh, berubah hening. Hanya suara kekehan Restu, dan Tantra yang masih terdengar—memecah hening. *** AUTHOR POV Sean tahu tidak ada yang salah dengan ucapan kedua teman Elang. Hanya saja, suasana yang mendadak terasa dingin—ketika sahabat-sahabatnya berhenti tertawa, dan refleks semua menatap ke arahnya dengan sorot mata khawatir—membuat Sean merasa sangat tidak nyaman. “Memangnya Mbak Maya lagi pergi, ya??” Sean menatap pria yang duduk di seberang meja. Senyum wanita muda itu tersunging. Seolah ingin memperlihatkan bahwa tidak ada masalah baginya membahas tentang keluarga kecil Elang. Bahwa sudah tidak ada luka di hatinya. Elang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, saat mendengar tanya yang terlontar dari bibir Sean. Bahkan, dia akhirnya bisa bertatap mata dengan sosok yang sedari tadi memilih untuk tidak mengarahkan sepasang mata padanya. “Kalian juga kenal sama istri Elang??” tanya Restu sumringah, yang dijawab anggukan kepala oleh Sean. Sementara sahabat-sahabat Sean masih memilih diam. “Tentu saja kami kenal. Dia kan juga kakak kelas kami di SMA.” “Wah, jadi kalian teman satu SMA nih, ceritanya??” gantian Tantra yang ingin tahu. Sean tersenyum sembari menganggukkan kepala. “Dulu Elang playboy nggak, waktu di sekolah? Karena sekarang doi setia banget sama istrinya. Mungkin saja jiwa playboy nya sudah terlampiaskan waktu di sekolah dulu.” Sean tertawa sumbang. Sungguh … hanya dua orang baru yang tidak tahu menahu tentang bagaimana masa lalu Sean, dan Elang--yang masih bisa menikmati suasana dengan atmosphere yang terasa seperti sedang menunggu badai datang. Sean melirik ke arah Elang yang mengatupkan sepasang rahangnya keras-keras. Menunggu apa yang akan Sean sampaikan untuk menjawab rasa ingin tahu Tantra. “No … dia dari dulu setia.” Sean mengulas senyum. “Dari dulu … Mbak Maya cinta matinya.” Setelah selesai bicara, Sean melarikan bola matanya ke arah lain. Membiarkan Elang manatapnya tajam. “Wah … gila!! Gue kira dulu dia playboy.” Tanta menoleh. Menatap tak percaya pria yang duduk di sampingnya—yang masih menatap tajam ke arah …. Kening Tantra mengernyit, ketika menyadari kemana arah tatapan sang teman. Ke arah wanita yang baru saja menjawab tanya darinya. Sepasang mata pria itu mengedip, lalu kembali menoleh ke arah sahabatnya. “Kamu tahu seperti apa saya—dulu.” Sean yang baru saja meneguk minumannya, meletakkan kembali gelas ke atas meja. Wanita itu membalas tatapan tajam Elang dengan kening mengernyit. Sebelum beberapa detik setelahnya, kepala Sean menggeleng pelan. “Saya … tidak … pernah … benar-benar mengenal anda.” Kernyit pada dahi Sean bertambah. Sepasang mata wanita itu memicing. “Kalau saya tahu, saya tidak akan tertipu.” Jawaban Sean membuat suasana yang sudah dingin, semakin mendingin. Kini—bahkan Tantra, dan Restu tidak berani membuka mulut. Berpasang-pasang mata itu hanya menatap ke arah Sean dan Elang yang masih saling menghujam dengan tatapan tajam. Dian meraih tangan Ruri—ketika dari sudut mata, melihat sahabatnya sudah akan beraksi. Ruri bisa tidak terkontrol kalau sudah marah, dan Dian tidak ingin membuat suasana yang sudah buruk, menjadi semakin buruk. Mungkin, ini waktu bagi Sean untuk melepaskan segala amarahnya. Dian yakin, Sean masih bisa mengontrol diri. Sahabatnya itu sudah terkekang sekian lama. Mungkin, setelah bisa meluapkan semuanya, Sean akan bisa mulai kembali langkah barunya. Sean masih bertahan membalas tatap tajam pria yang terlihat begitu marah setelah mendengar ucapannya. Apa Elang punya hak untuk marah padanya?? Sean mendengkus. Dia lah yang seharusnya malampiaskan kemarahan pada orang yang begitu ia percaya, yang dengan seenak hati menyakitinya. Elang bahkan tidak tahu, neraka apa yang sudah Sean jalani untuk bisa tetap bertahan. Bisa tetap membalas tatapan pria itu seperti sekarang ini. Bahkan, bisa tersenyum ke arahnya. “Tolong sampaikan salam saya untuk Mbak Maya. Waktu reuni, kami sempat bertemu, tapi tidak mengobrol karena sepertinya dia sedang terburu-buru.” Sean kembali tersenyum, sembari menganggukkan kepala. “Salam juga untuk anak kalian.” Lalu Sean mengalihkan pandangannya ke arah teman-temannya yang sedang menatapnya. “Kita perlu bicara,” Elang membuka mulut. Belum mengalihkan tatapan mata dari Sean. “Berdua.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN