Bab 17. Terjebak Pertemuan dengan Mantan

1726 Kata
SEAN- “Dokter Sean … bu Vania tadi menghubungi saya. Meminta kita untuk membuat jadwal berkunjung ke sekolahnya.” Aku mendongak, saat tiba-tiba Dokter Ana masuk ke ruang kerjaku, lalu berbicara tentang seseorang yang bernama bu Vania. Aku mengernyit. Merasa tidak familier dengan nama itu. Dokter Ana menarik kursi di seberang meja, kemudian mendudukinya. Kuletakkan lembar-lembar data pasien yang baru saja aku pelajari—ke tepi meja. Kulipat kedua tangan di atas meja—menunggu dokter Ana kembali melanjutkan pembicaraannya. “Bu Vania bilang, anak-anak suka, dan berharap kita bisa meluangkan waktu untuk mengunjungi mereka secara terjadwal. Memberikan mereka pelajaran-pelajaran sederhana tentang kesehatan.” Dokter Ana melanjutkan. Kuanggukkan kepala—mulai memahami apa yang dimaksudkan oleh dokter cantik di hadapanku ini. “Okey … itu sekolah yang kemarin kita kunjungi, bukan, Dok??” tanyaku. Karena memang baru satu kali aku ikut berkunjung ke sekolah. Tebakanku benar, saat kulihat kepala dokter Ana mengangguk. “Oh … saya sih seneng-seneng aja, Dok. Saya suka berinteraksi dengan mereka,” sahutku. Dokter Ana tersenyum. “Saya free hari Kamis pagi. Jadwal Dokter Sean bagaimana??” tanya dokter Ana, sembari masih mengumbar senyum. Senyum cantik yang akan bisa membuat pada pria kecanduan. “Kamis pagi saya bisa, Dok. Yang penting jam satu sudah balik ke sini,” jawabku. Hari kamis jadwal praktekku dimulai jam 2 siang. “Ah … syukurlah.” Dokter Anna bahkan sampai menepuk kedua telapak tangannya. Terlihat begitu girang. Seniorku ini memang sosok yang begitu suka melakukan kegiatan sosial. Dan aku ingin seperti wanita ini. Menebar kebaikan, membantu orang lain—tanpa memikirkan balasan. Aku tersenyum, kala mengingat wajah-wajah lugu mereka. Anak-anak istimewa itu. Mereka memang memiliki kekurangan, tapi bukan berarti mereka harus dipandang dengan sebelah mata. Mereka bisa menjadi hebat seperti anak-anak yang terlahir normal, jika mendapat pengarahan yang tepat. Mereka juga bisa hidup mandiri seperti anak-anak normal lainnya. Sudah banyak contohnya. Memang tidak mudah bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Mereka memerlukan penanganan lebih, serta perhatian lebih. Tapi mereka tetaplah anugrah terindah dari Tuhan yang harus mereka didik, serta limpahi dengan kasih sayang. Membimbing mereka hingga bisa berhasil. Orang tua—dalam hal ini, harus mempunyai kesabaran seluas samudra. “Kalau begitu, saya akan langsung menghubungi Bu Vania.” Sepasang mata dokter Anna berbinar. Aku menganggukkan kepala setuju. Rasanya, sudah tidak sabar untuk bisa kembali bertemu dengan anak-anak itu. Aku memperhatikan dokter Ana yang sedang berbicara dengan seseorang yang ia panggil bu Vania—melalui sambungan ponsel. Dokter Ana tertawa. Entah apa yang membuat dokter itu tertawa sebegitu keras. Senyum dokter Ana, ketika melirikku—menular padaku. Aku tidak mendengar apa yang orang di seberang sambungan katakan, ketika tiba-tiba dokter Ana menyebut namaku. “Katanya ada salah satu wali murid yang bilang pada bu Vania, jika anaknya sekarang selalu meminta mandi sendiri,” cerita dokter Ana, setelah menyelesaikan percakapannya dengan bu Vania melalui ponsel. Wanita itu kemudian terkekeh. Terlihat begitu bahagia. “Seneng ya Dok, kalau bisa memberikan pengaruh positif pada orang lain.” Dokter Anna langsung mengangguk. “Bahagianya tidak bisa dinilai dengan uang,” sahutnya, yang kemudian membuatku mengangguk setuju. Rasanya memang begitu menyenangkan. Perbincangan kami terputus, ketika jam visit dokter Ana sudah nyaris mulai. Wanita cantik itu kemudian berpamitan, keluar dari ruang kerjaku. Aku tersenyum, mengikuti pergerakan dokter Anna hingga tak lagi bisa terjangkau oleh mataku. Kutarik kembali berlembar-lembar data pasien yang sebelumnya kutepikan. k****a satu persatu. Kegiatan yang rutin kulakukan sebelum jam visit ku tiba. Aku menyukai anak-anak. Itu sebabnya aku memutuskan untuk mengambil spesialis ini. Bagiku, melihat mereka tersenyum, atau tertawa lebar—adalah pemandangan yang begitu menakjubkan. Anak-anak itu—di mataku seperti malaikat. Memberi kebahagian untuk orang-orang di sekitarnya. Denting ponsel mengalihkan perhatikanku. Grub absurb dengan anggota sahabat-sahabatku selama putih abu—mulai ramai. Tertarik, kugulir layar, lalu mulai membaca. Aku tidak bisa menahan kedua sudut bibirku untuk tertarik ke atas—membaca lelucon, candaan sahabat-sahabatku. Ah … aku merindukan mereka. Bersama mereka, aku bisa tertawa lepas. Dari dulu. Mereka adalah orang-orang yang membuatku tidak bisa terlepas dari tawa, yang tentu saja mencipta rasa bahagia tersendiri. ‘Sean … Bu Dokter Sean … kenapa hanya di read doang?!!!!!' Aku tertawa. Bisa-bisanya si Demit membaca status siapa yang sudah membaca tulisan-tulisan absurb mereka. Atau … pak guru yang satu itu hanya sekedar menebak—yang ternyata benar?? Kugelengkan kepala. ‘Huss … jangan diganggu, nanti suntikannya meleset,' sahut Robot, yang kembali membuatku tertawa. ‘Kalau masih tidak bisa nyuntik dengan benar, biar nanti kuajari nyuntik yang tepat sasaran.' Tulisan Pipin langsung banjir makian dari teman-teman lainnya. ‘Lo kalau mau belajar nyuntik tepat sasaran … sana cari mangsa lain. Yang empuk-empuk bohay. Jangan Sean!!’ balas Ruri, diakhiri emotikon marah yang begitu banyak. Aku hanya tertawa, membaca obrolan aneh mereka. ‘Sudah geng … kalian bikin gue nggak bisa fokus. Bubar!! Bubar!!!’ usir Dian, yang sepertinya tetap tidak dihiraukan oleh yang lain. Bahkan Dian berakhir dibuli oleh mereka. Astaga, mereka benar-benar tidak berubah. Umur boleh bertambah, tapi sifat mereka masih tetap seperti 10 tahun silam. Gesreknya masih sama, dan anehnya aku suka. *** Minggu ini, memang kami berjanji akan berkumpul di pemancingan milik Pipin. Seperti yang sudah pria itu janjikan—dia akan memberi diskon untuk makanan yang kami pesan. Dan sekarang, di sinilah aku. Duduk lesehan melingkari dua meja yang digabung menjadi satu. Bersama sahabat-sahabatku. Robot yang tidak bisa datang, karena memang domisilinya sudah tidak di Semarang, dan sebagai seorang prajurit—dia tidak bisa sesuka hati mengambil cuti. Lalu Cungring, pria itu juga sedang berada di luar kota. Kami masih menunggu kedatangan Ding, yang katanya masih on the way. “Kalian nggak mau mancing???” tanyaku pada teman-teman pria. Tempat yang kami datangi ini pemancingan. Di sekeliling kami, kolam ikan yang bisa mereka pancing, dan bawa pulang nantinya—tentu saja setelah ditimbang, dan dibayar. Banyak pengunjung yang juga sedang terlihat menikmati aktivitas melatih kesabaran itu. Ya … menurutku, memancing adalah salah satu kegiatan yang bisa dilakukan untuk berlatih sabar. Setelah melempar umpan, kita harus menunggu, hingga ada seekor ikan yang mendekat, lalu terjerat. Bisa butuh waktu lama, ketika keberuntungan sedang ogah bersama kita. Di situlah kita berlatih sabar. “Enakan gini aja, sambil mandangin yang seger-seger,” jawab Demit yang merebahkan tubuh—menyamping, dengan sebelah tangan menyangga satu sisi kepala. Pandangan matanya meliar. Kugelengkan kepala. “Tanya dulu, yang seger-seger itu halal, atau haram,” ujar Ruri, yang membuat Hermit a.k.a Demit beranjak, kemudian duduk bersila. Teman-teman yang lain masih menikmati sajian tempe mendoan yang masih hangat. Mereka hanya menatap Demit sejenak, lalu melanjutkan aktivitasnya. “Lo … seneng banget matahin impian Abang,” sahut Demit, sembari melotot ke arah Ruri yang hanya membalas dengan cebikan. Sementara tangan kanan Ruri menyambar satu potong mendoan. Dengan santai menggigit, lalu mengunyahnya pelan. “Gue cuma nggak tega kalo lo patah hati.” Ruri kembali menyahut, setelah menelan kunyahannya. Dia menatap Demit dengan raut prihatin yang sama sekali tidak disembunyikan. Membuat Demit kesal, lalu beranjak dari duduknya. Aku tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Demit akan menghampiri Ruri, lalu memiting sahabatku itu. Namun itu tidak terjadi, lantaran Dian yang tiba-tiba heboh. “Astoge … astaga! Itu bukannya—” Semua mata refleks mengikuti arah jari telunjuk Dian. Gigitanku terhenti. Ikut menatap tidak percaya, siapa yang baru saja terlihat melenggang menuju tempat pemesanan. Bukan dia yang sedang kami tunggu. Seharusnya, Ding yang terlihat. Detik berikutnya, semua pasang mata terarah padaku. Aku hanya mengedip—bingung, sementara tanganku bahkan masih memegang mendoan yang sedang kugigit. “Bukan gue!” Pipin langsung menggelengkan kepala, ketika sabahat-sahabatku menoleh ke arah si pemilik pemancingan yang sedari tadi kalem—tidak banyak bicara. “Sumpah! Gua nggak tahu dia bakalan ke sini hari ini.” Pipin mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. “Lo bohong … gue hajar lo!” ujar Demit, sembari memperlihatkan kepalan tangan kanannya. Mencipta ringisan Pipin, yang langsung mengelengkan kepala beberapa kali. “Gue sumpahin pemancingan lo bankrut, kalo ternyata lo … bohong!” tambah Ruri, yang langsung membuat Pipin mendelik. “Lo jangan sembarangan nyumpah! Gue menghidupi banyak keluarga,” sahut Pipin dengan sepasang mata yang membesar. “Ya lo nggak perlu takut, kalo lo emang nggak bohong.” Giliran Dian yang mendelik ke arah Pipin. Pria itu kemudian hanya berdecak kesal, namun tak lagi menyahuti. “Lo nggak apa-apa Sean?? Ato kita cabut saja?? Entar kita suruh Ding putar balik.” Ruri menatapku dengan tatapan sedih. “Itu …” Ruri menunjuk ke arahku. “Mendoannya di makan dulu.” Aku mengerjap. Aku bahkan lupa masih menggigit mendoan. Kulanjutkan gigitanku hingga satu potong terlepas, lalu mengunyahnya pelan. “Gengs ….” Aku menoleh, ketika mengenali suara yang baru saja terdengar. Aku tidak tahu seperti apa tampangku sekarang--ketika yang kurasakan adalah kelopak mata yang melebar penuh—hingga terasa perih, saat melihat Ding berdiri di samping gazebo yang kami tempati—dengan wajah meringis—meminta maaf. Bukan! Bukan karena datang terlambat, dia meminta maaf. Tapi, karena dia datang tidak sendirian. Ada tiga orang pria lainnya yang juga berdiri bersamanya. Dan salah satunya—jelas aku kenal. Dialah yang membuat refleksku semengerikan sekarang. Aku yakin. Tikus pun akan lari terbirit jika melihatku saat ini. “Gue … ketemu di depan,” ujar Ding memberi tahu. Tatapan mata sahabatku itu meliar. Tersadar--Aku mengedip. Segera kuraih jus jerukku, ketika kurasakan tenggorokanku tersumbat. “Apa saya mengganggu??” Sumpah!! Aku nyaris menyemburkan jus jeruk yang sedang kuteguk. Alhasil, karena berusaha menahan muntahan jus agar tidak keluar dari mulut, aku justru tersedak. Dian segera membantuku dengan mengusap punggung, sementara Pipin mengulurkan tisu ke depanku. Kuraih entah berapa lembar tisu untuk mengusap mulut, sembari berusaha meredakan batuk yang membuat tenggorokanku sakit. Beruntung tidak butuh waktu lama untuk menormalkan kembali nafasku, setelah batukku reda. Kuhirup oksigen sebanyak mungkin. Mungkin memang nasibku sedang sial. Ingin hati menikmati hari libur, namun justru harus bertemu dengan sosok yang … sumpah! Tidak ingin kutemui. “Kok di sini?? Seingat gue lo nggak ada reservasi hari ini.” Itu suara Pipin. Sepertinya sahabatnya yang satu itu merasa bersalah. “Apa tidak boleh datang, kalau tidak reservasi??” balas Elang, sembari menatap sang pemilik pemancingan. Sepertinya, Pipin ingin menunjukkan pada teman-teman, jika memang dia tidak tahu perihal kedatangan Elang hari ini. Ya … benar!! Orang yang membuatku mendelik, dan juga tersedak tidak lain adalah si br*ngsek Elang. Pria yang ingin kukubur hidup-hidup, atau kubuang ke laut merah—seandainya saja bisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN