01. PROLOG
Joceline mulai menyusuri ruangan dengan napas tertahan, matanya menyapu setiap sudut hingga akhirnya ia melihat sosok itu—Nathaniel—terpuruk di sebuah sofa sudut, jasnya kusut, dasinya terlepas, rambutnya berantakan. Berantakan dengan cara yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Untuk pertama kalinya juga, Joceline melihat Nathaniel dalam keadaan mabuk.
Ia menghampirinya cepat. “Nath, bodoh,” ucapnya lirih namun tegas. “Kenapa kamu sampai mabuk berat seperti ini? Apa kamu bertengkar dengan Shenina? Astaga…”
Nathaniel mengerjap, berusaha membuka matanya. Wajahnya mengernyit, lalu tersenyum samar. Senyum yang membuat d**a Joceline terasa perih.
“Siapa yang menyuruhmu datang?” gumamnya. Tangannya menepis tangan Joceline yang hendak menahannya. “Pergi, Jo. Aku tidak menginginkanmu.”
Joceline menahan napas, mencoba bersabar. “Nath, ayo pulang. Kalau kamu ada masalah dengan Shenina, selesaikan. Bukan mabuk seperti ini.”
“Jangan menyentuhku!”
“Kamu tidak lebih dari sekadar wanita sialan yang meninggalkan aku!” racaunya.
“Ya,” jawab Joceline pelan. “Benar. Itu memang aku.”
Nathaniel memicingkan matanya, lalu mencondongkan tubuh ke arahnya. Tangan pria itu menarik kerah kemejanya tanpa peringatan. “Kamu mencampakkanku demi si bodoh Maxime!” desisnya. “Kamu keterlaluan, Jo!”
“Nath, cukup. Berhentilah meracau.” Joceline berusaha melepaskan cengkeramannya, namun Nathaniel akhirnya melepaskan sendiri, tubuhnya jatuh kembali ke sandaran sofa.
“Kamu tahu betapa hancurnya aku,” katanya dengan suara pecah. “Kamu wanita paling menyebalkan yang pernah aku kenal.”
Joceline menghela napasnya dalam. Ia bangkit, meminta bantuan salah satu waiter untuk membopong tubuh besar Nathaniel setidaknya sampai mobil.
Di apartemen, Joceline mencoba untuk mencari kartu milik pria itu dan setelah berhasil menemukannya, ia segera menempelkannya di pintu, membuat pintu tersebut terbuka.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Joceline membawa tubuh Nathaniel masuk, merebahkan tubuh besar itu di atas tempat tidur. Napasnya terengah-engah.
“Aku membencimu, Jo. Aku sangat membencimu!” racau Nathaniel, lagi dan lagi.
“I know, Nath. Kamu sudah mengatakan itu ribuan kali,” kesal Joceline.
Ia hendak bangkit namun, tangan Nathaniel lebih dulu menariknya, membuat tubuh Joceline jatuh di atas tubuh Nathaniel yang terlentang.
“Dan setelah semuanya, kamu akan pergi lagi, Jo?”
“Nath, lepaskan. Kau mabuk. Aku harus kembali ke unitku.” dan memakan makan malamku yang aku tinggalkan karena kamu.
Joceline berusaha untuk bangkit, namun tidak bisa. Tenaganya sudah habis dan lengan Nathaniel, bisa-bisanya lengan itu mengait erat di pinggangnya padahal dalam keadaan mabuk.
“Kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja? Kamu sangat licik, Joceline!”
Nathaniel membalikkan posisi tubuhnya, membuat kali ini Joceline berada di bawah kungkungannya.
“Nath—”
Ia memainkan rambut panjang Joceline. Tatapannya, Joceline tidak bisa mengartikan apa arti tatapan itu apalagi di saat Nathaniel dalam keadaan mabuk. Oh tidak, lebih tepatnya setengah mabuk.
“Kamu sangat seenaknya, Jo. You said you want all of me today, but tommorows not the same. You go. You leave me. And after five years, kamu kembali lagi ke hidup aku aku? What do you want, Jo?”
“Nath—”
“Aku sangat membenci kamu, Jo! Aku membenci kamu yang lebih memilih Max daripada aku. Aku membenci kamu yang meninggalkan aku. Aku benci kamu yang kembali. Kamu membuat segalanya berantakan, Jo. Kamu alasannya. Kamu orangnya, Jo!” Tandasnya penuh emosi. Seakan sedang meluapkan segala hal yang selama lima tahun hanya bisa ia tahan.
“Harusnya kamu tidak pernah kembali, Joceline!” kalimat yang ... entah sudah ke berapa kalinya pria itu katakan sejak pertemuan kembali mereka. Dan selama itu juga, hati Joceline seperti teriris berkali-kali.
“Kamu ingin aku pergi dari hidup kamu, Nath?”
“Ya.”
“Aku akan pergi dari hidup kamu. Dengan satu permintaan.”
“What is that?”
“Sleep with me. And I’ll go from your life.”
Rahang Nathaniel mengeras. Bagaimana bisa wanita itu menantangnya? Amarahnya kembali memuncak, entah untuk alasan apa. Apalagi ketika ia mendengar Joceline kembali berkata.
“I Promise, Nath.”
Emosinya semakin tak terdam. “Tepati janjimu!” bisiknya.
---------------
Nathaniel,
Mungkin benar kata semua orang bahwa kita adalah dua orang keras kepala yang tak tahu caranya berbicara. Kita berdua terlalu buruk dalam hal itu. Mungkin karena itu juga, kita selalu berakhir dengan pertikaian dan aku selalu berhasil membuat kamu marah. Maaf.
Oh, dan karena kita sangat buruk dalam berkomunikasi jadi ... aku memilih untuk berbicara di sini. Jika kemudian ini sampai ke kamu, jangan anggap aku sedang meminta apa pun darimu. Jangan pula berpikir aku mengatakan semua ini karena ingin dimengerti. Aku hanya ingin jujur sekali saja walau sepertinya sudah sangat terlambat mengingat kamu sangat membenci aku.
Tidak apa. Lagipula ... ah, lupakan.
Nath, aku tidak pernah mengatakan ini sejak lima tahun belakangan tapi ... aku mencintai kamu. Sejak lama. Sejak awal. Selamanya. Perasaanku tidak pernah berubah bahkan hingga ini sampai kepada kamu.
Kalimat itu terdengar sangat tidak tahu diri, ya? Aku tahu. Dan pengecutnya, aku butuh seumur hidup untuk berani mengakuinya. Mungkin karena mencintai kamu selalu terasa seperti berkaca pada diri sendiri; terlalu bodoh untuk meninggalkan, tapi juga terlalu naif untuk menyelamatkan.
Meski aku juga tahu kamu pasti akan berkomentar bahwa semuanya hanya bualan. Berkata bahwa ... terlalu terlambat untuk mengakui ketika pilihanmu sudah lebih dulu membenciku seumur hidup. Tidak masalah.
Nathaniel,
Aku ingin jujur sekali lagi. Aku ingin mengakui bahwa aku tidak pernah menyesali pernikahan kita. Meski kita memulainya dengan cara yang salah, meski kamu tidak pernah mengingikannya dan terus membenciku, namun saat-saat menjadi istrimu ternyata adalah detik-detik yang menyenangkan. Menjijikan, ya? Aku tahu. Tapi, aku tidak ingin berbohong tentang itu.
Meski kadangkala, sikapmu juga membingungkan. Perhatianmu sering terasa seperti kebetulan. Caramu melindungiku selalu kamu sangkal dengan kata-kata kasar. Tapi aku menyukainya. Aku menyukai caramu memastikan aku makan meski kamu pura-pura tidak peduli. Aku menyukai caramu selalu berada di dekatku saat aku tidak baik-baik saja, lalu pergi sebelum aku sempat berterima kasih. Aku menyukai caramu mencintai dengan cara yang bahkan kamu sendiri tidak mau akui.
Ah, yang terakhir itu sepertinya aku terlalu percaya diri, ya? Maaf. Tapi tolong, jangan memberitahuku. Karena aku sangat menyukai asumsi-asumsi liarku yang seperti itu. Aku bahkan menamainya bahasa cinta seorang Nathaniel. Imajinasiku sudah sangat kejauhan, ya? Maaf.
Nathaniel,
Aku tidak mengatakan ini untuk mengubah apa pun. Aku tidak berharap setelah ini kamu akan tiba-tiba mengerti, atau memaafkan, atau melihatku dengan cara yang berbeda. Aku mengatakan ini karena ada terlalu banyak hal yang tidak pernah sempat keluar dari mulutku karena sekali lagi, kita adalah dua manusia payah yang tak tahu caranya berbicara.
Mungkin memang beginilah kisah kita seharusnya berjalan. Dua orang yang saling mencintai—oh no. Aku membual lagi. Maaf, maksudku, Aku yang mencintaimu, dan kamu yang membenciku—kita tidak pernah belajar bagaimana caranya berkomunikasi tanpa saling menghancurkan. Dua orang keras kepala yang lebih memilih diam atau marah daripada duduk dan berbicara jujur. Dua orang bodoh yang membiarkan ego tumbuh lebih subur daripada cinta. Untuk bagian terakhir, kamu setuju kan, Nath?
Terakhir, aku ingin meminta maaf kepada kamu. Maaf karena lancang mencintai kamu.
Meski dengan cara yang salah.
Dengan waktu yang buruk.
Dengan pilihan-pilihan yang menyakiti kamu.
Aku tidak tahu bagaimana kisah ini akan berakhir. Aku tidak tahu apakah cinta bisa benar-benar mengalahkan kebencian, atau justru mati perlahan di bawahnya. Tapi satu hal yang pasti bahwa perasaanku padamu tidak pernah berubah. Selamanya. Ia hanya berganti bentuk, Nath. Dari harapan, menjadi khayalan; dari keyakinan, menjadi ketakutan.
Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Ok?
— Joceline