bc

Gairah Istri Polos Sang Mafia Jenius

book_age18+
88
IKUTI
1.2K
BACA
family
HE
love after marriage
age gap
fated
arranged marriage
mafia
bxg
brilliant
city
like
intro-logo
Uraian

Bagian dari cerita Gairah Tersembunyi Sang CEO Mafia - Baca bab Spesial Chapter di cerita Gairah Tersembunyi Sang Ceo Mafia , dan lanjut kesini ⚠️🔥

.

.

.

.

Tianara Katarina Tama, meski merupakan putri bungsu dari mafia berbahaya Abimana Narendra Tama, tetap hanyalah mahasiswi polos yang tidak pernah diberi ruang untuk menolak perjodohannya.

Pernikahan dengan Leonel Alpha De Luca, pewaris keluarga De Luca, menjadi keputusan mutlak yang harus ia terima.

Leonel bukan pria biasa.

Kejeniusannya dikenal dingin, terukur, dan menjadi ancaman nyata bagi siapa pun yang berada di sekitarnya. Justru kepolosan Tiana itulah yang mengusik ketenangan hidup Leonel yang selama ini berjalan tanpa gangguan.

Tanpa Tianara sadari, Leonel adalah pria yang sama tiga tahun lalu, sosok pertama yang pernah menciumnya dengan hasrat membara dan mengenalkan gairah yang hingga kini masih menghantuinya.

"Mau aku beritahu sesuatu yang enak-enak, Tiana?"

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 - Gadis Nakal & Rahasia Pria Asing 🔥
Pria itu akhirnya menarik wajahnya sedikit, namun ia tetap membiarkan dahi mereka bersentuhan. Napasnya memburu, terasa panas dan berat menerpa kulit wajah Tiana yang sudah merona hebat. "Dengar baik-baik, Gadis Nakal," bisiknya. "Jangan pernah berani mencium pria lain setelah ini. Karena ciuman pria mana pun tidak akan pernah terasa sama dengan apa yang baru saja aku berikan padamu. Kamu hanya akan berakhir merindukan rasaku." Tiana terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Bibirnya terasa bengkak dan berdenyut, namun ia justru merasakan sensasi luar biasa. Ciuman pria ini benar-benar enak, jauh lebih nikmat dari bayangan apa pun yang pernah melintas di kepalanya. Sambil sedikit limbung karena mabuk, Tiana kembali menarik kerah kemeja pria itu, matanya sayu memohon. "Lagi ... cium aku lagi," rengek Tiana manja, tubuhnya seolah mencair ingin menyatu dengan tubuh kokoh di depannya. Pria itu tersenyum tipis. Ia tahu persis bagaimana cara mengendalikan setiap sel saraf di tubuh Tiana hanya dengan sentuhan kecil. Ia kembali menunduk, memberikan satu lumatan dalam yang singkat namun sangat intens, membuat Tiana hampir kehilangan kekuatan di kakinya. "Nanti," bisik pria itu tepat di bibir Tiana. "Setelah tiba waktunya, aku tidak hanya akan menciummu. Aku akan melucuti semua pakaianmu, mencicipi setiap inci kulitmu, dan memberikan sesuatu yang jauh lebih nikmat daripada sekadar ciuman." Tiana menggelengkan kepalanya dengan frustrasi. Hasrat aneh, sesuatu yang baru saja tersulut di rahimnya membuatnya tidak sabar. "Enggak ... kamu nggak akan bisa. Kalau mau sekarang saja ... masuki aku sekarang. Cari tempat di mana saja, asal kita bisa melakukannya sekarang." Tiana meraba-raba d**a bidang pria itu, mencoba mencari celah untuk kembali memeluknya lebih erat. "Ayo, Mas ... aku mau kamu sekarang." Pria itu terkekeh rendah, suara tawa baritonnya terdengar sangat seksi di ruangan yang gelap itu. Meski wajahnya tak terlalu jelas di mata Tiana. "Sabar, Sayang. Sesuatu yang luar biasa harus dinikmati di waktu yang tepat." "Nggak ada waktu tepat!" Tiana kembali menggeleng dengan keras, matanya mulai berkaca-kaca karena pengaruh alkohol dan rasa putus asa. "Aku sudah dijodohkan oleh Papa dan Mamaku! Aku nggak akan bisa tidur denganmu nanti kalau bukan sekarang. Aku akan jadi milik orang lain yang bahkan wajahnya saja aku tidak tahu!" Tiana mencengkeram kemeja pria itu lebih kuat. "Jadi kumohon ... jadilah yang pertama sekarang, sebelum orang misterius bernama Leonel itu mengambil semuanya dariku." Pria itu terdiam mendengar nama itu disebut dari bibir Tiana. Ia justru semakin menekan tubuh Tiana ke dinding, membuat Tiana merasakan betapa keras dan besarnya kejantanan pria itu yang kini benar-benar siap untuk meledak. Pria itu tidak berhenti mencumbunya. Ia memindahkan bibirnya dari mulut Tiana, menelusuri garis rahangnya hingga ke ceruk leher yang wangi, menyesap kulit mulus itu hingga meninggalkan tanda kemerahan yang samar. Sambil terus memberikan sensasi panas itu, ia berbisik rendah, suaranya terdengar sangat manipulatif namun mematikan. "Kenapa kamu sangat membencinya, Gadis Nakal? Bukankah katanya dia jenius? Apakah menurutmu pria bernama Leonel itu begitu buruk sampai kamu ingin menyerahkan dirimu pada orang asing di sini?" JEDARR! Suara guntur di luar jendela kamar menyentak Tiana kembali ke alam sadar. Tiana terbangun dengan napas terengah-engah, tubuhnya bersimbah keringat dingin di atas ranjangnya yang empuk. Ia tertegun, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Jantungnya masih berdegup kencang, dan sensasi panas di lehernya terasa begitu nyata hingga ia refleks meraba kulitnya sendiri. "Mimpi itu lagi..." gumamnya lirih. Sudah kesekian kalinya kejadian di kelab malam tiga tahun lalu itu menghantui tidurnya. Kenangan tentang pria asing yang identitasnya tidak pernah ia ketahui. Pria yang telah mencuri ciuman pertamanya, membangkitkan gairahnya, lalu menghilang begitu saja. Tiana memijat pelipisnya yang pening. Bayangan pria di kelab itu kembali menghantuinya. "Tiana, Sayang. Turunlah sebentar," panggil Tiara, mamanya, dari balik pintu. Tiana tersentak. Ia melihat gaun yang sudah disiapkan untuk ia kenakan. Dengan langkah gontai dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Tiana membuka pintu kamar tanpa sempat membenahi penampilannya yang berantakan. "Ma, aku nggak mau," ujar Tiana seketika begitu melihat sosok mamanya. "Aku ... aku kayaknya kikuk, nggak tahu harus bicara apa dengan mereka." Tiara tertegun melihat putrinya. Ia melangkah maju dan memegang kedua bahu Tiana, matanya menyipit penuh kekhawatiran. "Tiana? Kamu kenapa, Sayang? Wajahmu pucat sekali, bahkan bibirmu gemetar. Apa kamu sakit?" Tiana menggeleng lemah, tidak mungkin ia menceritakan bahwa ia baru saja b******u dengan bayangan pria asing di dalam mimpinya sementara calon suaminya sudah menunggu di bawah. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi. "Aku cuma ... aku cuma nggak siap, Ma. Bisakah kita batalkan ini saja?" pinta Tiana dengan tatapan memohon yang sayu. Wajah Tiara melembut melihat kerapuhan putrinya, namun sedetik kemudian sorot matanya kembali tegas, memperlihatkan posisi mereka yang tidak memiliki ruang untuk negosiasi. "Tiana, dengarkan Mama. Kamu tidak bisa menolak ini lagi," ujar Tiara dengan nada rendah namun tidak terbantahkan. "Semua ini sudah direncanakan sejak lama. Kesepakatan antar keluarga sudah ditandatangani, dan pembatalan udah nggak mungkin." Tiana merasakan tatapan mamanya yang menegaskan hal itu membuatnya menunduk, menghela napas berat. "Tapi, Ma..." "Tidak ada tapi, Sayang," potong Tiara cepat. "Keluarga De Luca sudah menunggu di bawah. Mereka datang jauh-jauh untuk menemuimu secara resmi. Sangat tidak sopan jika kamu membiarkan keluarga sebesar mereka menunggu hanya karena rasa gugupmu." "Ma..." "Sekarang, cepat cuci wajahmu. Hilangkan rona pucat itu dengan sedikit makeup dan pakai gaun sutra pilihan Papamu. Mama tunggu sepuluh menit lagi di tangga." Tiara melepaskan pegangannya, memberikan senyum penyemangat yang terasa pahit bagi Tiana, lalu berbalik meninggalkan kamar. Tiana berdiri terpaku di ambang pintu. Ia tidak menyangka bahwa hari yang paling ia takuti telah tiba. Dengan tangan gemetar, ia meraih gaun di atas kursi. *** Suasana di kediaman utama keluarga Narendra Tama terasa dingin dan tajam. Sebuah aura yang selalu menyelimuti rumah itu, yang sebenarnya adalah markas pertahanan utama dari jaringan Serigala Hitam. Bahkan udara pun terasa berat, dipenuhi janji kekuasaan dan ancaman tersembunyi. Keluarga besar Narendra Tama baru saja menyambut tamu kehormatan. Setelah lebih dari dua puluh tahun menjadi sekutu kuat di bawah tanah, keluarga De Luca akhirnya datang bertandang lagi untuk ke sekian kali. Momen yang jarang, mengingat kedatangan De Luca hanya untuk sesuatu yang amat penting. Di ruang keluarga yang luas, duduklah Alvaro De Luca, seorang pria dengan tatapan tajam, didampingi istrinya, Arielle, yang terlihat elegan dan cantik. Tiana merasakan tatapan tajam dari setiap sudut ruangan. Ia bergegas duduk di sebelah Papanya. Jari-jemari mungilnya refleks menggelayut sedikit di lengan Abimana, mencari perlindungan. Abimana tersenyum, mengusap puncak kepala Tiana dengan sentuhan kebapakan yang hangat. Ia menoleh ke arah tamunya. "Silakan, Tuan Alvaro. Ini putri kami, Tianara Katarina Tama, gadis kecil yang selalu kami jaga, dia manja, tapi mulai beranjak dewasa." Nada suaranya penuh kebanggaan dan peringatan halus. Alvaro De Luca, rekan dekat, sudah seperti keluarga, yang lebih tua dan sama kuatnya, mengangguk. Tatapannya tertuju pada Tiana, menilai. "Halo, Tiana, dulu aku melihatmu masih kecil. Sekarang kamu sudah tumbuh dewasa dan menawan," kata Alvaro, ramah, namun tetap tegas. Abimana berdeham, senyumnya kini sedikit memudar, digantikan ekspresi bisnis yang tajam. Ia mengusap punggung tangan Tiana, sebuah isyarat yang mencurigakan. "Tiana, dengarkan Papa,” ujar Abimana. “Kamu akan tetap melanjutkan kuliahmu sampai lulus sarjana." Tiana diam, mendengarkan, meskipun matanya mencari-cari seseorang yang misterius itu. "Kakakmu akan kuliah lagi di Amerika. Papa dan Mama akan kembali ke Fiji, dan Papa tidak suka meninggalkan putri kecilku tanpa pelindung." Alvaro De Luca tersenyum, menatap lurus ke arah Abimana. "Tidak perlu khawatir, Tuan Abimana,” balas Alvaro. “Kami tahu betapa berharganya aset yang kau titipkan." "Aset?" gumam Tiana. Dia menghela napas. "Aku manusia, bukan aset," batinnya. "Putra sulungku, Leonel, sudah siap. Ia telah menyelesaikan proses pembersihan lapangan. Kapal sudah berlabuh, dan kuncinya telah berada di tangan kanannya.” Kata-kata itu terlalu rumit bagi Tiana, meskipun dia sudah terbiasa karna papanya seringkali berkata dengan kode yang sama sekali tidak dipahaminya. "Mohon maaf karna Leon tidak bisa hadir di sini, karna ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan." Saat nama Leonel diucapkan, Tiana merasa dadanya bergejolak aneh. Pria yang begitu tertutup, yang namanya selalu disebut-sebut namun sosoknya seolah disembunyikan di balik dinding privasi yang rapat. Lalu, dimana pria itu. Kenapa bahkan dipertemuan keluarga pun, dia tak ada, batin Tiana. ** Beberapa jam kemudian, kamar Tiana dipenuhi bisikan sumpah serapah yang tertahan. Ia mondar-mandir di depan cermin. Satu minggu. Hanya satu minggu waktu yang diberikan padanya untuk menerima perjodohan sialan ini. “Sial! Kenapa aku sebodoh ini!” umpatnya dalam hati. Tiana mencengkeram kepalanya. Di satu sisi, otaknya terus-menerus memutar rekaman memori malam di kelab tiga tahun lalu. Ia masih terngiang-ngiang akan pria misterius itu, dan sekarang? Ia malah dipaksa menikah dengan Leonel De Luca—orang asing yang sangat aneh dengan segala privasinya. Kenapa harus Leonel? Kenapa bukan pria di kelab itu saja yang datang menjemputku? batinnya kesal. Pintu kamarnya terbuka pelan, dan Tiara mamanya, masuk membawa nampan teh hangat. Tiara duduk di sisi ranjang, menarik Tiana mendekat. "Papa melakukan ini untukmu, Sayang,” bisik Tiara. “Ini bukan untuk bisnis. Ini untuk menjaga kamu." Tiana menatap ibunya dengan air mata tertahan. “Menjaga? Dengan menikahkan anaknya dengan orang asing? Leonel itu ... dia orang asing, Ma! Dia aneh, dia kayak menutup diri, dan aku harus menyerahkan hidup aku ke dia?”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook