09 - Keluarga Cemara

1497 Kata
Ilona mencoba menggerakkan tubuhnya untuk beranjak alarm mulai berbunyi. Namun, sebuah lengan kekar yang melingkar erat di pinggangnya mendadak mengetat. Rendra memeluknya erat. Dan seolah menyadari jika raga Ilona akan menjauh, ia pun semakin erat menahannya. Ilona menghela napas panjang. Bibirnya mengulas senyum tipis melihat tingkah suaminya itu. Ia menepuk pelan lengan kekar Rendra. "Ren, ini sudah pagi." "Eungh... sebentar lagi, Sayang," gumam Rendra tanpa membuka matanya. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya di antara rambut-rambut Ilona. Ilona mencoba menggeliat, berusaha melepaskan diri dari kungkungan sang suami. Namun, tenaga Rendra lebih kuat darinya. "Rendra, ih, lepasin dulu. Ini sudah jam berapa? Aku harus segera siapin sarapan dan bangunin anak-anak." "Masih pagi, Sayang. Lima menit lagi, ya?" tawar Rendra dengan suara baritonnya yang berat dan serak. "Nggak bisa dong. Kasihan nanti anak-anak kesiangan," ujar Ilona, nadanya kini dibuat sedikit lebih tegas agar suaminya itu mau menurut. "Kamu juga, cepat bangun, mandi sana!" Bukannya beranjak, Rendra justru menggeser posisi kepalanya. Pria itu malah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ilona, mengembuskan napas hangatnya di sana hingga membuat Ilona sedikit kegelian. "Rendra..." Ilona sampai jengah sendiri melihat tingkah manja suaminya pagi ini. Ia memukul pelan bahu Rendra. "Rendra! Kamu dengar aku nggak, sih? Malah makin menjadi-jadi kelakuannya. Ayo bangun!" "Aku dengar, Na. Tapi aku masih ngantuk. Masih mau peluk kamu lebih lama lagi. Semalam kita tidur larut loh. Capek lagi," keluh Rendra. Ilona melirik sinis ke arah sang suami. "Oh... jadi pagi malas-malasan gini gara-gara kecapekan yang semalam? Kalau gitu, besok-besok nggak us-" Rendra membelalakkan matanya. Ia lalu menatap Ilona dengan memelas. "Maksudku bukan seperti itu. Aku... ini aku udah bangun kan sekarang? Aku nggak malas-malasan lagi." Ilona menatap wajah tampan suaminya yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Gurat kelelahan memang tampak jelas di wajahnya. Ia mengusap lembut rahang tegas Rendra dengan jemarinya. "Iya, aku tahu. Sekarang cepat bangun! Mandi, siap-siap ke kantor!" Rendra menghela napas panjang, tampak pasrah mendengarkan omelan istrinya. "Iya, sayang. Iya." Pria itu perlahan mengurai pelukan eratnya. Namun, sebelum Ilona sempat menurunkan kakinya dari atas kasur, Rendra dengan gerakan cepat menahan pergelangan tangan sang istri, menariknya kembali mendekat dalam satu sentakan lembut. Cup. Sebuah kecupan hangat mendarat sempurna di kening Ilona, membuat wanita itu refleks memejamkan matanya. Ilona merasakan pipinya mendadak menghangat. Walau sudah bertahun-tahun menikah, perlakuan manis yang spontan dari Rendra selalu berhasil membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Ia bergegas berdiri, berjalan menuju meja rias untuk merapikan penampilannya. Sambil menyisir rambut panjangnya, Ilona menoleh melalui cermin, menatap suaminya yang kini sudah mengubah posisinya menjadi bersandar pada kepala ranjang. "Kamu mau sarapan apa pagi ini?" tanya Ilona hangat. Rendra menatap istrinya dengan pandangan memuja dari atas kasur. "Apa aja, Na. Apa pun yang kamu buat, pasti selalu jadi favorit aku. "Ya sudah. Aku keluar dulu ya, mau langsung ke dapur," pamit Ilona sembari berjalan menuju pintu kamar. Sebelum memutar knop pintu, ia kembali menoleh ke arah brankar tempat suaminya masih bermalas-malasan. "Kamu segera mandi! Jangan tidur lagi. Awas aja aku selesai masak kamu belum siap-siap." "Iya, Sayang. Ini aku langsung ke kamar mandi," sahut Rendra. *** Suasana di meja makan berukuran persegi panjang itu tampak sangat hidup. Aroma harum dari nasi goreng dan telur mata sapi yang baru saja matang menggugah selera semua anggota keluarga kecil itu. Gladys tampak sedang menatap adiknya dengan pandangan geregetan. Sementara itu, Galen yang masih balita, tampak sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Tangan mungilnya yang memegang sendok kecil terlihat kesusahan menyendok potongan telur di piringnya. Alih-alih masuk ke dalam mulut, telur tersebut justru meluncur bebas ke atas meja, menyisakan noda kecap di sekitar pipi gembulnya. "Ih, Galen! Makannya yang bener dong! Tuh kan, jatuh lagi telurnya!" omel Gladys. Tangannya bergerak mengambil selembar tisu untuk mengusap meja. "Kamu kelamaan tahu, Dek. Belajar makannya nanti sore aja kenapa, sih? Kakak bisa telat ini ke sekolah kalau nungguin kamu mainan makanan terus." Galen yang diomeli oleh kakaknya justru mengerucutkan bibirnya. Mata bulatnya menatap Gladys dengan pandangan polos tanpa dosa. "Tapi Gayen mau makan cendiwi! Gayen bisa!" ujarnya dengan suara cadel yang menggemaskan, kembali mencoba menusuk telur dengan garpunya. "Nggak bisa, Galen! Kamu lama, berantakan lagi. Udah ah biar disuapin Mama aja!" balas Gladys tidak mau kalah, nadanya meninggi khas anak-anak yang sedang kesal. Melihat perdebatan kedua anaknya, Ilona yang baru saja meletakkan gelas berisi s**u hangat hanya bisa tersenyum maklum. Ia berjalan mendekati Galen, berniat mengambil alih sendok dari tangan putranya. Namun, sebelum Ilona sempat bertindak, Rendra sudah lebih dulu berdehem pelan. Pria itu menatap putri sulungnya dengan pandangan teduh. "Gladys, tidak boleh mengomel seperti itu sama Adik. Adik kan cuma mau belajar, biar bisa pintar kayak kakaknya," tegur Rendra dengan lembut, suaranya yang tenang seketika membuat Gladys langsung bungkam. Gladys menundukkan kepalanya, memainkan ujung sendoknya dengan perasaan bersalah. "Tapi Gladys takut telat, Pa..." Rendra tersenyum, mengusap pucuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "Percaya sama Papa. Kalian tidak akan telat. Kan Papa yang antar kalian nanti. Nanti kita ngebut supaya cepat sampai. Oke? Sekarang, lanjutkan makannya dengan tenang." "Iya, Pa. Maaf ya, Pa," cicit Gladys pelan, kembali menyendok nasi gorengnya dengan patuh. Ilona yang melihat bagaimana suaminya menangani anak-anak dengan begitu bijak, mengembuskan napas lega. "Terima kasih ya, Ren," bisik Ilona pelan, yang dibalas Rendra dengan anggukan kepala dan senyuman hangat. Sambil menikmati sarapannya, Ilona teringat akan janjinya semalam pada Farah. Ia meletakkan garpunya perlahan, menatap Rendra yang sedang menyesap kopi hitamnya. "Oh iya, Ren. Habis menghantar anak-anak ke sekolah, aku mau langsung jenguk Farah mau bawain sup ayam buat dia. Nggak papa, kan?" Rendra menatap Ilona. "Kamu mau ke sana lagi? Tapi kamu kan juga lagi pemulihan, Na. Apa nggak sebaiknya kamu fokus istirahat dulu beberapa hari ke depan?" tanya Rendra. Ilona mengangguk pasti. "Iya, Ren. Kemarin kan aku sudah janji padanya untuk datang membawakan makanan. Lagipula, aku masih merasa khawatir dengan kondisinya. Dia juga masih dalam keadaan berduka. Nggak baik kalau sendirian." Rendra terdiam sesaat, menimbang-nimbang keputusan istrinya. Di satu sisi, ia tahu ketulusan Ilona tidak bisa dibendung. Namun di sisi lain, ia juga khawatir dengan kondisi kesehatan istrinya itu. Apalagi jika mengingat perlakuan Farah tempo hari, saat dirinya terbakar emosi pada Ilona. Rendra takut, Farah akan kembali khilaf dan menyerang Ilona saat ia tidak ada. Rendra menghela napas panjang, lalu menggenggam jemari Ilona di atas meja, menatapnya dengan pandangan yang dalam. "Baiklah, aku izinkan kamu ke sana. Tapi nggak usah lama-lama ya! Kamu harus ingat juga gimana kondisi kamu. Jangan sampai kamu kecapekan!" Ilona menatap binar kecemasan di mata suaminya. Ia tahu betul Rendra bersikap seperti ini karena sangat mencintai dan mengkhawatirkannya. Sebuah senyuman manis mengembang di bibir indahnya. "Iya, Ren. Aku nggak akan lama-lama. Setelah memastikan Farah sarapan dan meminum obatnya, aku akan langsung pulang. Aku akan kabarin kamu sesampainya aku di rumah." Rendra mengembuskan napas lega, senyuman tampannya kembali terbit. "Bagus kalau kamu mengerti. Aku pegang janji kamu, ya." "Pa, Ma! Gladys udah selesai makannya!" seru Gladys tiba-tiba, mengangkat piringnya yang sudah bersih dari makanan, memutus pembicaraan serius kedua orang tuanya. "Gayen jugak udah ceyeyai!" timpal Galen ikut-ikutan dengan wajah cemong minyak dan noda kecap. Ilona tertawa renyah melihat tingkah menggemaskan putra bungsunya. Ia segera mengambil tisu basah, mengusap sisa makanan di wajah gembul Galen. "Anak-anak Mama hebat semua. Kalau begitu, ayo kita pakai sepatu sekarang. Kita berangkat bareng-bareng!" Beberapa menit kemudian, garasi rumah mewah itu terbuka lebar. Mobil SUV hitam milik Rendra perlahan bergerak membelah jalanan kota yang mulai ramai. Suasana di dalam terasa hangat karena interaksi keluarga kecil itu. Tujuan pertama mereka adalah sekolah dasar tempat Gladys menuntut ilmu. Begitu mobil berhenti di depan gerbang sekolah yang sudah ramai oleh murid-murid lain, Gladys langsung mencium tangan Rendra dan Ilona bergantian. "Gladys sekolah dulu ya, Ma, Pa. Jangan lupa jemput Gladys nanti siang!" pamitnya dengan ceria. "Iya, Kakak. Belajar yang rajin ya, jangan nakal," pesan Ilona lembut, mendaratkan kecupan di pipi putrinya sebelum anak itu melompat turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam area sekolah. Setelah mengantar Gladys, Rendra kembali melajukan mobilnya menuju ke penitipan anak sekaligus sekolah PAUD tempat Galen belajar. Dan terakhir, Rendra mengantar Ilona ke apartemen tempat Farah tinggal. "Eh mau ke mana?" tegur Ilona saat melihat Rendra turut melepas seatbelt-nya. "Aku antar kamu sampai dalam," jawab Rendra. Ilona menggeleng. "Nggak usah, Ren. Kamu langsung ke kantor aja! Aku bisa sendiri kok." Rendra menatap Ilona ragu. "Serius?" "Astaga... jalan segitu doang. Lagian ini kan gedung berkeamanan tinggi. Apa lagi yang kamu khawatirin, coba?" Rendra menghela napas berat. Ia mengangguk kecil, mengizinkan Ilona pergi sendiri. "Sini cium dulu!" Rendra mencondongkan tubuhnya, lalu mencuri satu kecupan di bibir Ilona, hingga membuat wanita itu membulatkan matanya. "Nanti biar aku minta Rio yang jemput anak-anak. Habis dari apartemen Farah, kamu langsung istirahat aja!" pesan Rendra. Ilona mengangguk. Bibirnya menyunggingkan senyum manis. Ia menarik tangan Rendra untuk bersalaman dan menciumnya sebentar, sebelum akhirnya keluar dari mobil. "Jangan ngebut nyetirnya!" Rendra membalasnya dengan senyum tipis. Setelah mobil suaminya benar-benar hilang dari pandangan, Ilona mengembuskan napas panjang. Ia mengeratkan pegangannya pada tas bekal di tangannya, membalikkan badan dengan langkah kaki mantab. Bibirnya mengulas senyum manis. "Semoga Farah suka sama supnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN