08 - Firasat Mama

1411 Kata
"Tidak! Mama tidak kalau perempuan itu akan tinggal bersama kalian!" Suara lantang Mama Mira seketika memecah keheningan ruang keluarga berdesain modern tersebut. Wanita paruh baya itu berdiri dari sofa, menatap putra dan menantunya dengan kilatan amarah. Di depan mereka, tumpukan seprai bersih berwarna pastel dan beberapa perlengkapan kamar tamu yang baru saja dikeluarkan Ilona dari lemari penyimpanan kini terbengkalai begitu saja di atas meja. Ilona, yang semula tampak sangat antusias, langsung menghentikan gerakannya. Wajahnya yang masih menyisakan sedikit rona pucat seketika berubah pias. Ia meremas ujung kaus katunnya, menatap mertuanya dengan pandangan memelas. "Tapi, Ma... Farah sekarang tidak punya siapa-siapa lagi selain kita. Dia butuh seseorang untuk menjaganya. Ilona tidak tega membiarkannya dia tetap tinggal sendiri di rumah lamanya," ucap Ilona. Mama Mira melipat kedua tangannya di depan d**a. "Na, coba kamu pikirkan baik-baik pakai logika! Fisikmu sendiri saja belum pulih. Sekarang, kamu malah mau ngurusin orang asing, sampai membiarkannya tinggal di sini?" "Dia bukan orang asing, Ma. Dia kakak dari orang yang meninggal saat menyelamatkan Ilona, Gladys dan Galen," sela Ilona cepat, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata saat mengingat kembali kejadian traumatis malam itu. "Farah sekarang sebatang kara. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Dan Ilona merasa bertanggung jawab atas itu, Ma..." "Mama tahu kalian berutang nyawa pada Farah, Mama juga sangat bersyukur kamu bisa selamat, Na. Tapi membawa perempuan luar yang tidak jelas asal-usul wataknya untuk tinggal satu atap dengan kalian, itu adalah kesalahan besar!" Rendra yang sejak tadi duduk diam di samping Ilona, merasa atmosfer di ruangan tersebut sudah kian tidak kondusif. Sebagai kepala keluarga, ia tahu ia harus segera menengahi perdebatan itu sebelum suasana semakin meruncing. Pria itu menghela napas panjang, lalu menggenggam lembut tangan Ilona yang terasa dingin, memberi isyarat agar istrinya tenang terlebih dahulu. Rendra menegakkan punggungnya, menatap sang ibu dengan tatapan memohon. "Ma, tolong tenang dulu. Jangan emosi seperti ini, tidak baik untuk kesehatan Mama," ujar Rendra menengahi. "Soal Farah, biar nanti Rendra diskusikan lagi sama Ilona." Ilona menoleh cepat ke arah suaminya, matanya membelalak kaget. "Ren, tapi—" Rendra memberikan usapan lembut di punggung tangan Ilona, memotong kalimat istrinya sebelum beralih kembali pada Mama Mira. "Kalau memang Farah tidak tinggal di sini, aku bisa belikan dia apartemen atau rumah yang layak dan nyaman. Aku akan menanggung seluruh fasilitasnya, mempekerjakan seorang asisten rumah tangga untuk merawatnya, dan memastikan semua kebutuhannya terpenuhi. Dengan begitu, dia tidak perlu tinggal di sini, dan privasi rumah kami pun tetap terjaga. Bagaimana, Ma?" Mama Mira menghela napas panjang. "Tidak, Rendra! Mama tetap tidak setuju. Dengan kamu menanggung seluruh biaya pengobatannya dan Ilona yang sampai mengabaikan waktu istirahatnya demi menjaganya, itu semua sudah lebih dari cukup." "Ma, tapi Farah menderita gagal jantung dan ginjal kronis. Dia tidak bisa bekerja berat lagi. Dia butuh biaya dan orang yang peduli dengannya untuk merawatnya," bantah Ilona, suaranya mulai serak karena menahan tangis. "Kalau memang kalian merasa pemberian itu masih kurang, berikan saja dia sejumlah uang. Berikan uang itu kepada Farah sebagai santunan. Biarkan dia menggunakan uang itu untuk melanjutkan hidupnya sendiri dengan baik, entah dia mau mengontrak rumah, membuka usaha kecil-kecilan, atau apa pun terserah dia." Rendra menatap Ilona, lalu memberikan sebuah kode mata yang halus, isyarat yang meminta Ilona untuk berhenti membantah perkataan Mama Mira. Ia tidak ingin keluarganya malah menjadi kacau karena niat baiknya dan Ilona sebelumnya. Ilona yang menangkap kode dari suaminya hanya bisa menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Ia mengembuskan napas pasrah, menundukkan kepalanya dalam-dalam sembari menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan kasar. Dadanya terasa sesak oleh rasa tidak berdaya. Rendra kemudian berdiri dari sofa, berjalan mendekati Mama Mira, lalu mengajaknya menyingkir dari sana. *** Empat orang dewasa berjalan memasuki sebuah unit apartemen mewah. Unit itu sudah dibersihkan oleh asisten rumah tangga atas perintah Rio sejak malam tadi. Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari kamar yang memiliki ranjang empuk, televisi, pendingin ruangan, hingga dapur kecil yang sudah diisi dengan beberapa bahan makanan pokok. Namun, alih-alih menunjukkan binar rasa syukur, Farah justru mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dengan tatapan kurang puas. Bibirnya melengkung tipis ke bawah, menyembunyikan rasa kecewa. Farah kemudian menundukkan kepalanya, meremas ujung sweater rajut longgar yang ia kenakan. Wajahnya sengaja dibuat sedemikian rupa agar tampak begitu menyedihkan di depan pasangan suami istri tersebut. ""Apakah aku benar-benar akan tinggal di sini sendirian?" Farah mendongak, menatap Ilona dengan sepasang mata berkaca-kaca, memancarkan ketakutan yang dibuat-buat. "Tempat ini sangat luas dan sepi, Ilona. Aku takut. Aku akan tinggal di sini sendirian tanpa ada satu orang pun yang menemaniku. Bagaimana kalau malam-malam jantungku tiba-tiba kumat lagi? Siapa yang akan menolongku? Aku tidak punya siapa-siapa di sini..." Mendengar keluhan Farah, hati Ilona seketika teriris. Rasa bersalah kembali menghujam dinding batinnya. Ia menggenggam kedua tangan wanita itu dengan penuh perasaan bersalah. "Aku minta maaf karena tidak bisa membawamu tinggal di rumah utama kami. Tapi aku janji, aku akan sering datang ke sini untuk menjengukmu. Aku akan menemanimu mengobrol, sesering mungkin. Saat kamu menjalani pengobatan, aku juga akan stand by di dekat kamu. Tolong jangan merasa sendirian lagi, ya?" Lalu, Rendra juga menambahkan. "Kamu tidak perlu khawatir. Akan ada asisten rumah tangga yang membersihkan tempat ini setiap hari. Dia akan datang di pagi hari, lalu pergi menjelang sore. Jadi kamu tidak sendirian." Farah menatap Ilona dalam-dalam, lalu air matanya perlahan luruh melewati pipinya yang cekung. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, menampilkan gestur menolak dengan halus. "Aku sangat bersyukur atas semua kebaikan kalian. Kalian sudah membiayai pengobatanku, memindahkan aku ke tempat seindah ini... tapi... aku juga tidak mau selamanya menumpang dan bergantung pada kalian. Aku harus bisa bangkit dan mandiri saat waktunya sudah tiba." Ilona mengerutkan keningnya. "Kamu bukan beban bagi kami, Farah. Ini tanggung jawab kami." Farah menghapus air matanya dengan punggung tangan yang gemetar, lalu menatap Rendra dengan pandangan memohon. "Rendra... jika kalian memang benar-benar tulus menganggapku sebagai keluarga, tolong carikan aku sebuah pekerjaan. Pekerjaan apa saja, asalkan aku bisa menyibukkan diri dan menghasilkan uang dengan keringatku sendiri." "Farah, kamu tidak perlu bekerja!" sela Ilona cepat dengan nada panik, memotong keinginan Farah seketika. "Kondisi kesehatanmu belum stabil. Kamu fokus saja dengan pengobatan kamu, oke?" Namun, Farah menggelengkan kepalanya. "Jika aku terus-menerus berdiam diri, aku malah akan terus-menerus teringat pada Fadly. Aku harus punya kesibukan agar aku tidak terus dihantui rasa rinduku pada Fadly." Mendengar alasan menyangkut Fadly, Ilona seketika bungkam. Lidahnya mendadak kelu, tidak tahu lagi harus merespons apa. Ilona perlahan membalikkan badannya, menatap suaminya yang berdiri di belakang. Rendra menghela napas panjang. Ia mengerti dengan maksud tatapan istrinya. Setelah menimbang-nimbang selama, pria itu akhirnya melangkah mendekat. "Baiklah. Jika memang itu keinginanmu demi kebaikan kondisi psikologis dan mentalmu, aku akan mencarikan sebuah pekerjaan yang tepat untukmu. Di sekitar sini ada kantor cabang perusahaanku. Mungkin aku bisa mengaturkan sebuah posisi untukmu," putus Rendra. Farah seketika menghentikan isak tangisnya, mendongak menatap Rendra dengan binar harapan. "Benarkah? Kamu akan memberiku pekerjaan?" "Akan aku usahakan. Aku juga masih harus memikirkan posisi yang tidak mengharuskanmu bekerja terlalu berat dan tidak membutuhkan aktivitas fisik yang menguras energi," balas Rendra. Farah mengangguk antusias. "Baik. Soal itu, aku percaya sama kamu, Ren. Terima kasih banyak, ya." Farah meraih tangan Rendra, menyalaminya dengan erat. "Terima kasih... terima kasih banyak, Rendra! Kamu benar-benar mengerti apa yang benar-benar aku butuhkan," ungkap Farah. Rendra tersenyum tipis, perlahan menarik kembali tangannya dengan sopan. "Sama-sama, Farah. Sudah menjadi kewajibanku untuk memenuhi kebutuhanmu. Yang terpenting sekarang, kamu harus menjaga kesehatanmu!" Ilona yang mendengar semua itu pun ikut mengembuskan napas lega. Beban berat yang sempat menghimpit dadanya perlahan mulai terangkat. Ia sangat bersyukur karena bisa melihat Farah tersenyum kembali setelah badai duka yang menimpanya. "Kalau begitu, aku dan Rendra pamit dulu, ya, Farah. Kami sudah pergi sejak pagi. Anak-anak pasti udah nungguin di rumah. Istirahatlah yang cukup! Besok aku akan ke sini dan bawain makanan buat kamu," pamit Ilona. Farah mengangguk, melambaikan tangan dengan ramah. "Iya, Na, Ren. Hati-hati di jalan! Salam buat anak-anak." "Kami pergi dulu, Farah," pamit Rendra dengan anggukan kepala sopan, sebelum akhirnya menuntun pinggang Ilona untuk berjalan beriringan keluar dari unit apartemen tersebut. Rio segera mengikuti di belakang, menutup pintu apartemen hingga tertutup rapat. Begitu deru langkah kaki ketiganya benar-benar menghilang di lorong koridor, keheningan kembali merayapi unit apartemen mewah tersebut. Farah perlahan-lahan menurunkan lambaian tangannya. Senyuman manis dan raut wajah rapuh yang sejak tadi ia pamerkan seketika lenyap tanpa bekas. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi roda, menatap pintu keluar dengan sepasang mata yang memancarkan kilatan obsesi dan keserakahan. "Satu langkah demi satu langkah... aku tidak perlu terburu-buru. Karena cepat atau lambat, Rendra pasti akan jadi milikku," gumamnya, dengan senyum yang tampak sinis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN