Suara langkah lebih dari satu orang semakin jelas terdengar ketika Hadley sampai di lantai kedua. Sudah hampir pagi, siapa yang datang dengan pasukan bersenjata? Hadley sudah siap dengan revolver colt di tangannya untuk serangan balik—jika diperlukan.
"Hadley!" Panggilan lantang menyerukan namanya membuat Hadley menghentikan langkah. Dia mengenalinya. Martinez? Untuk apa pria itu datang? Hadley menolehkan kepala ke arah kamar di mana Rhea tadi datang.
"Gadis itu masih di sana?" Gumam Hadley. Langkah seribu membawa dia beralih ke ruang kamar. Tanpa mengetuk, Hadley mendorong pintu sedikit kasar.
Dugaannya benar. Rhea masih tertidur pulas di atas ranjang. Namun, mata Hadley tertuju pada subjek lain yang juga ada di sana. "Vallery? Kamu ... ."
"Hai!" Vallery tersenyum smirk, alisnya pula ikut terangkat. "Terkejut aku di sini?" Vallery menoleh sekilas pada Hadley kemudian beralih lagi memandangi wajah polos Rhea. "Kekasihmu cantik. Kenapa tidak menikah saja dengannya? Kenapa harus aku?"
Hadley tidak menjawab, sebaliknya dia segera membangunkan Rhea.
"Sayang." Rhea menggeliat setelah matanya sedikit terbuka demi melihat siapa yang mengganggu tidurnya. "Kamu mau apa?" Gadis itu bangkit; terduduk di sisi ranjang begitu melihat Hadley memegang senjata.
"Ayahmu di bawah," jawab Hadley datar. "Temui dia sebelum anak buahnya menghancurkan rumah ini." Senjata Hadley selipkan di pinggang sebelum akhirnya berlalu menuju pintu.
Bukan menuruti, Rhea justru menatap Vallery setelah melihat keberadaannya. "Kamu mengusirku? Bukan karena ayahku, tapi karena dia, bukan?"
Hadley menoleh; melirik Vallery. "Ya. Satu karena istriku dan dua sebab ... ." Tembakan kembali terdengar. Kali ini, sepertinya mengenai pintu. Sensornya berbunyi nyaring. "Kamu dengar sendiri. Ayahmu memaksa masuk seperti pencuri." Langkah Hadley kembali masuk, tapi bukan untuk menyeret Rhea keluar. Melainkan, meraih tangan Vallery dengan lembut, menggandeng istrinya itu enyah lebih dulu.
Rhea terbakar melihatnya. Sikap lembut Hadley yang biasa hanya padanya, sekarang dia berikan pada wanita lain—tanpa tahu apa kesalahannya sampai dicampakan begitu saja. "Kamu jahat, Hadley!"
Hadley menahan napas pendek. Melirik Vallery yang kebingungan atas sikap manisnya. "Urusan kita belum selesai! Pergi ke kamarmu sekarang!"
Perintah tegas itu keluar dari mulut Hadley. Meski berbisik, tapi Vallery sudah dapat menilai bahwa itu bukan sekadar perintah biasa melainkan sebuah ancaman. Bulu kuduknya meremang. Apa konsekuensi yang akan dia terima setelah ini? Berani menembus pertahanan Hadley; lebih-lebih menemui kekasih suaminya itu.
"Oke." Senyum Vallery paksakan. "Aku ke kamar duluan, ya, Sayang. Kamu jangan lama, nanti aku keburu tidur sebelum kita ... ." Vallery mengigit bibir, sensual, dan sialnya Hadley tertegun melihat itu.
Tak sampai di sana, tingkah Vallery juga dibumbui dengan gerakan tangannya mengusap bagian depan tubuh Hadley. Menyisir bidang dari setiap bagian otot Hadley di balik pakaian. Vallery melirik Rhea yang kemudian memalingkan wajah.
"Selesaikan urusanmu, Sayang, aku tunggu kamu. Dah!" Lebih gila lagi, Vallery memajukan bibir seolah memberi kiss terbang.
Bukan hanya Hadley yang tertampar oleh sikap Vallery, Adric juga menyaksikannya. Dia datang sejak melihat tuannya hanya bisa mematung ketika tangan pucat Vallery menyentuh dadanya. Gadis itu lebih dari sekadar berani, batin Adric. "Dia cerdik?" Gumamnya pelan.
Adric berdehem hingga membuat Hadley sedikit tersentak. Fokusnya teralih pada Vallery dengan segala tingkahnya. Seharusnya tidak demikian, Hadley menatap datar ke arah Adric. Jangan sampai asistennya itu mencurigai bahwa dia mulai kehilangan kendali.
Gerakan mata Hadley berikutnya, membawa langkah Adric mendekat pada Rhea. Menarik lengan sang gadis agar segera menemui ayahnya.
"Lepas! Aku bisa sendiri." Ketus Rhea. "Kalian ... lihat saja apa yang bisa aku lakukan setelah semua sikap kalian padaku." Rhea mengambil langkah. Kaki dia hentak-hentakkan tanda kekesalan pada dua pria yang mengusirnya itu.
"Dad ... ." Rhea menghambur kepelukan Martinez—sang ayah—begitu melihat pria paruh abad tersebut.
"Untuk apa kamu di sini? Apa dia memintamu datang?" tanya Martinez.
"Jaga putri kesayanganmu untuk tidak berkeliaran ke rumah laki-laki yang sudah beristri. Itu pun jika Anda memang benar-benar menyayanginya." Hadley berucap. Terdengar tidak sopan, tapi dia mengatakannya datar; tanpa emosi bahkan ekspresi.
Martinez menoleh tajam. Ada kilatan dari matanya yang bisa Hadley nilai, bahwa pria seusia ayahnya itu tersinggung. "Dan, ya, untuk datang ke rumah ini menjemput putrimu, seharusnya Anda cukup mengetuk pintu dan bertanya. Lagi pula, aku tidak mencuri dari siapapun, dia datang sendiri dan aku tidak tahu jika dia tidak pulang. Lain kali, jangan seperti perampok!"
Memindai satu persatu anak buah Martinez yang masih siaga dengan senjata di tangan mereka masing-masing. Hadley tersenyum smirk kemudian pergi begitu saja setelah memberi isyarat pada Adric dan beberapa bawahan dia yang lain.
***
Rugi kalau Vallery benar-benar kembali ke kamar—setelah berhasil membobol keamanan Hadley—tanpa melihat drama yang terjadi. Vallery menyaksikannya dari balik tembok di dekat tangga. Dia baru kembali ke kamarnya saat Hadley juga pergi dari area perdebatan kecil.
Pintu kamar Vallery tidak tertutup rapat begitu Hadley memasuki tempat itu. Vallery yang juga baru tiba, kontan menoleh. Matanya membola mendapati Hadley sudah membuka dua kancing dari pakaian yang dia kenakan. Vallery meneguk ludah.
"Dengar ... aku hanya mengikuti sandiwaramu. Aku tidak benar-benar menunggumu. Tidak! Sungguh!"
Terperangkap. Vallery tidak bisa bergerak lagi. Di belakangnya sudah ada ranjang Queen size atau dia akan berakhir di sana bersama Hadley.
"Bagaimana kamu bisa keluar dari tempat ini, aku tidak peduli. Mungkin kamu memang cerdik dan tidak sebodoh yang aku duga. Tapi, mari kita lihat ... apa kamu bisa keluar dari situasi ini setelah tangan kotormu itu berani menggodaku?" Bisik Hadley penuh ritme dan penekanan di setiap kata yang dia lontarkan. Membuat Vallery semakin gugup.
Tangannya masih mengudara menahan Hadley agar tidak semakin mendekat. "Kamu bilang tanganku kotor? Aku bahkan tidak berani membunuh nyamuk. Lebih kotor mana dengan tanganmu yang baru kamu pakai memukul orang. Bahkan mungkin membunuhnya!"
Hadley menegang. Vallery tahu penyiksaan di ruang bawah tanah. Apalagi yang dia tahu? Hadley sempat memeriksa rekaman CCTV di ruang kerja. Terlihat jelas Vallery mengotak-atik komputernya dan fakta itu bertolak belakang dengan pernyataan Adric yang mengatakan 'tidak terjadi apa pun'. Sebanyak apa yang Vallery tahu? Apa pula tujuan Adric melindungi gadis ini?
"Bagus jika kamu sudah tahu siapa aku. Jadi, tidak perlu kujelaskan lagi. Kamu sudah harus mengerti, aku tidak mengampuni siapa pun," ucap Hadley mengintimidasi.
"Dan aku ... bukan wanita yang menyerah pada keadaan apa pun," balas Vallery.
Hadley mencondongkan tubuh. Lebih dekat pada Vallery. Dapat dia hidu aroma parfum manis itu dari tubuh wanita yang seharusnya sudah dia nikmati tubuhnya. "Kita lihat, apa yang bisa kamu lakukan?" Kembali tegak. Hadley tersenyum sebelum akhirnya menuju pintu. Dia membukanya dengan mudah sebab mode keamanan yang dia setel sudah tidak berfungsi. Sebelum benar-benar pergi, Hadley melirik Vallery yang masih mematung di depan ranjang kemudian beralih pada gagang benda akses. Dia berdecak pelan.
"Huh!" Napas lega lolos dari mulut Vallery. Seperti baru saja menghadapi kematian. Vallery benar-benar merasakan bahaya terlebih Hadley datang masih dengan senjata di pinggangnya. "Apa dia membawa itu ke mana-mana?" Vallery bergidik.
Meraih ponsel di dalam saku piyama yang Vallery kenakan. Dia melihat laman chat dari Owen tadi.
[Status mengambil alih kendali diaktifkan. Ganti sandi untuk akses penuh sebelum Hadley menyadarinya.]
Vallery tersenyum. Tidak ada ruginya juga Owen menempuh pendidikan, dia sedikit berguna untuk membantu Vallery. Sedikit! Selebihnya hanya jadi adik yang usil.
[Kalau sudah dalam kendalimu, nanti suamimu masuk kunci saja biar dia tidak bisa keluar. Rayu dia untuk mengagahimu Kak Valle. Sedikit galak tapi dia tampan, bukan?]
[Oh, iya. Matikan lampu, nanti ada yang lihat dari kamera pengawas. Kalau mendesah yang seksi, buat suamimu itu yang jadi tawananmu sampai mabuk kepayang. Jangan sebaliknya!]
[Kalau masih belum mengerti, nanti kukirim video bagus. Lumayan buat Kakak belajar.]
"Dasar sinting!"