"Apa katanya tadi? Aku tidak akan bertahan lama dan dia orang pertama yang akan aku temui? Cih! Mimpi saja. Dasar lamban." Ejek Vallery yang yakin seribu persen, Adric sudah bekerja cukup lama dan belum mencapai tujuannya yang entah apa Vallery tidak tahu. Membanting tubuh lelah ke atas tempat tidur, Vallery merasai empuknya kasur. "Aku gak bisa diam begini terus-menerus. Harus kucari cara untuk bisa bebas keluar-masuk kamar ini."
Vallery menyalakan layar gawai. Mencari nomor kontak siapapun yang berpotensi bisa menolongnya. Jika tadi nomor Noah terhubung pada Hadley, mungkin tidak dengan nomor sang adik. Owen Everett Hayes.
Adik satu-satunya Vallery seolah tahu sang kakak sedang memikirkannya. Dia menelepon lebih dulu sebelum Vallery berhasil mendial nomornya. "Huh, kamu tahu, Owen? Kakak baru saja akan meneleponmu."
"Kau baik-baik saja, Kak? Terjadi sesuatu? Kenapa aku baru tahu kabar pernikahanmu hari ini. Aku sudah tidak dianggap?" Cecar Owen memberondong banyak pertanyaan untuk Vallery. Membuat sang kakak mendengkus keras.
"Ayah tidak memberitahumu?"
Giliran Owen yang mendengkus di seberang sambungan. "Pertanyaan dibalas pertanyaan. Besok aku pulang."
"Hei ... bagaimana dengan studi-mu? Memangnya sudah selesai?"
"Tinggal sidang skripsi. Aku mau pulang sebentar. Bagaimanapun, Kak Valle satu-satunya kakakku. Aku mau mengucapkan selamat untukmu secara langsung."
"Itu tidak perlu," balas Vallery datar.
"Kenapa? Apa benar dugaanku, Kak Valle dalam masalah?"
"Ya." Vallery menjawab diplomatis. "Kamu bisa menolong kakak?"
"Apa?"
Vallery menceritakan sebagian yang terjadi pada Owen. Bahwa dia tinggal di kamar dan tidak mendapat kebebasan. Soal bagaimana Hadley, kejamnya, dan rahasia sang kakek, belum Vallery ceritakan.
"Aku tidak bisa menghubungi ayah sebab pasti akan tersambung ke ponsel Hadley." Keluh Vallery. "Ini saja ... untung kamu telepon kakak lebih dulu. Kakak ragu tadi, takut Hadley melakukan hal yang sama ke nomormu."
"Tapi, nomor ayah masih tetap sama. Barusan aku menelepon."
"Kok bisa? Berarti kalau ayah yang menghubungiku lebih dulu, bisa. Sebaliknya ... percakapan kita ... apa mungkin Hadley juga tahu?" Vallery menyadari sesuatu. "Oh, s**t!" umpatnya kemudian bangkit dari semula duduk di tepian ranjang.
"Kenapa, Kak?" Owen jadi ikut khawatir.
"Kamera pengawas." Vallery mendongak mendapati benda tersebut ada di kamarnya. "Berarti saat aku membuka gaun ... ." Refleks mulutnya menganga. "Pantas Adric pikirannya liar. Dia melihatku? Hadley juga?"
Owen yang masih mendengarkan di seberang sana seperti mengerti. Dia tertawa. Vallery tidak pernah berubah. Sama cerobohnya seperti saat masih di rumah sendiri. Suka asal buka baju tanpa memastikan situasi. Pernah sekali, pintu kamar kakaknya itu sedikit terbuka, Owen main masuk tanpa permisi dan mendapati Vallery sedang membuka pakaian hendak mandi. Padahal semua itu bisa dilakukan di kamar mandi. Dasar Vallery, berakhir dengan keduanya menjerit karena sama-sama terkejut. Owen juga yang kena omel.
"Kamu ngejek aku, Owen!"
Tawa Owen masih menyisa. "Tidak-tidak. Sori. Begini saja. Aku tutup dulu teleponnya, nanti kuhubungi lagi setelah mendapat cara bagaimana mengeluarkanmu dari kamar itu," ujarnya.
"Bagaimana caranya? Memang bisa? Pintu kamar ini dirancang khusus untuk bisa Hadley kendalikan dari ponselnya."
"Itu dia!" Sambar Owen antusias. "Akan aku coba. Percaya saja, sudah! Urus itu kamera pengawas. Gak lucu kalau kakak ipar nanti sampai menontonmu mengorok."
"Heh!" Nada pendek tanda panggilan berakhir terdengar. Owen buru-buru mengakhiri sambungan sebelum Vallery berhasil menyemprotnya sebab Owen baru saja mengejek. "Dasar!"
***
"Sayang," rengekan tak terelakan ketika Hadley baru saja mendorong pintu. Rhea yang semula duduk di tepian ranjang dengan segelas kecil bourbon di tangannya langsung meringsut. "Kamu lama sekali."
"Mau apa?"
"Ini malam pertamamu dengan gadis tidak tahu malu itu. Apa aku mengganggumu?"
"Ya." Hadley menjawab cepat. "Jelas itu mengangguku. Mau apa datang lagi?"
"Ish." Tidak suka dengan jawaban Hadley, Rhea mengerucutkan bibir. Tangannya hampir terayun menyentuh tubuh Hadley andai dia tidak mundur selangkah. "Kamu kenapa, Sayang? Dan apa tadi, aku menganggumu? Memangnya kamu mau apa dengan gadis kurang ajar itu?"
"Stop!" Hadley mengangkat telunjuk. "Berhenti mencela istriku. Bagaimanapun dia pendampingku sekarang."
"Kamu ini kenapa? Apa yang salah denganku sampai kamu tiba-tiba memutuskan untuk menikahi perempuan lain?" Rhea bukan lagi merengek. Kali ini, dia menangis.
"Salahmu? Kamu tanyakan salahmu, padaku? Tanyakan itu pada dirimu sendiri," tukas Hadley. "Kalau sudah tidak ada keperluan lain, baiknya kamu cepat pulang."
"Tidak mau."
"Rhea dengar ... aku sudah menikah."
"Aku tidak peduli."
"Pedulikan dirimu."
"Tapi kenapa?" Rhea mengerang frustasi.
"Aku tidak bisa menikahimu karena ... ." Hadley menggantung kalimat. Menarik napas pelan demi melingkupi paru-parunya yang terasa sesak. "Lupakan yang pernah kita lewati."
"Kenapa?"
"Usiamu masih muda. Jangan sia-siakan hanya karena aku."
Hadley benar-benar meninggalkan Rhea seorang diri. Dia tidak lagi menoleh meski Rhea terus memanggilnya.
***
Sudah dini hari tapi Hadley masih asik menatap ke luar dari balik jendela. Segelas bourbon dan sebatang nikotin setia menemani kesendiriannya. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa pekan lalu sebelum keputusan menyetujui permintaan kakek dan ayahnya terjadi. Dalam hati yang bergejolak Hadley bersumpah jika dia hanya akan mengikat Vallery tidak lebih dari sekadar kesepakatan.
“Hadley, akhiri hubunganmu dengan Rhea!” Suara lantang Ethan malam itu memenuhi gendang telinga Hadley. Membuat si empu nama menoleh bingung.
“Kakekmu sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu, Nak.” Nyonya Ethan menambahkan. Hadley kemudian melirik sang kakek yang terduduk di atas kursi roda tanpa peduli bahwa ibunya lah yang berbicara.
“Kenapa dengan Rhea? Aku mencintai dia dan tidak akan pernah berubah perasaan itu sampai kapanpun,” ucap Hadley lantang sambil mengabsen satu-persatu yang ada di ruang tengah. “Rhea gadis yang sesuai. Dia putri Martinez yang terpandang. Bukankah itu kriteria menantu yang kalian cari?” Lanjut Hadley. Beberapa waktu lalu, Hadley resmi memperkenalkan Rhea pada keluarga besarnya. Bayangan akan dengan mudah mendapat restu, ternyata berbanding terbalik. Hadley tidak tahu di mana letak salahnya pun dengan Rhea. Hadley rasa, Rhea tidak membuat kesalahan apa pun.
“Ya, memang betul. Tapi, tidak dengan Martinez.” Tegas Ethan sembari melirik pada sang ayah, Rhys.
Ada yang tidak Hadley pahami saat itu selain, tatapan Ethan pada kakeknya yang terkesan penuh makna. Kemudian, tubuh Hadley menegang tatkala sang kakek memintanya menikahi Vallery Hayes.
“Apa ini lelucon? Gadis itu di bawah standar kalian.”
Kalau saja Martinez tidak bereaksi sama dengan keluarganya, mungkin Hadley masih sanggup memperjuangkan Rhea. Kenyataan, Martinez juga menolaknya. “Aku sudah siapkan pendamping untuk putriku.” Pria seusia Ethan tersebut mengangsurkan beberapa lembar foto. Di dalamnya, ada Rhea, Martinez, istri Martinez dan seseorang yang kemungkinan hendak dijodohkan dengan Rhea. Laki-laki berpenampilan rapi serta tatapan tajam itu sedang melirik Rhea—di sampingnya— yang tertawa bahagia. Entah apa yang mereka perbincangkan. Tapi, pertemuan tersebut layaknya makan malam keluarga. Tampak sangat intim hingga Hadley cukup merasa dipermainkan. Apalagi, Rhea begitu ceria dan tidak canggung berbagi tawa.
Hadley menenggak gelas bourbon terakhir. Menarik kembali ingatannya ke masa sekarang. Sisa rokok di tangannya dia buang ke dalam asbak setelah bara pada ujung nikotin tersebut padam.
Langkah membawanya ke tepian ranjang. Meraih benda pipih yang tergeletak di sana, tak dia sentuh sejak pertemuannya kembali dengan Rhea malam ini. Ada banyak panggilan tidak terjawab termasuk chat dari gadis itu. Hadley menghela napas berat.
Jemari Hadley menggulir layar. Sesuatu yang tengah dia cari, Hadley temukan di sana. Biodata lengkap pria yang disinyalir dekat dengan Rhea. Usianya hampir sama dengan Hadley. Dari keluarga terpandang juga. Yang bahkan, baru saja pulang dari berlibur bersama ke Australia. Tangan Hadley menggenggam erat ponselnya hingga layar pada benda pipih itu menggelap.
Handphone tidak dapat Hadley hidupkan kembali. Bukan karena aksinya meremas benda tersebut melainkan karena ... Hadley mencari keberadaan alat changer. Ada di laci nakas. Hadley gegas mendekat pada lubang aliran listrik. Ponsel menyala, menampilkan ikon pengisian daya.
Merebahkan diri. Hadley tetap manusia yang butuh tidur; butuh istirahat. Tapi sepertinya, lelucon hari ini belum berakhir. Suara serangan dari lantai bawah menggelegar. Tembakan beberapa kali dilepaskan. Penjagaan terlalu lemah.
Bagaimana mungkin ada musuh yang bisa menerobos ke rumah? Hadley membatin. Buru-buru dia menuruni tangga. Bahkan di saat seperti ini, lift ikut-ikutan sibuk; tidak tahu siapa yang sedang menggunakan mode transportasi vertikal tersebut.