Di Balik Ruangan Gelap

1406 Kata
"Tuan." Adric memanggil. Tanpa bicara dan hanya menggerakkan ekor mata, Hadley sudah mengerti. Dia sudah tergesa mengayunkan tungkai diikuti Adric di belakangnya. Vallery ingat pria yang datang tersebut, yang menyapanya tadi saat dirinya tiba di rumah ini. Gadis itu terpaku melihat dua sosok pergi menjauh. "Mereka pintar berbahasa isyarat. Cih!" Perlahan, kaki Vallery terayun menyusuri lorong gelap. Cukup jauh keberadaannya dari ruangan lain. Sekarang, dia sadar, bahwa kamarnya terpisah dengan jarak yang lumayan mungkin itu supaya tidak ada orang lain yang mengetahui keberadaannya. Tadi saat di bawa ke kamar tersebut, Vallery sama sekali tidak berpikir ke arah sana. Sampai di tempat yang lampunya masih menyala, Vallery melihat-lihat setiap ruangan yang ada. Beberapa kamar tidak dikunci sehingga Vallery bebas keluar-masuk. Kembali, ke ruang tengah—masih di lantai atas, beberapa foto keluarga terpajang di dinding bahkan ada yang tergeletak di atas bupet. Televisi yang entah biasa dinyalakan atau tidak juga ada. Hingga Vallery sampai di satu ruangan yang pintunya terkunci rapat. Sensor lampu berubah merah ketika dia menyentuhnya. Yakin, itulah kamar Hadley. Vallery bergegas menuju lorong gelap yang hampir sama seperti lorong ke arah kamarnya. Ada satu ruangan di sana yang pintunya sedikit terbuka. Vallery mendorong pintu itu perlahan tanpa menyentuh handle. Tahu, pasti ada sensor keamanan yang terpasang juga di sana. Hadley ternyata tidak secerdas itu. Dia sama cerobohnya hingga membiarkan ruangan ini tidak terkunci. Batin Vallery, lantas segera masuk tanpa membuang waktu. Layar besar di ruangan itu menyala. Vallery terbelalak melihat adegan penyiksaan yang di lakukan Hadley terpantau di layar tersebut. Tidak terlalu jelas memang. Cahaya lampu temaram hanya menampilkan seluet manusia memegang benda tumpul sebagai senjata. Namun, Vallery yakin itu suaminya. Pakaian yang dikenakan persis seperti yang dipakai Hadley tadi. "Apa yang dia lakukan? Siapa mereka?" Pertanyaan Vallery hanya angin lalu yang tidak mungkin mendapat jawaban. Setelah beberapa saat mengamati, Vallery menoleh kanan-kiri dan mendapati komputer di atas meja. Dapat dia tebak itu meja kerja Hadley. "Apa ini menggunakan sensor juga?" Namun, rasa penasaran yang besar membawa Vallery nekat menyentuh benda itu. Layar terbuka, tampilan pertama yang dia lihat kembali membuatnya terbelalak. Daftar nama perusahaan beserta pemiliknya ada di sana. Pada salah satu perusahaan, terdapat nama kakek Vallery. "Oh, God!" Dia masuk ke kandang kawanan srigala? Tangan Vallery bergetar. "Fakta macam apa ini?" Dalam hitungan jam dia sudah mengetahui rahasia besar. "Ini jebakan?" Seper-sekian detik kemudian, Vallery menyimpulkan. Hadley mungkin sedang membuka dokumen lama tersebut saat panggilan dia—yang sebetulnya untuk Noah—berbunyi di ponselnya. "Bagus, jika memang benar begitu. Ada untungnya juga pria sok pintar itu meretas nomor ayah. Aku jadi tahu siapa dalang di balik kematian kakek," gumam Vallery. "Dan, ya ... si tua bangka Rhys ... meminta cucunya menikahiku untuk apa? Penebusan dosa? Oh ... mungkin dia pikir aku bisa jadi tawanan mereka agar rahasia ini tetap terjaga. Dia pikir aku tidak akan melakukan apa-apa setelah mengetahuinya, begitu? Atau si kakek lupa aku ini cucu dari orang yang dia lenyapkan? Is he senile?" Vallery mendecih setelah kepalanya terasa berat dengan segala spekulasi yang muncul. Masih menggulir mouse dan fokus pada layar, derap langkah mendekat tertangkap rungu Vallery. Detak jantungnya sudah tidak terkontrol lagi, seakan memompa darah lebih banyak ke kepala, tapi tidak pada kaki. Vallery tidak mampu bergerak meski rasanya ingin kabur. Yang dia lakukan hanya mengusap bulir halus yang membasahi sebagian wajah, tanpa beranjak sedikitpun. "Siapa yang datang?" lirihnya. *** Notifikasi pada ponsel Hadley berbunyi. Seseorang menyentuh sensor yang ada di pintu kamarnya, yakin itu Vallery. Dia lupa gadis itu di luar kamar dan pasti berkeliaran. Notifikasi kedua berbunyi setelah beberapa saat, Hadley lantas menoleh pada keberadaan Adric, menggerakkan alis tanda perintah. Adric yang paham segera keluar dari ruangan dengan cahaya minim tersebut. Meninggalkan Hadley yang baru memulai kegiatannya. Langkahnya tertuju pada gerbang besar dengan sensor khusus. Tanpa menyentuh, tanpa suara, hanya ada layar berukuran mini di salah satu bagian pintu besi, gerbang tersebut pun seolah tahu kapan harus memberi jalan. Lari ke bagian elevator. Adric tergesa memasuki kabin untuk bisa ke lantai paling atas. Lumayan memakan waktu untuk hal yang urgent. “Gadis itu tidak seharusnya dibiarkan sendirian,” gumam Adric. Dia berlari begitu sampai di lantai puncak. Adric memeriksa setiap ruangan hingga sampai pada keberadaan Vallery. Istri Hadley berada di ruang ‘terlarang’, yang bahkan Adric saja belum pernah masuk sendiri ke dalam sana. Dia hanya akan berada di tempat itu jika Hadley mengizinkan. “Berani sekali gadis ini. Apa saja yang sudah dia lihat?” Adric mendorong pintu perlahan. Sempat tercenung sesaat ketika menyentuh benda akses tersebut. “Hadley … ceroboh sekali kamu? Apa memiliki istri, berarti membuat seseorang menjadi bodoh?” Decaknya seraya menatap layar besar yang memperlihatkan adegan di ruang bawah tanah. Tungkai Adric mengayun lebih dekat. Vallery tidak bisa menghindar lagi. Berdiri mematung di sisi singgasana suaminya. Layar masih menyala. Adric memutar tubuh di belakang Vallery. Sedikit membungkuk hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Vallery. “Apa yang kamu lihat?” bisik Adric. Wajahnya berada sangat dekat dengan gadis itu. Aroma perpaduan vanilla, marshmallow, dan amber, menyapa penciuman Adric. “A-apa?” Vallery gugup. Salahnya, dia menyentuh pintu kamar Hadley tadi, dan itu pasti memberi sinyal darurat. Atau memang benar jika komputer di hadapannya pun terpasang alarm? Vallery memelototi layar. “Jangan bermain-main dengan Hadley atau kau bisa … .” Vallery mendongak ketika Adric menggerakkan tangan menggarisi lehernya. “Tapi apa yang bisa kamu berikan padaku? Mungkin aku akan menutup mulut. Hadley tidak akan tahu,” bisik Adric lagi. Vallery menoleh, menatap pria di belakangnya. Ada seraut wajah pengkhianat di sana. Dia tersenyum kecil. “Apa yang kamu mau?” “Kamu.” Vallery tidak menjawab. Pundak naik-turun seiring tarikan napas. Dia menyunggingkan senyum mengejek, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Adric yang tak lama mengikutinya dari belakang. Adric mendongak pada benda yang ada di pojok ruangan. "Sial!" *** Urusan Hadley selesai, dua ajudan yang menjadi eksekutor menuntaskan sekaligus membereskan semua kekacauan. Sementara itu, dia tergesa naik ke lantai atas. Notifikasi darurat tadi bukan hanya berasal dari kamarnya, melainkan juga dari komputer. "Oh! s**t! Sepertinya aku lupa mengunci pintu." Keluar dari kabin lift, Adric sudah berdiri di hadapannya. "Bagaimana?" Langsung saja Hadley melayangkan tanya. "Istri Tuan berada di ruang terlarang saat saya datang." "Apa! Apa yang dia lakukan?" "Belum ada yang terjadi kecuali ... ." "Apa?" Hadley tidak sabar. Dia sudah berjalan menuju kamar Vallery. "Dia melihat layar yang terhubung ke ruang bawah tanah." Adric tersenyum kecil. "Tidak ada lagi yang dia lakukan selain itu." Hadley menghentikan langkah. "Benarkah? Kau yakin?" "Dia sempat berdiri di dekat meja kerja." Hadley kembali melangkah. Mendorong pintu kamar tempat Vallery berada yang tidak tertutup rapat. Sengaja mungkin, supaya dia bisa bebas keluar lagi. Sejenak, putra Ethan Rhys hanya menatap wanita di hadapannya. Menyelami makna dari mimik wajah Vallery. Hadley merasa, wanita yang dia nikahi terlalu berani. Tak ada mimik takut, atau merasa perlu menyelamatkan diri. Dia benar-benar tidak melihat apa pun seperti yang dikatakan Adric atau hanya bersandiwara. Batin Hadley. Sebelah alisnya terangkat. "Siapa yang sedang membohongiku? Sensor terdeteksi tapi Adric mengatakan hal lain?" gumam Hadley. "Kamu mengatakan sesuatu?" Persetan dengan amanat sang ayah. Vallery menegur lebih dulu laki-laki yang malah mematung di hadapannya itu. Jarak sekitar enam langkah, membuat Vallery tidak dapat mendengar gumaman apa yang keluar dari mulut Hadley. "Tidak! Ini sudah malam, tidurlah." Terdengar perhatian, tapi tidak bagi Vallery yang melihat bagaimana cara Hadley mengatakannya. Dia langsung keluar lagi meninggalkan Vallery. Namun, baru saja hendak pergi tidur, suara dari luar menginterupsi. "Rhea? Untuk apa dia datang?" "Tidak tahu, Tuan. Dia menunggu di kamar seperti biasa. Sebaiknya temui dia dan selesaikan." "Kau mengaturku?!" "Maaf." Sepeninggal Hadley, Adric memanggil Vallery dari luar. "Kau belum tidur?" tanyanya dari luar kamar setelah Vallery menyahut. "Dengar ... sementara ini aku tidak bisa mengeluarkanmu. Tapi, perlu kau tau ... jika yang datang itu ... kekasih Hadley. Rhea namanya." Hening. Vallery tidak segera merespon. "Kau mendengarkan perkataanku?" "Apa itu perlu aku tahu? Aku tidak peduli." Vallery berdecih. "Kau yakin?" "Dengar ... siapa namamu? Adric?" Vallery menekan intonasi saat berhasil mengingat nama asisten pribadi Hadley tersebut. "Kalau kamu memberitahuku tentang kekasih Hadley hanya untuk mendapat kesepakatan denganku. Lupakan itu! Karena aku bisa melakukan apa pun sendiri tanpa bantuan darimu. Aku tidak tahu apa tujuanmu berdiri di belakang Hadley dan berusaha menusuknya. Tapi, aku tidak peduli itu. Jalankan saja misimu dan aku dengan rencanaku. Mengerti?" Adric tergelak mendengar ucapan Vallery. "Dasar keras kepala. Kau tidak akan bertahan terlalu lama, lihat saja saat kau mulai menyerah. Akan kupastikan aku orang pertama yang kau temui."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN