Kilas Balik Rhea

1445 Kata
Sebetulnya saat Rhea kembali dari kamar Vallery, dia berniat langsung pulang kalau saja tak sengaja menyenggol Spy Camera yang dipasang Hadley. Rhea tercengang melihatnya. Kepala yang tadinya limbung akibat pengaruh alkohol mendadak jadi segar. Dia seketika ingat sebelum memaksa menemui Hadley, Martinez sempat mengatakan sesuatu. "Kalau kau memaksa tetap ingin bersama Hadley. Jebak dia, Rhea. Buat nama baiknya hancur! Sampai dia mau menikahimu." Baik Hadley maupun kendaraannya tidak ada. Rhea sudah memastikannya sendiri. Namun, dia tak kehabisan akal. Seperti menemukan oase di tengah gurun, dahaga Rhea hampir terlumasi ketika ingatannya tertuju pada Adric. Pria itu bisa dia manfaatkan. Mengirim pesan dan meminta Adric datang. Rhea seketika langsung bergelayut manja di leher pria 33 tahun itu. Mengecup singkat bibirnya tanpa penolakan dari Adric. Tentu saja. Laki-laki mana yang mau menolak. Pijakan yang dihasilkan dari dua pasang alas kaki menimbulkan suara. Tanpa menghentikan cumbuan, keduanya saling menuntun hingga ke atas tempat tidur. Rhea sudah menarik dressnya ke atas, menyisakan bra hitam yang kontras dengan kulit putihnya serta CD warna senada. Adric pula tak kalah gesit membuka kancing kemeja. Beralih pada gasper; mananggalkan celana. Gerakan-gerakan panas terjadi di atas tempat tidur queen size tanpa pernah Adric sadar perbuatannya terekam dan di awasi kamera. Dan tanpa Rhea tahu, Hadley melakukan hal yang sama dengan Vallery untuk pertama kalinya. *** Tubuh Hadley yang terhuyung ke depan berhasil ditangkap dengan baik oleh seorang pria. Adric melotot tajam begitu menyadari siapa pria tersebut. Pengawal yang dia tumbalkan. Ternyata benar, pria itu tidak Hadley bunuh. Setelah menolong Hadley dan memastikan tuannya aman, pria itu menodongkan senjata pada Adric. “Kau!” Adric menggeram; rahangnya mengeras. Baru saja Adric hendak mengeluarkan pistol, dua pengawal lain memukul Adric dari belakang. Sebelum kesadarannya menurun, Adric masih bisa mendengar Hadley bicara. Tuan yang dia layani selama kurang-lebih 5 tahun terakhir itu mendekat setelah upaya memulihkan diri dari pukulannya. Adric mengerang sebab saat ini justru dia yang merasakan kesakitan melebihi Hadley. Tangan kanannya memegang kepala, menanggalkan pistol yang semula dia genggam. "Mempunyai istri bukan membuatku semakin bodoh.” Hadley mengataka itu seolah tahu Adric pernah mengejeknya demikian. “Tapi sebaliknya, Vallery membuatku semakin waspada, semakin hati-hati, dan sadar siapa dirimu. Aku tau kamu mengincarnya setelah Rhea, aku tau kamu yang mencelakai kami, dan ... ." Hadley menjeda kalimat. "Tidak ada lagi yang bisa kau ambil dariku, baik aset maupun Vallery. Tujuanmu juga Maura Vale harus kuakhiri sampai di sini." Adric menegang begitu nama Maura disebut. Hadley sudah tahu? Benar dugaannya tentang kamera itu, Hadley yang menaruh di tempat Maura. "Kau terkejut? Dia akan menyusul setelah dirimu lebih dulu." Hadley menodongkan senjata. Namun, baru saja pelatuk akan ditekan kuat, seorang pengawal datang dan berbisik pada Hadley. “Untuk sementara kau selamat!” Hadley melangkahkan kaki keluar dari area bawah tanah menuju lantai dasar kediamannya. Sudah ada Gianna di sana menatap berang. Ethan dan juga Rhys turut serta. Hadley mengayunkan lagi tungkainya setelah sempat berhenti. “Aku susah payah membangun citra baik untukmu dan untuk keluarga ini. Tapi, kau dengan seenaknya menghancurkan semuanya, Hadley!” Tidak sabar menunggu Hadley sampai ke tempatnya, Gianna berdiri dan menghampiri putranya itu. “Apa yang membuat Mom, begitu marah padaku?” tanya Hadley menatap intens ke arah ibunya. Beralih pada Ethan, lalu pada kakeknya. Plak! Tamparan mendarat di pipi Hadley tanpa tahu di mana letak kesalahannya. Ethan terkejut pun dengan Rhys. Ayah Hadley menghampiri. “Jangan keterlaluan seperti ini, Gianna!” “Dia yang keterlaluan! Dia yang tidak menghargai usahaku. Dia sudah punya Vallery, aku mengatur pernikahan mereka. Aku membujuk ayah agar ayah menjodohkan mereka daripada dia terus bersama Rhea. Tapi, anak ini masih saja menjalin hubungan dengan putri Martinez itu.” Hadley menoleh pada Rhys yang hanya mampu menahan napas. Gianna terlalu banyak bicara saat marah. “Jadi, yang ingin aku menikahi Vallery itu Mom? Bukan Kakek?” Hadley menatap lurus pada sosok yang hanya mampu duduk di kursi roda. "Yang tidak menyukai Rhea juga, Mom? Why?” “Aku memang tidak menyukai gadis itu. Tapi, kakekmu juga tidak akan setuju kau menikahi putri Martinez sebab—” “Cukup, Gianna!” Ethan menarik kasar lengan istrinya. Vallery berdiri kaku sejak tamparan mendarat di pipi suaminya. Dia tidak menyangka akan mendapati kegaduhan seperti ini saat tiba di rumah. "Sebab ... sebab apa?" Hadley memegang pundak Gianna seraya menoleh lagi pada Rhys. "Lupakan itu! Kalian datang dan marah padaku karena apa? Apa kesalahanku?" "Kamu lihat sendiri!" Gianna beranjak mendekat pada keberadaan remote televisi. Menekan tombol power dan benda berukuran 42 inch itu pun menyala. Gianna mengalihkan channel satu ke yang lain mencari berita tentang Hadley. "Lihat!" ulangnya begitu menemukan apa yang ingin dia tunjukkan. Video berdurasi 45 menit itu tersebar di dunia maya hingga masuk pemberitaan. Menyeret nama Hadley dan Rhea Martinez. Di dalam Video tersebut, laki-laki yang bersama Rhea tidak ditampilkan dengan jelas alias di-blur. Hadley tahu itu Adric. Perawakannya dan Adric memang terbilang hampir sama. Memiliki tubuh tinggi dan tegap. Hingga dari belakanh siapa pun akan percaya jika itu Hadley. Putra Ethan menghela napas; beralih melirik Vallery yang masih menjaga jarak dengannya, tapi turut menyaksikan apa yang ditampilkan di layar. Vallery meringis geli. Melihat layar dan Hadley bergantian. "Kau lihat itu! Kurang jelas apa lagi?! Ayahmu baru saja berhasil masuk ke Kedutaan Besar. Namanya tercoreng gara-gara ulahmu!" Gianna kembali bersuara, layar kemudian dia matikan. Melempar remote televisi hingga ke dekat Vallery. Sementara Hadley menggerakkan ekor matanya pada salah satu pengawal yang langsung dibalas anggukkan dari pria bertubuh kekar itu. Vallery berjongkok mengambil apa yang dibuang ibu mertuanya. Langkahnya mengayun lebih dekat pada tiga orang yang berdiri tegang. Menghela napas pendek, Vallery menuntun Gianna untuk duduk, tapi wanita yang melahirkan Hadley itu menolak. "Vallery, Sayang. Maafkan Hadley, ya, Nak. Tapi, mungkin itu video lama. Hadley ceroboh menyimpan dokumentasi pribadi sampai tersebar." Vallery mengukir senyum begitu mendengar kata maaf dari Gianna. "Aku tidak marah pada siapa pun. Sebab aku tau itu bukan putramu." Gianna menoleh heran. "Maksudnya?" Sebelum kembali menjawab, Vallery melirik Hadley yang juga sedang menatap ke arahnya. "Hadley bersamaku kemarin malam." Sampai akhirnya, bersamaan dengan kalimat pengakuan, mata Vallery menangkap kedatangan Adric dalam keadaan payah. Dia diikat dan dalam penjagaan ketat anak buah Hadley. "Aku bisa menjamin pria yang bersama Rhea itu bukan putramu." Kali ini, Vallery melihat Gianna dan Adric bergantian. "Maksudmu ... kalian." Gianna menyibak kerah baju yang Vallery gunakan. Ada tanda kissmark jelas di sana yang Vallery sembunyikan. Dia menahan senyum sambil melirik Hadley yang kontan mengangkat alis. "Hadley ... bereskan kekacauan ini secepatnya!" Ethan yang sedari tadi diam langsung berkomando. "Tunggu! Kalau bukan Hadley, lalu siapa?" tanya Gianna. Baik Hadley maupun Vallery kompak mengalihkan pandangannya pada Adric. "Dasar gadis bodoh. Kau akan menyesalinya Vallery! Jangan jadi buta! Buka matamu dan lihat siapa Hadley sebenarnya!" teriak Adric. "Diam kau!" Hadley menggertak. Sementara Vallery merasa bingung sekaligus penasaran dengan maksud dari ucapan Adric. "Ada yang perlu kalian ketahui. Pria ini ... selain dia yang ada di video, dia juga seorang pengkhianat!" ucap Hadley sambil menuding Adric dengan telunjuknya. *** Pasca kejadian tadi, Adric kembali dibawa ke penjara bawah tanah. Sementara orangtua Hadley pamit pulang. Ketukan pada daun pintu mengalihkan atensi Hadley dari segelas bourbon. Meraih ponsel menyentuh icon unlock dan pintu terbuka memperlihatkan sosok Vallery di sana. "Aku boleh masuk?" tanyanya sebelum melangkah. Vallery menyematkan senyum kaku saat tatapan Hadley menelisik dari atas hingga ke bawah. "Heum." Menjawab dengan gumamam. Hadley menggerakkan kepala tanda mempersilakan. Langkah ragu diambil Vallery. Untuk pertama kalinya dia masuk ke ruang pribadi Hadley. Hawa dingin terasa bukan hanya dari alat pendingin udara, melainkan dari keheningan yang terjadi serta tatapan tajam Hadley. "Aku mau menanyakan sesuatu." "Apa yang membawamu ke sini?" Dua kalimat itu terlontar hampir berbarengan. Alis Hadley terangkat sedikit kemudian pintu tertutup bersamaan dengan Vallery menoleh ke arah benda tersebut. "Apa itu?" "Semua yang kau katakan di bawah soal Adric. Boleh aku tau siapa dia sebenarnya?" Pergerakan bibir Vallery taknlepas dari perhatian Hadley. Di saat seperti ini, pikirannya justru tidak bisa diajak kerja sama. Terlalu liar. Hadley teringan moment kemarin malam. "Kau mendengarku?" tanya Vallery mengulang sebab Hadley hanya diam. "Owh, ya! Tentu. Adric ... ." Hadley menjeda kalimat. "Aku akan memberitahumu nanti." "Nanti?" "Ikut aku besok," imbuh Hadley. "Sekarang ... ." "Se-sekarang, apa." Tidak dapat Vallery mengerti kenapa dia seakan makin gugup ditatap Hadley sedemikian intens. Vallery meneguk saliva saat Hadley mulai bergerak maju, mendekatinya. "Kau suka ini." Hadley menyodorkan gelas kecil berisi bourbon ke hadapan Vallery. Wanita itu menggelengkan kepala. "Kamu tidak suka atau belum pernah mencoba." "Belum pernah mencoba. Apa rasanya?" Tangan Vallery sudah terangkat hampir mengambil alih gelas. "Jangan kalau kamu tidak berkenan meminumnya." Cegah Hadley. "Aku ... mau coba." Vallery benar-benar mengambil gelas tersebut. Cairan pekat berwarna deep amber meluncur bebas ke tenggorokannya. "Ouh, ini sedikit pedas. Ternggorokanku terbakar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN